Tinjauan Hukum Islam Mengenai Berburu Hewan yang Dilindungi

0
18

BincangSyariah.Com – Berburu merupakan kegiatan yang cukup digemari sebagian orang. Sebagian dari mereka menjadikan kegiatan tersebut sebagai sumber mata pencaharian. Sebagian yang lain melakukannya karena hobi semata. Namun, bagaimana dengan berburu hewan yang dilindungi karena hampir punah? Untuk menjawabnya mari simak ulasan berikut ini.

Dasar Hukum Kewajiban Melindungi Hewan

Syekh Muhammad al-Khatib al-Syarbini, dalam kitabnya Mugni al-Muhtaj ila Ma’rifati Alfazh al-Minhaj juz 4 halaman 195 memberikan penjelasan mengenai kewajiban melindungi sesuatu yang bernyawa. Kewajiban melindungi tersebut harus tetap dilakukan sekalipun pelakunya merupakan pemilik hewan itu sendiri. Pendapat ini dapat ditemui di beberapa redaksi kitab di antaranya:

أما ما فيه روح فيجب الدفع عنه إذا قصد إتلافه ما لم يخش على نفسه أو بضع لحرمة الروح حتى لو رأى أجنبي شخصا يتلف حيوان نفسه إتلافا محرما وجب عليه دفعه على الأصح

Adapun sesuatu yang bernyawa maka wajib melindunginya apabila ada seseorang yang hendak merusaknya selama dia tidak khawatir atas dirinya. Hal ini, karena kemulian ruh. Sehingga jika ada seseorang melihat orang lain memusnahkan hewannya sendiri dengan cara yang diharamkan maka wajib baginya untuk mencegahnya

Imam Ahmad al-Khatthabi dalam kitab Ma’alim al-Sunan juz 4 halaman 289 menerangkan mengenai larangan pemusnahan hewan secara keseluruhan:

معناه أنه كره إفناء أمة من الأمم وإعدام جيل من الخلق حتى يأتي عليه كله فلا يبقي منه باقية لأنه ما من خلق للّه تعالى إلاّ وفيه نوع من الحكمة وضرب من المصلحة . يقول إذا كان الأمر على هذا ولا سبيل إلى قتلهن كلهن فاقتلوا شرارهن وهي السود البهم وأبقوا ما سواها لتنتفعوا بهن في الحراسة

Pengertiannya, sangat dibenci pemusnahan umat dan peniadaan generasi makhluk hidup sampai tidak tersisa sedikitpun. Tidak ada satupun dari ciptaan Allah SWT kecuali terdapat hikmah dan mashlahah. Jika demikian, maka tidak ada jalan (yang dijadikan alasan untuk membenarkan) pada pembunuhan hewan secara keseluruhan (pemusnahan). Maka bunuhlah pada hewan yang membahayakan dan biarkan selainnya agar dapat mendatangkan manfaat untuk jaga”

Dalam berburu hewan yang dilindungi, kita telah melakukan perusakan dimuka bumi. Melakukan perburuan berarti mencoba untuk menghilangkan suatu habitat dalam ekosistem. Allah Swt. dalam kitabnya secara tegas melarang umat manusia untuk melakukan kerusakan di muka bumi. Hal ini dapat dilihat pada surat al- qashas ayat 77.

{وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ}

 “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan kepadamu (kebahagian) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan (di muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”

Nabi Muhammad SAW menegaskan ancaman hukuman kelak di akhirat terhadap setiap orang yang melakukan penganiayaan, pembunuhan dan tindakan yang mengancam kepunahan satwa. Hal ini dapat dilihat di beberapa teks hadis diantaranya,

عن ابن عمرأن رسول الله {صلى الله عليه وسلم} قال عذبت امرأة ٌ في هرة سجنتها حتى ماتت فدخلت فيها النار لا هي أطعمتها وسقتها إذ هي حبستها ولا هي تركتها تأكل من خشاش الأرض

Dari Abdillah Ibn Umar ra bahwa rasulullah saw bersabda: “Seseorang perempuan disiksa karena kucing yang ia kerangkeng sampai mati, dan karenanya ia masuk neraka. Dia tidak memberi makan dan minum ketika ia menahan kucing tersebut, tidak pula membiarkannya mencari makan sendiri”. (HR. al-Bukhari)

Sanksi bagi Pemburu Hewan yang Dilindungi

Mengenai sanksi bagi pelaku perburuan masuk dalam kategori takzir. Dalam hal ini pemerintah bebas menentukan hukuman yang sesuai guna memberikan efek jera bagi pelaku sehingga tidak mengulangi perbuatannya lagi. Hal ini sebagaimana dalam Al-Fiqh al-Islam wa Adillatuhu juz 4 halaman 635,

عقوبات غير مقدرة وهي التعزيرات: وهي التي لم يحدد لها الشرع نوعاً ولا مقداراً معيناً، وإنما فوضها إلى تقدير الحكام لتطبيق ما يرونه محققاً للمصلحة بحسب ظروف الجاني والجناية.

Hukuman yang tidak ditentukan masuk dalam kategori takzir. Maksudnya hukuman yang tidak ditentukan oleh syariat dan sepenuhnya dipasrahkan kepada hakim untuk untuk menyusun hukuman yang sesuai bagi pelaku tindak kejahatan

Artinya, sanksi pemburu satwa langka itu diserahkan pada kebijakan pemerintah masing-masing. Islam tidak mengatur secara detail mengenai sanksi tersebut. Dalam hukum positif Indonesia sudah ditentukan mengenai larangan berburu satwa yang dilindungi melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 (UU Konservasi Hayati) beserta peraturan turunannya.

Peraturan tersebut berisi ancaman sanksi pidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp100 juta diberikan kepada orang yang dengan sengaja melakukan kejahatan berupa: menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup.

Alhasil, dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa berburu hewan yang dilindungi tidak diperbolehkan. Hal ini karena dapat merusak ekosistem hewan tersebut. Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here