Tiga Manfaat Mengkaji Fikih Perbandingan

1
1833

BincangSyariah.Com – Tidak bisa dipungkiri lagi,  perbedaan adalah suatu keniscayaan dan hal yang tidak bisa kita hindari, baik dari yang bersifat alami, seperti warna kulit, sampai pemikiran-pemikiran yang beraneka ragam. Bisa saja, Allah SWT menjadikan umat manusia ini sama tanpa adanya perbedaan, akan tetapi dengan keagungan dan kebijaksanaan-Nya, Allah SWT menjadikan umat manusia beraneka ragam dengan hikmah-hikmah di dalamnya, Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Artinya: Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (al-Hujurat: 13).

Tentunya, perbedaan harus ditanggapi dengan arif dan bijaksana untuk mencegah konflik dan perpecahan yang tidak diinginkan. Dalam Islam sendiri, perbedaan itu kita bisa temui dalam pendapat-pendapat fikih, sehingga memunculkan berbagai macam mazhab fikih. Mazhab fikih yang biasa kita kenal ada empat, yaitu mazhab Hanafi (Abu Hanifah, Nu’man bin Tsabit), Maliki (Malik bin Anas), Syaafii (Muhammad bin Idris as-Syaafii), dan Hanbali (Ahmad bin Hanbal).

Yang membuat kita takjub, dari imam-imam mazhab tersebut, diantaranya memiliki hubungan guru dan murid, Imam as-Syaafii belajar dari Imam Malik dan Imam Ahmad belajar dari Imam as-Syaafii. Sehingga kita bisa mengambil pelajaran, bahwa perbedaan antara murid dengan gurunya, menjadi suatu hal yang biasa.

Dalam lingkup studi Islam, ada kajian yang membahas tentang fikih perbandingan.  Secara definisi, fikih perbandingan mempunyai arti, yaitu mengumpulkan pendapat-pendapat para imam mujtahid, beserta dalil-dalil yang mereka gunakan, dalam permasalahan yang terjadi perbedaaan di dalamnya, disertai dengan membandingkan satu dalil dengan dalil lainya, sehingga bisa memunculkan pendapat mana yang paling kuat di antara pendapat yang ada.

Dari defini di atas, kita bisa tahu bahwa salah satu fokus utama fikih perbandingan ialah mempelajari berbagai macam  pendapat fiqih yang ada. Lalu, apakah kita perlu untuk mempelajari fikih perbandingan?, apakah kita cukup mempelajari mazhab yang kita anut?.

Prof. Dr. Hj. Huzaemah Tahido Yanggo, MA, yang kita kenal sekarang sebagai salah satu guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan rektor IIQ Jakarta, menjelaskan dalam bukunya Muhaadhoroot fi fiqhil al-Muqooron, setidakanya ada beberapa manfaat dari mempelajari fikih perbandingan, di antaranya:

Pertama, kita bisa mengetahui pendapat-pendapat para imam mujtahid beserta sandaran pendapat mereka, dan cara-cara mereka dalam menyimpulkan hukum dari dalil-dalil yang ada. Sehingga, dari hal tersebut kita bisa mendapatkan akal dan pemikiran yang baik dalam beragama, dan keluar dari belunggu kejumudan atas taklid yang tercela.

Kedua, kita bisa mengetahui dasar-dasar dan kaidah-kaidah yang dipakai oleh para imam mujtahid untuk menarik kesimpulan hukum dari dalil-dalil yang ada. Dari mengetahui dasar-dasar dan kaidah-kaidah yang mereka pakai, kita bisa mengetahui pendapat siapa yang paling kuat di antara para imam mujtahid, yang bersandar kepada dalil-dalil yang kuat juga.

Sehingga, bisa membuat hati dan pikiran kita tenang, dari mengetahui dan mempelajari itu semua. Tidak hanya itu, kita juga bisa mengetahui tentang usaha dan kesungguhan para imam mujtahid dalam menyimpulkan sebuah hukum, sehingga bisa memunculkan rasa hormat kita kepada mereka, atas usaha mereka dalam menyimpulkan hukum.

Ketiga, dari mempelajari fikih perbandingan, kita bisa terbantu untuk mengambil pendapat mana yang cocok untuk diri kita, ketika berubahnya keadaan dan situasi yang ada (berpindah kepada pendapat imam mujtahid lain). Maka akan muncul kesusahan, jika seseorang tetap memaksakan untuk mengikuti pendapat imam mujtahid yang ia ikuti sebelumnya, jika pendapat imam tersebut tidak cocok dengan keadaan dan situasi yang ada.

*tulisan ini sudah pernah dipublikasikan di Buletin PMII Komfakdish

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here