Belajar dari Nabi Ibrahim Cara Menasihati Orang yang Salah Arah dengan Lemah Lembut

0
1576

BincangSyariah.Com – Kita sudah sepantsnya untuk saling menasihati sesama makhluk dalam kebaikan. Dalam surah Al – Asr Allah berfirman yang artinya ” saling memberi nasehat dengan kesabaran “. (Tafsir Surah al-‘Ashr; Belajar Menghargai Waktu Cerminan Mukmin Sejati) Semua manusia rugi kecuali beriman, beramal sholeh, dan saling menasihati. Allah akan menyelamatkan orang-orang yang saling menasihati dari adzab yang turun. Dengan demikian, saat kita memberikan atau saling menasihati artinya kita mencegah suatu kemungkaran. Karena sebaik-baik perkataan adalah nasehat

Satu hal yang perlu diperhatikan saat kita hendak memberikan nasehat kepada sesama adalah etika. Etika diperlukan agar nasehat bisa tersampaikan dengan baik dan tidak menyakitkan orang lain. Beberapa  tips yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim ketika menasihati layak kita jadikan tauladan. Apa sajakah itu?

Pertama adalah menyapa dengan panggilan yang paling baik. Dengan menghadirkan panggilan yang terbaik, akan muncul pengaruh yang sangat baik untuknya. Penelitian yang dilakukan oleh Harvard Law School menyatakan bahwa kata-kata positif atau panggilan yang baik itu  memiliki efek dalam perilaku dan keputusan yang dibuat oleh seseorang.

Hal tersebut dapat membuat munculnya perasaan positif yang menyenangkan dan menenangkan pikiran. Layaknya ketika memberikan nasehat kepada aahnya, Nabi Ibrahim memanggil ayahnya dengan sebutan “Ya Abati” yang artinya hai ayah kesayanganku, bukan sekedar “Ya Abi” yang bermakna hai ayahku

Kedua adalah Tidak menvonis nasib orang lain pasti celaka, melainkankita  bisa menggunakan kalimat yang lebih lembut. Yang demikian agar sang penerima nasehat merasakan betapa luasnya rahmat Allah, bukan putus asa dan terlanjur jelek di sisi-Nya.  yang demikian dicontohkan oleh Nabi Ibrahim ketika menasihati ayahnya yang non-Muslim dengan kalimat “khawatir”, tidak langsung “celaka” atau “murka”

Baca Juga :  Benarkah Nabi Ishak yang Dikorbankan, Bukan Ismail?

Ketiga adalah mengingatkan bahwa Allah adalah Maha Pengasih. Tujuannya adalah sang penerima nasehat tidak putus asa. Melainkan dengan nasehat tersebut ia akan mendapatkan secervah harapan terang yang akan menunjukkan ia pada jalan yang benar.

Saat Nabi Ibrahim mengingatkan ayahnya, Nabi Ibrahim menyebut adzab dari Ar Rahman (yang Maha Pengasih), bukan adzab yang pedih. Nabi Ibrahim sengaja memilih Ar Rahman daripada Al jabbar (Yang Memiliki Kegagahan) atau Al Muntaqim (Yang Maha Pemberi Balasan).

Beberapa tips memberi nasehat ala Nabi Ibrahim tersebut terangkum dalam Al Qur’an yaitu QS Maryam ayat 45. Dalam ayat tersebut Nabi Ibrahim memulai nasehatnya dengan memanggi ayahnya menggunakan panggilang terbaik, tidak langsung menvonis ayahnya celaka, dan juga tidak membuatnya celaka.  Ayat yang menggambarkan hal tersebut adalah sebagai berikut:

يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَٰنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا

Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi seitan“.

Ayat tersebut memberikan makna bahwa kemusyrikan dan kedurhakaan ayah Nabi Ibarahim terhadap apa yang diperintahkan oleh  Allah (Menyembah-Nya semata dan tidak menyekutukan­Nya dengan sesuatu pun) menjadikan dirinya berkawan dengan setan.

Dalam Tafsir Ibn Kastir disebutkan pula bahwa ia tidak mempunyai pelindung dan tidak pula penolong, serta tidak penjamin selain iblis. Padahal iblis tidak dapat melakukannya, juga yang lainnya; bahkan ketaatannya terhadap setan itulah yang mengakibat­kan kamu tertimpa azab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here