Tiga Tingkat Pencari Ilmu, Kita Diposisi Mana ?

0
1119

BincangSyariah.Com – Dalam ajaran Islam, ilmu menempati posisi yang penting. Dengan ilmu, nabi Muhammad membangun peradaban Islam yang berhasil menjadi sebuah kekuatan besar di dunia. Kecintaan Nabi terhadap ilmu tergambarkan dalam disediakannya sebuah ruang aktivitas belajar di masjid-masjid.

Selain itu, ayat dan hadis tentang pentingnya mencari ilmu juga mudah sekali ditemukan. Mulai dari kewajiban mencari ilmu hingga keutamannya di mata khaliq dan makhluk. Posisi ilmu dalam Islam ini penting untuk disadari umat Islam dalam kontek menjadi kholifatullah fil ardh. Tanpa ilmu, dunia akan gelap karena ilmu adalah cahaya itu sendiri (al-‘ilmu nurun).

Akan tetapi, ilmu dalam pandangan para ulama tasawuf tidak semata-mata dipelajari untuk kepentingan dunia. Pencari ilmu harus memiliki orientasi dan tujuan ‘yang benar’ dalam mencari ilmu. Sehingga ilmu akan bermanfaat (‘ilmu nafi’) di tangan orang yang tepat. Kaitannya dengan mereka yang mencari ilmu, Imam al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah, menjelaskan tiga tingkat pencari ilmu,

pertama, orang-orang yang mencari ilmu semata-mata untuk tujuan menggapai ridho Allah. Orang-orang semacam ini tidak memiliki orientasi duniawi. Mereka menyadari bahwa kelak, akhirat menjadi tempat kembali semua makhluk. Disanalah semua orang akan menjadi sadar betapa pentingnya ridho Allah. Mereka golongan yapng pertama ini disebut al-Ghazali sebagai al-faizin (orang-orang yang beruntung).

Menurut Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Maroqil Ubudiyah, golongan al-faizin ini ialah mereka yang akan selamat dari siksa Allah dan yang akan selalu berjumpa dengan kebaikan. Dalam bahasa lain, syeh Nawawi menyebut mereka sebagai ‘alimul akhirot (ulama’ akhirat). Masih menurutnya, mereka memiliki tiga ciri-ciri utama, yakni, tidak berorientasi duniawi, tujuannya untuk menyibukkan diri dengan ilmu agar memperoleh keselamatan akhirat dan prinsipnya selalu mengikuti ajaran Nabi Muhammad.

Baca Juga :  Mengenal Konsep Sufistik Huwa dan La Huwa Ibnu Arabi

Kedua, orang-orang yang mencari ilmu untuk menopang kehidupannya dan untuk memperoleh kedudukan, kemuliaan dan harta benda. Al-Ghazali menyebutnya sebagai al-mukhotirin (orang-orang yang beresiko). Syeh Nawawi mendefinisikannya sebagai orang-orang yang beresiko mendekat kepada kehancuran. Maka semakin mereka mempercepat menuju tujuannya, sebenarnya mereka sedang mempercepat jalannya menuju akhir yang buruk. Kecuali, mereka sesegera mungkin bertaubat.

Ketiga, orang-orang yang ditaklukan setan dan kemudian menjadikan ilmunya untuk perantara menumpuk harta (at-takatsur bil mal), membanggakan kedudukan dan pangkatnya (at-tafakhur bil  jah), dan memuliakan diri dengan banyak pengikut (ta’azzuz bil atba’). Mereka ini yang disebut al-Ghazali sebagai al-halikin (orang-orang yang rusak).

Mereka di dalam hatinya merasa bahwa di sisi Allah mereka menempati kedudukan ulama. Tercermin dari pakaiannya, perangainya, dan ucapannya. Padahal mereka sedang menipu dengan menggunakan ilmunya untuk memperoleh kepentingan dunia. Nafsu dan rayuan setan telah menggoda mereka sebagaimana seorang istri yang digoda suaminya.

Al-Ghazali menyerukan kepada kita semua untuk menjadi kelompok yang pertama (al-faizin). Jangan sampai kita menjadi kelompok yang kedua, karena seringkali manusia menunda-nunda sesuatu yang membuatnya lupa bertaubat hingga datang ajalnya. Apalagi menjadi kelompok ketiga yang telah terjerumus dalam godaan nafsunya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here