Tiga Tingkatan Perintah Allah

0
1662

BincangSyariah.Com – Manusia diciptakan Allah sebagai khalifah. Mengatur kehidupan menuju lebih baik sesuai dengan Alquran dan Hadis. Untuk menciptakan kehidupan yang baik Allah memerintahkan manusia untuk amar makruf dan nahi mungkar. Tulisan ini menjelaskan perspektif lain dari perintah amar makruf dan nahi mungkar. Artikel ini diinspirasi oleh tulisan Nurcholis Madjid dalam Jurnal Tititk-Temu, Vol.7 No.1 Juli 2014. Di sini beliau menjelaskan ada tiga tingkatan perintah Allah.

Tidak seperti yang kebanyakan kita ketahui. Perintah Allah tidak hanya Amar Makruf dan Nahi Mungkar saja. Tapi perintah yang pertama adalah Dakwah Khair. Hal ini berdasarkan Q.S Ali Imran (3): 104

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

Dari ayat di atas jelas bahwa ada tiga perintah Allah. Selama ini sebagian kita memahami kata al-khair dan al-ma’ruf sama, padahal tidak mungkin ada kelebihan kata atau redundancy dalam Alquran. Penggunaan kata al-khair dalam ayat tersebut pastilah berbeda maknanya dengan al-ma’ruf.

Prof. Quraish Shihab menjelaskan dalam tafsirnya ayat di atas berarti “Jalan terbaik untuk bersatu dalam kebenaran di bawah naungan al-Qur’an dan Rasul-Nya, adalah dengan menjadi umat yang menyerukan segala bentuk kebaikan dunia dan akhirat, menyerukan kewajiban mendorong manusia pada kebaikan bersama dan mencegah kejahatan (amar makruf nahi munkar, al-amr bi al-ma’rûf wa al-nahy ‘an al-munkar).”

Mari kita fahami satu persatu dari perintah tersebut. Pertama, perintah untuk menyeru kepada al-khair. Apa yang dimaksud dengan al-khair? Pendiri Persatuan Islam (Persis), A. Hassan mengatakan al-khair berarti “bakti”. Ini berarti bakti adalah penyerahan diri sepenuhnya dan setulus-tulusnya kepada Allah, atau istislam. Dalam pengertian lain, Allah memerintahkan kita untuk mengajak manusia kepada prinsip-prinsip kebaikan dan kebenaran universal.

Baca Juga :  Sekilas Perbedaan Qira'at dalam Alquran

Perintah kedua adalah amar makruf. Secara gramatikal, kata al-ma’ruf pada ayat di atas memiliki hubungan keberlanjutan. Al-Ma’ruf adalah kelanjutan dari konsep, ide dan ajaran al-khair. Al-ma’ruf adalah apa yang diketahui oleh manusia baik dan benar yang dipelajari dari kehidupan sehari-hari dan tentunya dari tuntunan syariah.

Sering kali kebiasaan disebut juga dengan ‘urf yang satu akar kata dengan ma’ruf. Perintah Allah untuk melakukan amar makruf adalah perintah yang tidak boleh dilepaskan dari kebiasaan masyarakat. Sebab, perintah Allah di atas Allah hubungkan dengan kultural.

Perintah terakhir dari ayat di atas adalah nahi mungkar. Mungkar berati yang diingkari oleh kebaikan. Al-munkar adalah kebalikan dari al-ma’ruf. Mungkar adalah yang diingkari oleh hari nurani  karena tidak sejalan dengan rasa kebaikan, kebenaran dan kesucian.

Sifat dari amar makruf banyak bertumpu pada akal manusia, sedangkan nahi mungkar selalu bertumpu pada semangat. Sehingga masyarakat dengan tingkat keilmuan yang rendah semangat nahi mungkarnya akan lebih unggul dibanding amar makrufnya. Karena memang nahi mungkar pada umumnya mudah dilaksanakan. Dan sifat dasar masyarakat lebih peka terahadap kemungkaran.

Akhirnya, dalam proses menjalankan perintah Allah sebagai khalifah di muka bumi harus mengedapankan keduanya secara bersamaan. ilmu dan amal merupakan inti dari perintah Allah ini. Semoga melalui keduanya kita mencapai al-muflihun, orang-orang yang memperoleh keberuntungan yang sempurna.

Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here