Tips Menghadapi Santri yang Tidak Betah di Pesantren

1
2742

BincangSyariah.Com – Bersamaan dengan tahun ajaran baru, biasanya masyarakat berbondong-bondong memondokkan anaknya. Lebih-lebih masyarakat pedesaan, hampir semua anaknya dipasrahkan pada pesantren.

Siswa yang berstatus santri baru, khususnya yang datang dari luar daerah, misalkan pesantren di Madura, memiliki tantangan sendiri untuk hidup di lingkungan baru. Sekian tahun hidup bersama keluarga, tiba-tiba harus jauh dari mereka. Lebih-lebih santri cilik, mondok sejak usia 7 tahun. Kata sebagian wali santri, “memang 7 tahun adalah usia lagi asyik-asyiknya main, tapi ini untuk kebaikan anak.”

Tantangan awal di pesantren adalah bagaimana agar hidup betah. Ketika sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan pesantren, maka mudah bagi dirinya untuk betah. Namun sebaliknya, ketika terus larut dan teringat pada kehidupan di rumah, maka perasaan akan selalu dihantui rasa was-was sehingga tidak betah di pesantren.

Akibatnya, karena terus kepikiran, banyak santri baru yang jatuh sakit. Sakitnya   dadakan. Karena sewaktu baru sampai pondok, masih ada orang rumah, ia sangat sehat. Lalu, tiba-tiba malam harinya badannya menjadi panas. Ada yang sampai menggigil, keluar keringat dingin. Bahkan ada yang dibuat-buat, di bawah ketiaknya diberi irisan bawang putih, sehingga suhu panas badannya naik.

Memang, ada sebagian yang sakit karena masih belum bisa beradaptasi dengan iklim atau cuaca pondok. Biasanya di rumah tidur pada kasur yang empuk, di pondok tidur di atas lantai. Di rumah lengkap dengan bantal dan selimut, di pondok satu bantal bertiga. Di rumah leluasa mandi dan makan, di pondok serba antri.

Ada juga yang memang tidak betah, selalu kepikiran pada orang rumah. Jalan setapak menuju rumahnya selalu terbayang-bayang. Bahkan ada yang nekat mau kabur dari pesantren. Santri baru model seperti ini yang membuat pengurus pesantren selalu berjaga diri, khawatir kabur.

Salah satu ciri santri yang tidak betah adalah mengucilkan diri dari teman-temannya. Biasanya ia akan menangis di pojok kamarnya. Kalau pemalu, biasanya nangis di kamar mandi. Bisa juga buka pintu lemarinya, lalu tidur-tiduran dengan kepala berbantal lemari. Lalu menangis pelan sambil memikirkan bagaimana cara kabur dari pondok.

Selain iklim daerah pesantren yang membuat tidak betah, terkadang aturan dan materi pesantren yang melatar belakanginya. Pesatnya kegiatan pesantren menjadi salah satu alasan santri baru yang tidak betah. Namun, hal ini pastinya subjektif. Karena tidak semua santri berpikiran seperti itu. Toh kegiatan pesantren bertujuan melatih mental dan kedisiplinan santrinya. Juga, pasti sudah hasil musyawarah dengan wali santri.

Tidak ada kegiatan pesantren yang perlu direvisi karena ada santri yang tidak betah. Sebaliknya, santrinya yang perlu direhabilitasi. Karena terkadang santri mondok disebabkan memiliki masalah di rumah. Bahkan terkadang dimondokkan karena orang tuanya sudah tidak kuat dan selalu meresahkan masyarakat.

Santri yang tidak betah jangan dibiarkan. Jangan sampai ia selalu menyendiri. Ajak jalan-jalan atau ngobrol di depan kamar. Bisa juga di lingkungan madrasah. Baik oleh pengurus pondok, atau teman kamarnya.

Jika tetap tidak betah, misalkan selalu menangis, apalagi sampai  minta diantar pulang, maka segera minta air barokah pengasuh. Harapannya dapat dikenal oleh pengasuh sehingga dikhususkan dalam doanya.

Air barokah pengasuh ini salah satu obat mujarab bagi santri yang tidak betah. Kebanyakan santri yang tidak betah di pondok, bisa menjadi betah sebab air barokah dari pengasuh. Air barokah yang dimaksud adalah air yang  didoakan oleh pengasuh.

Jika cara pertama ini masih belum berhasil mengusir rasa tidak betah santri baru, maka lakukan cara kedua, yaitu segera hubungi orang tuanya. Biar sinergisitas pengurus dan wali santri semakin kokoh dalam mengurus santri yang tidak betah.

Tentu, wali santri yang mendapat kabar anaknya tidak betah, mereka akan kebingungan. Jika di Madura, dapat dipastikan larinya ke kiai atau dukun yang bisa dan biasa menjadi washilah santri agar betah. Wali santri akan terus berikhtiar mencari jalan agar anaknya bisa betah di pondok.

Setelah ikhtiar, banyak wali santri yang berhasil mencarikan jalan agar anaknya bisa betah. Bagi wali santri, berapun biaya yang harus dikeluarkan, asal anak bisa betah mondok, pasti akan dibayar. Namanya juga orang tua, pasti menaruh harap besar pada pesantren untuk masa depan anaknya, khususnya dalam masalah keagamaan.

Baik pengurus ataupun wali santri, ketika anaknya tidak betah di pondok, janganlah sakiti fisik mereka. Lakukan beberapa pendekatan, utamanya lewat hati ke hati. Berilah stimulus agamis, jangan yang anarkis. Didoakan terus-menerus, bahkan kalau perlu ibunya puasa sunah, dihadiahkan untuk anaknya.

