BincangSyariah.Com – Amarah adalah bagian tak terpisahkan dari diri manusia, ini muncul karena banyak faktor di antaranya disebabkan karena perdebatan, kesombongan, kebanggaan terhadap diri, berselisih pendapat, dan lain sebagainya.

Menurut Muhammad bin Ibrahim al-Tuwaijiri sebagaimana dikutip dalam Mausu’ah Fiqh al-Qalb, marah adalah ghalayan damm al-qalb thalaban lil intiqam yakni bergejolaknya darah di dalam hati manusia, yang mendorong seseorang untuk menuntut balas.

Ketika amarah tidak terkendali, seseorang akan sangat mudah melakukan hal-hal yang tidak masuk akal, lantas bagaimana ketika kemarahan itu muncul? Bagaimana cara menangkalnya?

Ada dua cara yang direkomendasikan oleh Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H) untuk meredam amarah. Pertama, membekali diri dengan pengetahuan dan yang kedua adalah dengan mengamalkan beberapa hal yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw.

Membekali diri dengan pengetahuan bisa dilakukan sebelum amarah itu muncul dan memunculkan pengetahuan itu ketika kemarahan mencapai titik nadirnya. Adapun pengetahuan yang dimaksudkan oleh al-Ghazali adalah yang pertama pengetahuan bahwa menahan amarah memiliki keutamaan yang luar biasa, demikian pula dengan memaafkan, bersabar, dan menahan diri, semua itu akan berbuah pahala.

Dalam Ihya ‘Ulum al-Din, al-Ghazali menyontohkan kisah ‘Umar bin ‘Abdul Aziz yang suatu ketika marah kepada seorang laki-laki dan memerintahkan seseorang untuk memukulnya, tiba-tiba seseorang membacakan kutipan dari firman Allah surah Ali ‘Imran: 134

  ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٣٤

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Seketika ‘Umar bin ‘Abdul Aziz mengurungkan niatnya untuk memukul orang tersebut dan memaafkan serta melepaskannya. Kesadaran bahwa menahan amarah adalah sesuatu yang dicintai oleh Allah menjadikan ‘Umar terhenyak dan berhenti seketika.

Baca Juga :  Apakah Kesabaran Itu Ada Batasnya?

Pengetahuan  yang kedua yang harus dimiliki seseorang adalah bahwa marah kepada seseorang akan mendatangkan balasan dari Allah SWT. Hal ini dikarenakan amarah seringkali mendatangkan kerusakan, dan tentu saja akan dibalas oleh Allah di akhirat nanti.

Dalam sebuah riwayat yang lemah Rasulullah Saw pernah mengutus seorang pemuda untuk suatu keperluan namun ia terlambat, sehingga Rasulullah Saw mengatakan, “laula al-qishah la auja’tuka: seandainya bukan karena balasan Allah di akhirat, maka aku akan menyiksamu.”

Yang ketiga adalah seseorang harus sadar bahwa marah menimbulkan dampak-dampak yang destruktif di dunia. Ini bisa berupa permusuhan yang semakin meluas antar sesama, merusak pertemanan, dan banyak lagi yang lainnya.

Keempat, seseorang menurut al-Ghazali bisa membayangkan dirinya ketika marah yang menyerupai anjing yang kelaparan atau binatang buas yang sangat liar atau memilih untuk sabar yang tentu saja hal itu menyerupai sikap para wali Allah, rasul-rasul-Nya para ulama dan orang-orang yang dekat dengan Allah.

Di sini al-Ghazali hendak menyadarkan orang yang di puncak kemarahannya agar mampu berfikir logis, bahwa marah bisa merubah mereka seperti anjing kelaparan atau binatang buas, oleh sebab itu tentu saja orang yang sehat akalnya akan memilih untuk bersabar yang menyerupai wali-wali Allah.

Kelima, pikirkan atu renungkanlah apa saja yang membuat kemarahan itu muncul, tentu saja kemarahan muncul dari pengaruh setan. ini justru akan membuat seseorang jatuh ke dalam kehinaan dan kerendahan di mata orang lain.

Dan yang keenam, kemarahan seseorang biasanya disebabkan karena sesuatu berjalan di luar kendali Allah yang tidak sesuai dengan espektasinya, oleh sebab itu bukankah berfikir bahwa sesuatu yang dikehendaki Allah lebih baik dibandingkan yang ia kehendaki? Dan layakkah seseorang meluapkan kemarahannya karena itu?

Baca Juga :  Dua Belas Posisi Nabi Muhammad dalam Islam

Keenam hal di atas adalah cara bagaimana seseorang mengaktifkan pengetahuannya agar mampu meredam amarahnya. Sedikit disimpulkan bahwa cara-cara di atas digunakan dengan mengaktifkan kembali akal sehat dan logika yang lurus, karena orang yang marah cenderung dikuasai oleh hawa nafsu dan syahwat.

Sedangkan cara yang kedua adalah dengan mengamalkan apa yang telah disarankan oleh Nabi Muhammad Saw sebagaimana dalam banyak riwayat.

Pertama adalah dengan mengucapkan kalimat mu’awwidzah (a’udzubillahi minasy syaithanirrajim: aku berlindung dari godaan setan yang terkutuk) dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa setiap kali ‘Aisyah RA di puncak kemarahannya, beliau memegang hidung ‘Aisyah dan mengatakan,

يَا عُوَيْشُ قُوْلِي اَللَّهُمَّ رَبَّ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ اِغْفِرْ لِي ذَنْبِيْ وَأَذْهِبْ غَيْظِ قَلْبِي وَأَجِرْنِي مِنْ مُضِلَّاتِ الْفِتَنِ

“Wahai ‘Aisyah kecil, katakanlah: Wahai Tuhan Nabi Muhammad, ampunilah dosaku, hilangkanlah kemarahan dalam hatiku dan selamatkanla aku dari fitnah-fitnah yang menyesatkan.”

Kedua adalah dengan melakukan beberapa saran dalam hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Dzar dalam Sunan Abi Dawud, yakni merubah posisi, jika ia berdiri hendaklah ia duduk, dan jika ia duduk hendaklah ia berbaring.

Atau bisa juga dilakukan dengan berwudhu sebagaimana dalam hadis Nabi Saw yang diriwayatkan oleh Abu Wail al-Qash dalam Sunan Abi Dawud berikut.

إِنَّ الْغَضَبَ مِنَ الشَّيْطَانِ ، وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنَ النَّارِ ، وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ ، فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Sesungguhnya marah adalah perbuatan setan, dan setan diciptakan dari api, sedangkan yang memadamkan api adalah air, oleh sebab itu maka apabila salah satu dari kalian marah maka hendaklah ia berwudhu.”

Demikianlah beberapa hal yang dapat menghilangkan dan meredam amarah kita, semoga dapat menginspirasi.

Baca Juga :  Rasul pun Jarang Ikut Perang

Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here