Tiga Golongan yang Kelak Menjadi Musuh Allah

0
1197

BincangSyariah.Com – Jika menjadi kekasih Allah menjadi harapan indah bagi setiap muslim, maka menjadi musuh Allah adalah sebuah petaka yang perlu dihindari. Menjadi musuh Allah membuatnya selalu disertai murka Allah. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah menyebutkan tiga golongan yang kelak akan menjadi musuh bagi Allah. Hadis tersebut adalah sebagai berikut:

قالرسول صلى الله عليه وسلم قال (قال اللهُ : ثلاثةٌ أنا خصمهم يومَ القيامةِ: رجلٌ أعطى بي ثم غدر، ورجلٌ باع حرًّا فأكل ثمنَه، ورجلٌ استأجرَ أجيرًا فاستوفى منهُ ولم يُعْطِه أجرَه)


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Allah berfirman: ada tiga golongan, aku akan menjadi musuhnya, niscaya aku memusuhinya. (mereka itu adalah) seseorang yang berjanji dengan nama-Ku kemudian ia mengingkari, dan seseorang yang menjual orang merdeka kemudian melaknat hasilnya, dan seseorang yang memperkerjakan buruh dan buruh tersebut telah menyempurnakan pekerjaannya, namun ia tidak memberikan upahnya. 

Hadis tersebut menyiratkan sekilas tentang kriteria kesalehan seseorang kepada saudaranya. Allah menyebutkan bahwa golongan pertama yang kelak menjadi musuh Allah adalah mereka yang ingkar janji.

Dalam dunia Islam, janji dianalogikan sebagai sebuah utang, yang mana utang adalah wajib ditunaikan. Bahkan secara tidak langsung orang yang mengingkari janjinya adalah masuk dalam kategori orang munafik.

Selanjutnya adalah orang yang menjual orang, lantas menikmati hasil penjualannya tersebut. Hal ini mengingtakan kita kembali ke alam perbudakan yang sering terjadi pada zaman pra Islam.

Dalam praktik zaman sekarang, penjualan orang tersebut bisa dikemas dengan rapi, atau biasa yang dikenal dengan human trafficking, sebuah perdagangan manusia dalam segala jenis bentuk jual beli manusia dan juga eksploitasi terhadap manusia seperti pelacuran atau pengambilan organ tubuh manusia. Praktik seperti itulah yang tidak diperbolehkan dalam QS An Nur ayat 33:

Baca Juga :  Ulama Indonesia Menghiasi Daftar 500 Muslim Berpengaruh di Dunia, Apa Langkah Kita Selanjutnya?

وَلَا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِتَبْتَغُوا عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَمَنْ يُكْرِهْهُنَّ فَإِنَّ اللَّهَ مِنْ بَعْدِ إِكْرَاهِهِنَّ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu.

Golongan yang terakhir yang kelak akan menjadi musuh Allah adalah seorang atasan yang tidak menunaikan kewajiban untuk membayar bawahannya. Bekerja dalam Islam diartikan sebagai bentuk pengabdian seseorang baik pada Tuhan maupun bentuk usahanya untuk mendapatkan penghasilan, sehingga ia mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Islam menjamin hak pekerja dengan baik.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan memberikan upah sebelum keringat orang yang bekerja itu kering. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ

Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here