Tiga Kriteria Pemimpin Amanah

0
6670

BincangSyariah.Com – Kurang dari sebulan dari sekarang kita akan menentukan nasib bangsa dan negara untuk 5 tahun mendatang. Tepatnya tanggal 17 April kita memiliki hak untuk memilih pemimpin negara dan memilih wakil kita di kursi parlemen. Jika para pembaca yang budiman masih bingung dalam menentukan pilihan, maka amanah menjadi salah satu faktor penting dalam memilih pemimpin.

Dalam tulisan singkat ini, penulis akan menjelaskan kriteria pemimpin amanah. Mengapa Amanah? Karena amanah adalah satu di antara empat sifat Nabi dan Rasul selain Shiddiq (benar), Tabligh (menyampaikan kepada umat), dan Fathanah (cerdas). Selain itu, amanah juga menjadi sifat pemimpin yang tercantum dalam al-Quran, tepatnya dalam Q.S Al-Nisa [4]: 58,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kpadamu. Sunggguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.

Berkaitan dengan penjelasan ayat di atas, Ahmad bin Mustafa al-Maraghi menerangkan bahwa amanah, sedikitnya ada tiga jenis: amanah seorang hamba kepada Tuhannya, amanah seseorang kepada orang lain, dan amanah kepada diri sendiri. Amanah yang pertama meniscayakan kepatuhan seseorang untuk menjaga perjanjian antara dirinya dengan Tuhan, yang kedua dengan menepati janji dan menjaga kepercayaan orang lain, sedang yang ketiga memilih yang terbaik bagi diri sendiri.

Ayat di atas juga menunjukkan kepada kita pentingnya memilih pemimpin yang amanah. Adapun perwujudan dari pemimpin yang amanah, sebagaimana diterangkan dalam ayat, adalah yang adil dalam menetapkan hukum dan tidak bersikap diskriminatif.

Baca Juga :  Hukum Orang Kaya Mengaku Miskin Agar Terima Zakat

Adapun tiga kriteria pemimpin amanah yang dijelaskan oleh Rasulullah saw adalah sebagai berikut:

Pertama, seseorang yang tidak terlalu berambisi menduduki jabatan itu, apalagi sampai menghalalkan segala cara demi mendapatkan kekuasaan atau jabatan. Hal ini sesuai dengan hadis sahih yang diriwayatkan Abu Musa al-Asy’ari, Rasulullah saw bersabda:

قال أَبُو مُوسَى: دَخَلْتُ عَلَى النَّبِىِّ (صلى الله عليه وسلم) أَنَا وَرَجُلانِ مِنْ قَوْمِى، فَقَالَ أَحَدُ الرَّجُلَيْنِ: أَمِّرْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَقَالَ الآخَرُ مِثْلَهُ، فَقَالَ: إِنَّا لا نُوَلِّى هَذَا مَنْ سَأَلَهُ، وَلا مَنْ حَرَصَ عَلَيْهِ (رواه البخاري)

 Abu Musa berkata: Suatu ketika aku menghadap Nabi Saw bersama dua orang dari kaumku. Salah satu dari mereka berkata: “Wahai Rasul, angkatlah aku jadi pemimpin.” Dan seorang lagi juga mengatakan hal yang sama. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh kami tidak akan menyerahkan kepemimpinan ini kepada orang yang memintanya, dan tidak pula kepada yang berambisi untuk meraihnya. (HR. Bukhari)

Dari hadis ini, kita bisa mendapat pelajaran bahwa memberikan amanah (hak pilih) kepada orang yang meminta saja tidak diperkenankan, apalagi ketika seseorang yang menggunakan segala cara untuk memperoleh sebuah jabatan, seperti misalnya dengan suap dan lain sebagainya. Jelas hal ini adalah haram. Sosok calon pemimpin yang seperti ini jelas akan sulit berlaku amanah.

Seorang calon pemimpin yang curang dan sangat berambisi, sulit untuk diharapkan akan berkorban untuk kesejahteraan rakyat. Ia justru akan sibuk memperkaya diri, mengembalikan modal, dan mencari privilage dari jabatan yang diembannya.

Kedua, kriteria pemimpin yang amanah sebagaimana diajarkan Rasulullah adalah seseorang yang taat ibadah, memiliki kapabilitas dalam memimpin, dan mempunyai relasi sosial yang baik dengan masyarakat. Teladan seperti ini dapat kita cari dari sepenggal kisah Umar bin Khattab, yaitu ketika ia menjadi khalifah menggantikan Abu Bakar. Di suatu kesempatan, Umar bin Khattab mengangkat Nafi’ bin al-Harits sebagai gubernur Mekah. Sebagai gubernur, Nafi’ memilih Ibnu Abza untuk menjadi pemimpin di suatu distrik di daerah lembah dekat Mekah. Padahal semua orang tahu bahwa Ibnu Abza bukanlah dari suku yang terhormat, Ia hanyalah bekas budak di komunitas tersebut.

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Baqarah [2]: 17-20; Ilustrasi Orang Munafik

Saat Umar bin Khattab mengonfirmasi hal tersebut, Nafi’ in al-Harits menjawab, “Ia memang bekas budak, tetapi ia hafal Alquran, paham masalah waris (faraidh), dan dapat memutuskan persoalan masyarakat dengan adil.” Atas keputusan Nafi’, Umar bin Khattab pun memujinya karena melihat kapabilitas dan keadilannya. Kisah ini dapat ditemukan dalam Musnad Imam Ahmad.

Ketiga, pemimpin yang amanah adalah seseorang yang dalam kesehariannya tidak bermewah-mewahan dan hidup sederhana sesuai kebutuhannya. Pemimpin yang hidup sederhana dapat imun (tahan) terhadap godaan kemewahan dunia. Sebaliknya, gaya hidup mewah dapat menjerumuskan seorang pejabat untuk melakukan korupsi meskipun gajinya sudah lebih dari cukup.

Ancaman Nabi saw. terhadap pejabat yang korup sebagaimana dapat kita lihat dari hadis di bawah ini:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللهُ رَعِيَّةً، يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ، إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

Tidaklah seorang hamba pun yang diberi amanah oleh Allâh untuk memimpin bawahannya yang pada hari kematiannya ia masih berbuat curang atau menipu rakyatnya, melainkan Allâh mengharamkan surga atasnya.

Itulah kriteria pemimpin amanah yang perlu kita refleksikan agar dapat menjadi pemimpin ataupun memilih pemimpin yang sesuai dengan ajaran Rasulullah saw. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here