Tiga Indikator Penilaian Perbuatan Bid’ah Menurut K.H. Hasyim Asy’ari

0
885

BincangSyariah.Com – Ada pengertian sederhana kalau sunah adalah apa yang bersumber dari Rasulullah Saw., baik berupa perkataan, perbuatan, sikap atau ketetapan, hingga kondisi keseharian (ahwal). Di sisi lain, ada perbedaan di antara para ahli fikih, yang hanya membatasi itu semua jika berhubungan dengan penetapan hukum. Biasa disebut dalil syar’i.

Sementara mereka yang disebut sebagai ahli Hadis, menyatakan sunah adalah semuanya yang bersumber dari Nabi dari perkataan sampai kondisi keseharian. Terlepas dari validitas pendapat itu, sebagian kaum muslimin masih meyakininya sebagai kebenaran.

Perjalanan sejarah rupanya menunjukkan kalau ada kekayaan khazanah pemahaman di dunia Islam ketika memahami teks-teks syariat. Jika berpatokan pada tahun hijriah, umat Muslim yang telah berumur lebih dari 14 abad ini tidak memiliki pemahaman monoton selama berabad-abad tentang teks. Ada banyak sekali pemahaman, tafsir, syarah, haasyiyah (komentar, dalam khazanah keislaman, adalah bentuk penulisan dengan mengkomentari kata atau kalimat pada satu kitab tertentu dan menghasilkan karya baru) yang muncul dari keduanya.

Tidak aneh, kalau dalam Islam kemudian lahir mazhab baik di bidang fikih (hukum Islam), kalam (teologi), bahasa, hingga skema latihan menyucikan jiwa atau disebut sebagai tasawuf. Keragaman itu ada yang lahir memang dari tidak tunggalnya satuan-satuan makna dalam kata atau kalimat di dalam kitab suci, ada juga yang lahir perbedaan pemahaman atas dalil yang digunakan sebagai jawaban dalam menjawab pertanyaan dari masyarakat.

Ini semua mesti menjadi alasan kuat bagi kita bahwa ada kekayaan pemahaman Quran dan Sunnah, dan butuh belajar sehingga kita memiliki otoritas untuk menilai suatu amalan itu sesuai sunnah atau tidak.

Untuk melengkapi dan mudah-mudahan bisa menjadi petunjuk bagi mereka yang memahaminya demikian, baiknya kita menyimak pendapat K.H. Hasyim Asy’ari dalam salah satu karyanya Risalah Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah. Fenomena di atas rupanya memang fenomena yang juga terjadi pada zaman beliau hidup.

Baca Juga :  Mengenal K.H. Achmad Baidhowi Asro

Ada sebagian kelompok yang sembrono menilai praktik keislaman tertentu sebagai sebuah bid’ah, tanpa pertimbangan yang matang. Beliau membantah tuduhan mereka paling tidak dengan tiga tolok ukur suatu amaliah dikatan bid’ah.

Indikator pertama, perlu dilihat dulu perkaranya yang bid’ah. Kalau sebagian besar prinsip syariah mengakuinya maka tidak bisa disebut bid’ah. Kalau amalan itu bertentangan dengan keseluruhan prinsip syariah maka amalan itu batil dan sesat. Jika dalil-dalilnya seimbang (antara dalil pendukung dengan yang menentang), tergambar banyak syubhat dan kedudukannya seimbang, lalu syubhatnya juga setara, maka kesahihan dalil-dalil itu saling dibandingkan, jika sesuai dengan amalan-amalan ulama terdahulu maka itu benar meski dalil asal dan amaliah (far’)-nya berlainan.

Ada kaidah di antara para ulama bahwa apa yang diamalkan umat Muslim terdahulu, lalu terus diikuti generasi sesudahnya tidak bisa disebut bid’ah apalagi bid’ah yang sesat. Dan yang mereka semua tidak pernah kerjakan dengan segala sisi penafsiran dalil maka tidak bisa disebut sunah apalagi kebaikan. Kalau ada atsar dari generasi salaf, namun mereka tidak mengamalkannya, ulama berbeda pendapat. Imam Malik menilainya sebagai sebuah bid’ah jika diamalkan. Al-Syafi’i sebaliknya, tidak diamalkannya suatu atsar tidak menunjukkan kalau itu bid’ah.

Indikator kedua adalah menilai kaidah-kaidah imam mazhab dan umat muslim terdahulu yang mengamalkannya sebagai sebuah kesunahan. Maka jika amalan itu bertentangan dilihat dari sisi manapun maka jelas amalan itu tidak sesuai dengan syariat. Tapi kalau masih sesuai dengan prinsip para ulama menunjukkan sikap “ingin tahu dalil aslinya”.

Artinya, mereka yang memiliki ghirah keislaman yang tinggi – dan biasanya awam dalam masalah agama – ingin apa yang mereka lakukan adalah sesuai sunah Rasulullah Saw. Masalahnya, kadang semangat ini menjadikan mereka tidak begitu respon lagi kalau praktik keagamaan tertentu bukan bersumber dari Nabi Saw. – misalnya hanya praktik para ulama atau pendapat para ulama dari satu kitab tertentu.

Baca Juga :  Kontribusi K.H. Hasyim Asy’ari terhadap Pengembangan Kajian Hadis di Indonesia

Indikator ketiga adalah melihat perbedaan rincian hukumnya. Enam hukum yang dikenal dalam Islam mulai dari wajib, nadb, mubah, khilaf al-awla, makruh, hingga haram. Maka, kalau ada amalan apapun yang berkecenderungan sesuai dengan prinsip syariat yang dipahami dengan baik dan jelas, maka ada kebenaran didalamnya. Jika tidak maka jelas ia disebut bid’ah.

Masih menurut K.H. Hasyim Asy’ari, penggunaan tolok ukur tadi banyak dilakukan oleh para ulama yang benar-benar mendalam ilmunya (al-muhaqqiqiin). Boleh jadi, sebagai pembaca kita masih bertanya-tanya, kalau indikator di atas masih terlihat “abstrak” dan ingin tahu bagaimana penerapan praktisnya. Tapi, ini justru menunjukkan kalau amaliah di dalam menjalankan keislaman kita sebenarnya tersedia banyak pilihan namun kita butuh keilmuan yang jelas juga untuk memahaminya. Tidak asal langsung merujuk kepada Quran dan Sunnah lalu melahirkan pemahaman yang (itu saja yang) benar satu-satunya. Wallahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here