Syarat alim dan amil di pondok salah satunya adalah betah dulu. Ketika sudah betah di pondok, maka belajar dan ngajinya akan lebih maksimal. Memang benar tidak ada ceritanya orang akan betah di tempat asing dalam waktu sekejap. Butuh perjuangan dan kesungguhan hati. Jangankan santri, terkadang orang nikah yang ikut ke rumah mertua merasa tidak betah.

Santri yang tidak betah bukan harus diiming-imingi oleh wali santri untuk betah. Apalagi sampai dijanjikan akan dibelikan motor asal betah, malahan bukan tambah betah, melainkan semakin gerah di pondok. Wali santri tetap jalin komunikasi dengan pengurus, atau bisa langsung sowan ke pengasuh. Minta pendapat atau solusi bagaimana cara agar anaknya bisa betah.

Namun, wali santri harus introspeksi terlebih dahulu, mengapa anaknya bisa tidak betah. Jangan-jangan itu karma bagi dirinya. Artinya bagaimana waktu dirinya mondok dulu, betah atau tidak. Iya, jika memang dulu sering pulang pondok, wajar saja anaknya tidak betah. Tapi hal tersebut tidak perlu disampaikan pada anaknya.

Ada satu lagi cara yang sering dijalankan oleh teman-teman santri saat ada santri yang tidak betah. Terlepas dari penelitian ilmiah, cara ini banyak yang sukses. Yakni campuran air comberan.

Santri senior yang mengambil peran untuk hal ini. Langsung kebelakang kamar mandi santri, atau kamar mandi pengasuh, ambil sedikit aliran air comberan. Lalu campur dengan air botol. Tentunya jangan banyak-banyak, agar baunya tidak menyengat hidung. Bisa curiga santri tersebut.

Lalu, bagaimana status kesucian dari air tersebut? Karena kita dilarang untuk berobat, apalagi hanya makan atau minum, dari perkara yang haram atau najis. Untuk hal ini, yakni masalah kesucian air, dalam kaca mata fiqh, ada dua pendapat:

Pertama, air tersebut dihukumi najis. Karena air sedikit, yakni tidak sampai dua qullah, ketika dijatuhi barang najis, apalagi memang sengaja diberi najis, maka langsung menjadi najis. Baik dari salah sifatnya yang tiga, yakni warna, bau, dan rasanya berubah atau tidak, tetap dihukumi najis.

Pendapat ini merupakan ijtihad mayoritas Mazhab Syafi’iyah. Karena Nabi Muhammad Saw. bersabda:

اذا كان الماء قلتين لم يحمل الحدث

Ketika air sudah mencapai dua qullah, maka ia tidak menanggung hadats. (Dalam riwayat lain, lam yanjus. Tidak najis.) (Bulughul Marom, hal. 12)

Artinya, air d bawah dua qullah, maka ia menjadi najis ketika dijatuhi najis. Baik berubah atau tidak. Begitulah mafhum dari hadits yang datang dari Ibnu Umar ra.

Kedua, air tersebut tidak najis selama salah satu sifatnya belum berubah. Pendapat ini disampaikan oleh Mazhab Malikiyah. Sedikit-banyaknya air bukan menentukan kesuciannya, tapi berubah- tidaknya dari salah satu sifatnya yang tiga. Banyak tapi berubah, tentu najis. Sedikit, tapi tidak berubah, maka tetap suci.

Pendapat ini dikuatkan dengan hadits nabi berikut ini:

ان الما لا ينجسه شيئ الا ما غلب على ريحه او طعمه او لونه

Sesungguhnya air itu tidak bisa dinajiskan oleh suatu barang apapun, kecuali ia sampai mengubah (mengalahkan) pada bau, rasa, atau warnanya. (Bulughul Marom, hal. 11)

Dari pendapat pertama, dapat disimpulkan bahwa air sebotol yang dicampuri air najis adalah najis. Baik berubah atau tidak. Hanya saja, pendapat yang kedua tetap menghukumi suci, dengan syarat tidak berubah. (Lihat Ibanatul Ahkam, juz satu)

Artinya, jika ditanya suci atau tidaknya air “sarat” betah yang dicampuri air comberan, jawabannya bisa suci atau tidak. Tergantung mau berkiblat pada pendapat imam mazhab yang mana. Hanya saja, sekali lagi, ini tidak dibuktikan secara ilmiah, namun banyak yang membuahkan hasil. Santri baru yang tidak betah bisa betah setelah minum air “campuran” tersebut.

Dari pribadi penulis, cara ini tidak disarankan pada santri yang lain. Hanya berbagi pengalaman mengurusi santri yang tidak betah di PP. Mambaul Ulum Ganding, pondok penulis. Karena sekali lagi, ini belum dibuktikan secara ilmiah.

Simpulan akhir, santri yang tidak betah pasti ada penawarnya. Kecuali Allah Swt. berkehendak lain. Namun, usaha wali santri dan pengurus pondok tidak akan sia-sia, tetap bernilai dihadapan Allah Swt. Semoga semua santri yang masih belum betah di pondok, Allah Swt. kasih ketenangan dalam hatinya dan kesabaran pada pengurus dan wali santrinya. Amin. Wallahua’lam.

100%

1 KOMENTAR

  1. […] Pesantren juga diibaratkan seperti rumah sakit. Sama-sama mengurusi dan mengobati orang sakit. Bedanya kalau rumah sakit mengobati fisik sedangakan pesantren mengobati psikis. Pasien yang pergi periksa ke dokter, adakalanya sembuh dan juga adakalanya tetap sakit. “Minumlah obat 3 kali sehari”, biasanya saran dokter begitu. “Shalatlah sehari lima waktu dengan berjamaah”, saran kiai. (Tips Menghadapi Santri yang Tidak Betah di Pesantren) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here