Tiga Tingkatan Ikhlas

2
12096

BincangSyariah.Com – Disebut dalam Nahjul Balaghah bahwa Ali bin Abi Thalib berkata, ada kaum yang menyembah Allah karena mengharapkan pahala. Inilah ibadah pedagang. Ada kaum yang menyembah Allah karena takut. Inilah ibadah budak. Ada juga kaum yang menyembah Allah karena bersyukur kepada-Nya. Inilah ibadah orang merdeka. Menurut az-Zuhri, melalui hadis ini Ali bin Abi Thalib berbicara mengenai tipe-tipe orang beribadah berdasarkan tingkatan keikhlasannya.

Az-Zuhri menjelaskan bahwa ikhlas tergambarkan dengan sangat indah dalam doa Iftitah. Kita berjanji setiap salat, “sesungguhnya salatku, pengorbananku, hidupku, dan matiku lillahi Rabbil ‘Alamin.” Jadi, ikhlas ialah “mengerjakan segala sesuatu “lillah”. Menurut al-Ghazali ada tiga makna lillah; karena Allah (lam yang berarti sebab) dan untuk Allah (lam berarti tujuan), dan kepunyaan Allah (lam berarti milik). Makna-makna ini, menurut al-Ghazali, menunjukan tingkatan keikhlasan itu sendiri. Kepunyaan Allah adalah tingkat ikhlas yang paling tinggi.

Pertama, ikhlas karena Allah. Bila kita memberikan bantuan kepada orang yang kesusahan, karena kita mengetahui bahwa Allah memerintahkannya, kita beramal karena Allah. Bila kita menghentikan bantuan kepada orang itu, karena ternyata orang itu tidak berterima kasih bahkan menjelek-jelekkan kita di mana-mana, kita tidak ikhlas. Amal kita dipengaruhi oleh reaksi orang lain kepada kita.

Kita bersemangat beramal, ketika orang-orang menghargai kita, memuji kita, atau paling tidak memperhatikan kita. Kita kehilangan gairah berjuang, ketika orang-orang mencemooh kita, menjauhi kita, atau bahkan mengganggu kita. Inilah tingkatan ikhlas yang pertama, sebuah tingkatan yang masih dalam tahapan ikhlas namun tetap memosisikan manusia pada kemanusiannya.

Kedua, ikhlas untuk Allah. Tahapan ikhlas dalam pengertian ini dapat dijelaskan sebagai berikut: kalau kita beribadah kepada Allah sekedar untuk mendapatkan pahala sebenarnya ibadah itu diperuntukkan untuk diri kita sendiri. Karena itu, kalau kita mengharap pahala dengan sendirinya pahala itu untuk kepentingan kita, padahal ibadah yang ikhlas itu untuk Allah semata-mata.

Baca Juga :  Masuk Surga Sebab Mentauhidkan Allah

Misalnya, kalau kita beramal untuk menghindari siksaan Allah, maka sebenarnya yang dibela adalah diri kita sendiri dan bukan mencari keridhaan Allah. Kalau kita beribadah kepada Allah hanya untuk mendapatkan kenikmatan surga beserta isi-isinya yang penuh dengan bidadari cantik jelita, fasilitas gedung yang megah, makanan yang terjamin enak, bergizi dan segar, sebenarnya ibadah kita itu ditujukan bukan untuk Allah, tapi untuk kepentingan kita sendiri, untuk ego kita yang masuk terkungkung dengan semangat mencari keuntungan untuk diri sendiri dalam beribadah, semangat untuk mengumpulkan kas pahala yang kemudian digunakan untuk membeli kunci surga.  Memang amal kita pada tataran seperti ini sudah karena Allah tapi belum untuk Allah.

Ibadah untuk Allah lahir dari rasa syukur, rasa terima kasih, rasa berutang budi kepada-Nya. Yang mendorong sang hamba untuk mengabdi kepada Allah bukan lagi keinginan akan pahala atau ketakutan akan siksa, tetapi cinta kepada-Nya. Inilah makna ikhlas untuk Allah (lillah).

Ketiga, ikhlas kepunyaan Allah. Pada tahapan ini, ada hadis menarik dari Nabi yang berbicara tentang mengikhlaskan amal dengan tingkatan kepunyaan Allah ini. Rasulullah SAW bersabda, “Wahai manusia, siapa yang berjumpa dengan Allah sambil menyaksikan bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan mengikhlaskan ucapan tersebut dengan tidak bercampur dengan yang lain itu, maka dia masuk surga.” Kemudian Ali bin Abi Thalib bertanya, “ya Rasulullah bagaimana ikhlas yang tidak bercampur dengan yang lain itu.” Rasul SAW menjelaskan, “Betul, yang mencampuri keikhlasan itu adalah kerakusan terhadap dunia dan mengumpul-ngumpulkannya.”

Artinya, ikhlas kepunyaan Allah ini ialah ikhlas yang menghindarkan diri kita dari keterikatan hati dengan hal-hal yang berbau materi. Materi memang harus dimiliki karena tidak mungkin kita masuk surga tanpa ada ongkos materi yang memadai. Tidak mungkin kita bisa masuk surga tanpa duit untuk sedekah, zakat, infak dan lain-lain. Pada tahap ini, ikhlas berarti terhindarnya hati dari segala tujuan selain Allah dan terlepas dari kepentingan pribadi kita. Semua itu dimuarakan pada kepentingan milik Allah.

Baca Juga :  Sabda Nabi Tentang Pentingnya Persatuan

Ikhlas dengan segala tingkatannya memang sulit dicapai. Namun hal terpenting yang perlu dilakukan ialah terus berusaha melatih diri melepaskan kepentingan diri sendiri dalam kaitannya dengan beribadah kepada Allah SWT. Dengan ini, semoga kita dapat mencapai keikhlasan dengan segala tahapannya. Amin.

 

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here