Tiga Hal Paling Dicintai Abu Bakar As-Shiddiq

0
1521

BincangSyariah.Com – Sebagai orang pertama dari kalangan laki-laki yang membenarakan ajaran Rasulullah, Abu Bakar belakangan mendapat gelar as-Shiddiq (orang yang berkata benar). Bermula dari peristiwa isra’ mi’raj  yang diceritakan Rasululullah kepada pada kepada para pengikutnya, Abu Bakar As-Shiddiq adalah orang pertama yang membenarkan peristiwa itu.

Bakti Abu Bakar kepada manusia agung yakni, nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam tidak bisa diragukan. Disaat orang jahiliyah mengagung-agungkan kecintaan pada harta benda dan menghamba padanya, justru Abu Bakar menunjukkan hal berbeda dengan masyarakat jahiliyah tentang kecintaan pada dunia.

فقال ابو بكر الصديق رضي الله عنه حبب الي من الدنيا ثلاث النظر الى وجه رسول الله وانفاق مالي على رسول الله وانتكون ابنتي تحت رسول الله

Maka Abu Bakar berkata, “Ada tiga hal yang aku cintai di dunia ini yakni, melihat wajah Rasulullah, menginfakkan hartaku atas Rasulullah, dan anak perempuanku dibawah (dinikahi) Rasulullah.”  (Syarh Nashaihul Ibad  h. 17)

Pertama, melihat wajah Rasulullah. Sejak pertama kali melihat Rasulullah, Abu Bakar langsung jatuh hati. Teduh aura, tampan rupa, elok perangai, sopan perilaku, santun kata, serta segala kesempurnaan yang melakat dalam diri Rasulullah telah membuat Abu Bakar terpesona. Saat berjumpa Rasalullah, Abu Bakar tidak pernah memalingkan wajah bahkan dalam tempo yang sebentar saja pun tidak.

Kekaguman pada perangai Rasulullah telah menghilangkan dan menaklukkan kecintaan Abu Bakar pada meronanya kehidupan dunia. Wajar bila diantara khalafaurrasyidin yang empat, Abu Bakar yang paling hafal wajah Rasulullah. Lebih dari itu, melalui raut wajah, Abu Bakar mengerti apa yang dirasakan Rasulullah meskipun tanpa melalui tutur kata bijak Rasulullah.

Wajah disini bermakna luas. Artinya, tidak sekadar dimaksudkan khusus hanya pada wajah Rasulullah. Hal ini berdasarkan pada kebiasaan orang Arab yang ketika menyukai sesuatu hanya disebut sebagian saja. Ini selaras dengan kaidah, min dzikril juzi wa iradatul kulli (menyebut sebagiannya saja dari sesuatu sedang yang dikehendaki adalah menyeluruh).

Baca Juga :  Perkalian dan Pertambahan, Apakah Termasuk Salib? Ini Jawaban Menarik Ulama Arab Saudi

Kedua, menginfakkan harta atas Rasulullah. Artinya, tidak pernah hitungan-hitungan dalam menginfakkan harta untuk kepentingan agama Allah yang dibawa oleh Rasulullah. Maka wajar jika sayyidina  Abu Bakar as-Shiddiq diakui oleh banyak orang sebagai orang yang sangat dan paling dermawan diantara sahabat yang lain. Sebagai orang yang berprofesi sebagai pedagang Abu Bakar sering menyimpan sejumlah besar hasilnya.

Pernah suatu ketika, Sayyidina Umar bin Khattab berlomba untuk mengungguli kedermawanan Abu Bakar. Umar kemudian membawa separuh kekayaan miliknya untuk diberikan kepada Rasulullah. Dengan segala hajat baik dan penuh syukur, Umar bin Khattab berkata, “Kutinggalkan dibelakangku (keluargaku) hanya separuh dari yang kumiliki.”

Setelah Umar menyerahkan separuh kekayaannya, Abu Bakar datang membawa semua kekayaan yang dimiliki untuk diserahkan pada Rasulullah. Dengan penuh harap dan cinta, Abu Bakar berkata, “Kutinggalkan di belakangku (keluargaku) Allah dan rasulnya.”  Melalui peristiwa ini dikatakan Umar bin khattab makin gencar berbagi sampai-sampai pakaian yang dipakai Umar lusuh penuh tambalan karena cinta memberi.

Ketiga, anak perempuan diperistri Rasulullah. Abu Bakar dikarunia enam anak tiga laki-laki yakni, sayyidina Muhammad bin Abu Bakar, sayyidina Abdullah bin Abi Bakar, dan sayyidina  Abdurrahman ibn Abi Bakar serta tiga perempuan yakni, sayyidah Aisyah, sayyidah Asma’ binti Abu Bakar, dan sayyidah Ummu Kultsum binti Abu Bakar. Sayyidah Aisyah adalah anak perempuan Abu Bakar yang diperistri Rasululluah.

Oleh karena kecintaan Abu Bakar pada Rasulullah dalam sejarah disubutkan bahwa, Abu Bakar berkenan menikahkan putrinya yang masih berumur enam tahun. Selain karena kecintaan Abu Bakar pada Rasulullah di dunia Abu Bakar berhara kelak disurga benar-benar bisa berkumpul bersama Rasulullah. Begitulah kecintaan Abu Bakar pada Rasulullah yang tidak hanya ingin menatap Rasulullah di dunia tetapi juga agar bisa berlama-lama di surga Allah kelak.

Baca Juga :  Cara Nabi Mengajar Sahabat Agar Tidak Jenuh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here