Tingkatan Wali Allah; Memahami Perdebatan Ulama (1)

1
1932

BincangSyariah.com – Di kanal website ini sebenarnya sudah pernah membedah soal hirarki/tingkatan para wali tersebut serta perdebatan para ulama soal keabsahannya. Judul tulisannya adalah “Hirarki Kosmos dan Negara Para Wali Allah”. Artikel yang ditulis oleh Ustz. Abdul Aziz ini memberikan gambaran bahwa betapapun orang berbeda pendapat tentang adanya hirarki atau tingkatan para awliya’ (waliyullah), namun para wali sendiri tidak memaksakan kita memahaminya dengan ilmu zahir. Seperti kata Ibn ‘Arabi, persoalan hirarki para wali (marātib al-awliyā’) ini tidak diketahui kecuali oleh mereka yang sudah disingkap (ahlu al-kasyf) ruhaniahnya.

Marātib atau hirarki para wali tersebut terbagi menjadi beberapa nama dan tingkatan. Sejak lama, para ulama telah menyoroti persoalan ini. Imam al-Suyuthi, salah seorang ulama abad ke-9 H yang menulis berbagai bidang keilmuan juga menulis soal ini. Judul karyanya adalah al-Khabar al-Dāl ‘alā Wujūd al-Quṭb wa al-Awtād wa al-Nujabā’ wa al-Abdāl. Dari penamaannya, kita dapat mengetahui sekilas bahwa buku ini mencoba menegaskan bahwa penamaan hirarki kewalian tersebut seperti al-Quṭb dan seterusnya ada dasar dalilnya. Ini diteruskan juga misalnya oleh ulama lain dengan lebih gamblang. Misalnya dengan pengenalan berbagai macam tarikat oleh Syaikh Ahmad Naqshabandī al-Khālidī al-Kamshikhānawī yang berjudul Jāmi’ al-Uṣūl fī al-Awliyā’.

Menurut Dr. Shabri Muhammad Khalil Khairī, Ustadz Filsafat Etika-Etika Keislaman di Universitas Khurtoum, para ulama terbagi kepada tiga kelompok dalam merespon persoalan hirarki para wali ini. Pertama mazhab yang membenarkan, kedua mazhab yang menolak, dan terakhir mazhab yang menerima dengan syarat.

Mazhab pertama yang menerima mendapatkan dasarnya dari dalil-dalil yang diterima secara luas oleh umat muslim, yaitu Alquran dan Hadis. Selain keniscayaan para ulama banyak yang mengamini soal ini, mengutip hadis riwayat al-Thabrani yang terdapat dalam kitab al-Khabar al-Dāl al-Suyuthi,

لن تخلو الأرض من أربعين رجلا مثل خليل الرحمن , فيهم يسقون ,وبهم ينصرون , ما مات منهم احد الا أبدل الله مكانه آخر

Bumi ini tidak pernah kosong dari empat puluh orang (ulama) setingkat kekasih Allah (Nabi Ibrahim). Mereka senantiasa diberikan rezeki dan selalu mendapatkan pertolongan Allah. Tidaklah mati salah seorang dari mereka melainkan Allah menggantikannya dengan yang lain.

Hadis ini menurut al-Haitsami dalam Majma’ al-Zawaid dihukumi sebagai hadis hasan. Inilah diantara yang menjadi argumen mazhab pertama.

Mazhab kedua menolak adalah hirarki kewalian ini. Pasalnya, dalil-dalil yang digunakan kelompok pertama dianggap tidak sahih baik dari segi sanad maupun pemahamannya. Menurut Dr. Shabri, Ibn al-Qayyim adalah diantara yang berpendapat demikian. Selain itu, kelompok ini menganggap hirarki tersebut adalah bagian dari pendapat-pendapat yang diluar dari ajaran Islam. Hirarki kewalian tersebut sekelompok dengan pemahaman-pemahaman bid’ah (mafāhim bid’iyyah) lainnya seperti ittiḥād, ḥulūl, dan waḥdatu al-wujūd.

Mazhab ketiga menerima adanya penamaan-penamaan dalam hirarki tersebut namun mencoba memahaminya lebih jelas dan tidak berdasarkan makna yang diperdebatkan orang atau tidak berdasarkan “sumber-sumber Islam”. Menurut mazhab ini – dengan tokohnya diantaranya Ibn Taymiyyah – penamaan abdāl, quṭb, sebenarnya ada dasarnya dalam Islam. Misalnya, kata abdāl itu sama maknanya dengan ulama karena sesuai dengan dalil dalam hadis seperti al-‘ulamā’ waratsatu al-anbiyā’. Waratsah artinya setara dengan abdāl. Mazhab ketiga ini intinya sepakat tentang adanya wali dalam pengertiannya sebagai ahli ibadah dan ulama yang tulus. Mereka hanya berupaya mencarikan pemaknaan yang dianggap terlalu aneh atau sangat simbolis sehingga menimbulkan kebingungan di kalangan muslimin. Wallahu A’lam

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here