Di Rumah Aja? Ini Loh Tiga Tips Spiritual Saat Terjadi Penyakit Mewabah

0
1476

Bincangsyariah.Com – Jumlah pengidap virus Corona (Covid-19) di Indonesia semakin bertambah. Juru bicara pemerintah penanganan Corona, Ahmad Yurianto, menuturkan bahwa sejak 2 Maret hingga hari ini (22/03), jumlah pengidap Corona telah mencapai angka 450 kasus. Bahkan berdasarkan laman pemerintah, covid19.go.id, virus Corona telah menyebar ke 50% provinsi di Indonesia. Tentu ini merupakan angka yang sangat mengkhawatirkan. (Baca: Ramai Virus Corona, Ini Perdebatan Ulama tentang Penyakit Menular)

Sekilas, virus Corona terlihat seperti virus yang tidak mematikan, mengingat gejala-gejalanya hanya seperti demam, flu, batuk, pilek, sakit tenggorokan dan sakit kepala. Namun siapa sangka, penyakit tersebut mampu memakan korban jiwa hingga ribuan orang, bahkan di Italia sudah mencapai angka 4.000 orang meninggal dunia. (Baca: Macam-Macam Penyakit Menular di Masa Rasulullah)

Ahli medis dan pemerintah menghimbau masyarakat yang dihinggapi gejala-gejala tersebut untuk merujuk ke rumah sakit yang direkomendasikan untuk menjalani perawatan dan karantina. Nantinya, ahli medis akan memberikan obat pereda demam, menganjurkan penderita untuk istirahat dan memperbanyak minum air putih.

Di samping ikhtiar (usaha) yang harus kita lakukan ketika dihinggapi gejala-gejala virus Corona, sebagai seorang Muslim, kita patut untuk melakukan langkah-langkah lainnya yang juga tak kalah penting, yaitu langkah spiritual. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam karyanya Badzl al-Ma’un fi Fadl al-Tha’un menyebutkan beberapa langkah spiritual yang harus kita tempuh jika kita terkena wabah penyakit menular.

Pertama, memohon kesembuhan dan perlindungan diri.

Langkah pertama yang harus kita lakukan ketika dihinggapi penyakit menular adalah berdoa atau memohon kepada Allah swt. agar diberikan kesembuhan dan perlindungan dari penyakit yang sedang di derita. Allah swt. berfirman:

أُدْعُوْنِيْ أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Berdoalah kepada-Ku, maka Aku akan kabulkan doamu. (Q.S. Ghafir [40]: 60)

Baca Juga :  Tidak Berpuasa Karena Takut Imun Menurun, Bolehkah?

Begitu pula Nabi saw. menganjurkan kepada Ibn ‘Abbas untuk memperbanyak doa kesembuhan dari penyakit.

يَا ابْنَ عَبَّاسٍ أَكْثِرْ مِنَ الدُّعَاءِ بِالعَافِيَةِ. رواه الحاكم

“Wahai Ibn ‘Abbas, perbanyaklah doa kesembuhan dari penyakit.” (HR. al-Hakim)

Kedua, Sabar dari kondisi yang tengah dialami, dan Ridha terhadap putusan Allah

Langkah berikutnya yang harus dilakukan oleh seorang muslim yang terjangkit penyakit menular adalah sabar terhadap penyakit yang diderita dan Ridha terhadap putusan-Nya, tidak perlu untuk menyesalinya. Nabi saw. bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ. رواه مسلم

“Sungguh mengagumkan perkara orang mu`min itu. Semua kondisinya dianggap baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mu`min, Bila diberi kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya.” (HR. Muslim)

 

Ketiga, Husnuz Zan (berbaik sangka) kepada Allah

Husnuz Zan kepada Allah merupakan langkah yang harus kita lakukan. Jangan sampai penyakit yang Allah berikan membuat kita menuduh Allah telah berbuat jahat. Kita mesti berbaik sangka, apa yang Allah berikan merupakan yang terbaik untuk kita. Nabi saw. bersabda:

سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ قَالَ وَمَنْ قَالَهَا مِنْ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَمَنْ قَالَهَا مِنْ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ. رواه البخاري

Baca Juga :  Lukman Hakim Saefuddin: Moderasi Beragama Keniscayaan untuk Hindari Penafsiran yang Ekstrem

 “Sesungguhnya istighfar yang paling baik adalah kamu mengucapkan: “Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui dosaku kepada-Mu dan aku akui nikmat-Mu kepadaku, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain-Mu.” Beliau bersabda: “Jika ia mengucapkan di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk dari penghuni surga. Dan jika ia membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk dari penghuni surga.” (HR. al-Bukhari)

Demikianlah beberapa langkah spiritual yang harus kita lakukan sebagai seorang muslim ketika terkena wabah penyakit menular menurut Ibn Hajar al-Asqalani. Di samping itu, sebagai langkah tambahan. Tawakkal juga perlu kita tanamkan dalam diri kita. Memasrahkan segalanya kepada Allah, sebab segala sesuatu terjadi atas kuasa-Nya. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here