Tips Memberi Nama Bayi dalam Islam

0
1071

BincangSyariah.Com – Kehadiran buah hati adalah sesuatu yang ditunggu dan menimbulkan perasaan yang begitu bahagia dari pasangan yang menikah. Kehadiran sang jabang bayi adalah diantara sekian anugerah Allah yang harus disyukuri dengan mendidiknya sebaik mungkin, karena keturunan adalah amanah.

Kemudian, saat sang jabang bayi lahir, orang tua umumnya tak sabar memberikan nama yang kebanyakan sudah dipersiapkan sejak lama. Sepengetahuan penulis, ada orang yang mencoba memberikan nama, dengan semangat kehadiran anak adalah ‘simbol’ rasa kasih sayang pasangan tersebut, mereka memberi nama yang memiliki unsur gabungan dari nama kedua orangtuanya. Dan segenap kisah-kisah menarik dibalik rencana pasangan mempersiapkan anaknya.

Dalam Islam, memang tidak ada aturan yang ketat dalam memberikan nama anak selama nama tersebut tidak mengandung unsur yang mengarah kepada penghinaan terhadap sang buah hati itu sendiri, atau menunjukkan penyimpangan dari ketauhidan kepada Allah Swt. Berikut diantara tips memberi nama bayi dalam Islam,

Pertama, tidak memberi nama yang menggambarkan ia adalah hamba kepada selain Allah. Itu sebabnya, yang diperbolehkan adalah memberi nama ‘abd yang berarti hamba dan dinisbatkan kepada Allah atau sifat-sifat-Nya. Seperti ‘Abdurrahman, Abdullah, Abdul Aziz, dan sebagainya. Ini sesuai dengan hadis riwayat Shahih Muslim,

‏إنَّ أحَبَّ أسْمائكُمْ إلى اللّه عَزَّ وَجَلَّ عَبْدُ اللّه، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ

Sesungguhnya nama yang paling disukai Allah Swt. adalah Abdullah dan Abdurrahman.

Kedua, memberi nama yang baik. Maka tidak dibenarkan untuk memberi nama yang punya makna buruk atau nama yang menyebabkan sang anak di kemudian hari akan dirundung karena secara makna namanya tidak baik. Ini sesusai dengan hadis riwayat Abu Dawud dari Abu ad-Darda’ ra., Rasulullah Saw. bersabda,

Baca Juga :  Akikah dan Akomodasi Islam Terhadap Budaya

إنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ القِيامَةِ بأسْمائكُمْ وأسماءِ آبائِكُمْ فأحْسِنُوا أسْماءَكُمْ‏

sesungguhnya kalian akan dipanggil di hari kiamat dengan nama-nama kalian serta nama ayah kalian. Maka, perbaguslah nama kalian

Ketiga, dilarang memberi nama yang buruk, menunjukkan sesuatu yang tidak pantas, atau penamaan yang kelak membuat sang anak bisa dirundung (bully). Diantara dalilnya adalah hadis riwayat Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Ra.,

 أن زينبَ كان اسمُها برّةَ، فقيل‏:‏ تزكَي نفسها، فسمَّاها رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم زينب‏.‏

bahwasanya Zainab (binti Jahsyin) namanya dahulu adalah Birrah (birr: baik). Lalu ada yang bilang: “Dia memuji dirinya sendiri.” Rasulullah Saw. kemudian merubah namanya menjadi Zainab.

Ada juga yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Samurah bin Jundub ra.,

عن سمرة بن جندب رضي اللّه عنه قال‏:‏ قال رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم‏:‏ ‏”‏لا تُسَمِّيَنَّ غُلامَكَ يَسَاراً، وَلا رَباحاً، وَلا نَجاحاً، وَلا أفْلَحَ، فإنَّكَ تَقُولُ أثَمَّ هُوَ‏؟‏ فَلا يَكُونُ،

Dari Samurah bin Jundub ra., beliau berkata : Rasulullah Saw. bersabda : « jangan kalian kasih nama anak kalian dengan nama Yasar (kiri), Rabaahan (untung), Najaah (untung), dan Aflah (menang). Karena sesungguhnya kalian menamai demikian, apakah mereka akan (pasti) seperti itu)? Tentu tidak (tentu).

Persoalan nama yang buruk ini memang menunjukkan, sebaiknya dalam menamai anak kedua orangtua telah bersepakat dan memberikan nama yang baik. Syaikh ‘Utsaimin dalam kitabnya Syarh al-Mumti’ mengatakan,

إن أمكن أن يجمع بين القولين باختيار اسم ثالث يتفق عليه الطرفان فهو أحسن، لأنه كلما حصل الاتفاق فهو أحسن وأطيب للقلب

jika memungkinkan untuk menyatukan dua pendapat, dengan memilih nama ketiga yang cocok antara suami dan istri, itu lebih baik. Karena sesungguhnya tiap kesepakatan itu, pasti lebih nyaman dan pas di hati.

Keempat, sebaiknya memberi nama saat di hari ke-7 ketika sang anak diakikahi. Meskipun, jika sudah memberi nama anak sejak hari pertama lahir. Itu tidak ada larangan sama sekali. Karena Nabi Saw. sendiri menamai salah satu anak Abu Musa al-Asy’ari bernama Ibrahim, langsung di hari kelahirannya. Jadi baik di hari pertama atau saat di hari ke-7, itu juga diperbolehkan. Kisah ini dikisahkan langsung oleh Abu Musa al-Asy’ari ra.

Baca Juga :  Hukum Menamai Anak dengan Thaha dan Yasin

ولد لي غلام فأتيت به النبي صلى الله عليه وسلم فسماه إبراهيم، حنكه بتمرة، ودعا له بالبركة

Anakku dilairkan, lalu aku mendatangi Nabi Saw. dan beliau menamainya dengan nama Ibrahim. Beliau lalu mentahniknya dengan kurma, dan mendoakan keberkahan kepadanya. (Muttafaqun ‘Alaihi).

Demikian diantara tips memberi nama bayi dalam Islam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here