Tips Belajar: Kenapa Belajar Baik di Tempat Sepi?

0
708

BincangSyariah.Com – Ketenangan untuk belajar bagi sebagian orang, adalah hal yang tidak mudah untuk didapatkan. Banyak dari pelajar dan mahasiswa, mungkin seringkali mengeluhkan mengapa mereka seringkali sulit berkonsentrasi saat belajar. Dalam kasus mahasiswa, bisa saja faktornya misalnya saat belajar di kamar kos, teman satu kos atau tetangga kos kita sedang kedatangan teman. Tak ayal, kadang mereka bersuara cukup keras. Mau mengeluh, sebagian merasa enggan baik karena tidak enak, merasa menjadi hak dia juga untuk membawa temannya karena sama-sama membayar. Akhirnya, belajar pun menjadi sulit berkonsentrasi dan tidak fokus begitu saja.

Agar mendapatkan konsentrasi dan fokus yang baik, ada penjelasan yang sangat bagus dari ulama. Ulama menjelaskan bahwa bahwa belajar baik di tempat sepi, karena tempat yang sepi dan tenang, serta jauh dari keributan, membuat pikiran jadi jernih. Dan, kita tahu, ada suatu ungkapan yang mendalam sekali maknanya berupa pujian terhadap aktivitas berpikir. Berpikir, menurut para ulama bahkan nilainya bisa lebih dari ibadah jika diarahkan untuk memahami Tuhan. Berpikir tentang kebesaran Tuhan sesaat, itu lebih baik dibandingkan beribadah (tanpa pemahaman) selama seratus tahun.

Syaikh ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam karyanya Qīmatu az-Zaman ‘inda al-‘Ulamā’ (h. 103), mengatakan,

وإنما استحبوا لطلبة العلم: الخلوةَ والبعد عن الناس والضوضاءَ، لأن الخلوةَ تعين على صفاء الفكر. وإذا صفا الفكر صحّ النظر والفهم في طلبِ المعلوماتِ، وهم يطلبون العلم من ميزان العقل. وهذا الميزان في غاية للطاقة، يتأثربأدنى هوى أو شاغل، فيخرج عن الإستقامة. فلذا راعوا في تحصيل دقيق العلم والمسائل وصعابها: الزمانَ والمكانَ، ليتِمّ لهم الفَهمُ، ويستقيم منهم التصوُّرَ والْحُكْمَ

Kenapa bagi para pelajar itu disunnahkan untuk menyendiri, menjauhi orang banyak, dan kebisingan, karena menyendiri membantu orang belajar untuk berfikir jernih. Kalau fikiran sudah jernih, pemahaman terhadap informasi menjadi tepat. Para pelajari itu belajar dengan menggunakan akal, dan akal ini saat di puncak bekerjanya sangat sensitif terhadap sedikit saja emosi atau pengalih, maka konsentrasi bisa buyar. Karena itulah, para pelajar untuk mendapatkan kedalaman ilmu, permasalahan dan problem yang musykil sangat memperhatikan tempat dan waktu. Agar mereka bisa paham, bisa memahami masalah dan menyimpulkannya.

Nasihatnya diatas sangat sesuai sekali dengan kondisi hampir banyak orang saat belajar, akan mendapatkan konsentrasi yang baik kentika kondisi sepi dan tenang karena pikiran akan rileks dan bisa fokus. Karena itulah, banyak dari para ulama yang punya tradisi menyediakan waktu untuk belajar, membahas ilmu, di waktu malam hingga menjelang subuh, tujuannya agar mendapatkan pikiran yang jernih.

Syaikh Abū Ghuddah dalam karyanya yg sama (h. 318-319 kemudian menambahkan dengan sajak yang diungkapkan oleh Abu Sulaiman bin Muhammad al-Khattābī (l. 319 H/w. 388 H) seorang ahli hadis dan juga sastra,

إذا ما خلوت ما صفا ذهني وعارضني *** خواطر كطراز البرق في الظلم

وإذا توالى صياح العانقين على ** أذني عرتني منه حكلة العجم

kalau aku tidak menyepi, pikiranku mana bisa jernih dan jadi muncul *** pikiran macam-macam seperti kilatan petir di kegelapan

Kalau orang terus-terus teriak *** di telingaku buyarlah apa yang mau disampaikan.  

Belajar baik di tempat yang sepi. Menyendirilah, agar hati menjadi jernih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here