Tiga Fakultas Jiwa Menurut Ibnu Miskawaih

0
21

BincangSyariah.Com – Ibnu Miskawaih adalah salah satu filsuf Islam yang memiliki pandangan tentang konsep jiwa manusia. Pemikirannya tentang manusia tidak jauh berbeda dengan para failasuf atau filsuf Islam lain.

Menurut Ibnu Miskawaih, ada tiga daya dalam diri manusia. Pertama, daya nafsu (al-nafs al-bahimiyyat) sebagai daya paling rendah. Kedua, daya berani (al-nafs al-sabu’iyyat) sebagai daya pertengahan. Ketiga, daya berpikir (al-nafs al-nathiqah) sebagai daya tertinggi.

Miskawaih adalah filsuf yang sering menggabungkan aspek-aspek pemikiran PlatoAristotelesPhytagorasGalen, dan pemikir lainnya yang telah dipengaruhi filosofi Yunani.

Dia berusaha kreatif dengan menggunakan pendekatan-pendekatan berbeda untuk menjelaskan masalah-masalah penting. Pembahasan tentang jiwa manusia adalah salah satu pemikirannya yang penting.

Pemikiran Tentang Jiwa

Karya Ibnu Miskawaih yang berjudul Tahdzib al-Akhlaq memaparkan tentang sisi spiritual manusia yang dideskripsikan sebagai produk dari gerak substansional yang bukan berasal dari materi.

Jiwa menggunakan alat-alatnya yakni organ tubuh sehingga akan menimbulkan kehidupan. Hal tersebut tidak berarti bahwa jiwa akan mati jika sudah tidak berhubungan dengan badan.

Miskawaih, sebagaimana dikutip Kwaja Abdul Haimid dalam Ibnu Miskawaih: A Studi of His Algauz Alasgar (1946) menuliskan bahwa jiwa adalah sebuah subtansi yang hidup abadi.

Karena jiwa abadi, maka yang terkena hukum kerusakan dan kematian akibat perpisahan antara jiwa dengan badan, hanya badan semata. Jiwa bukan badan, bukan bagian dari badan, bukan juga keadaan dalam badan.

Jiwa bagi Miskawaih adalah entitas lain yang berbeda dengan badan, baik dari segi subtansi, penilaian, sifat-sifat, dan tingkah lakunya. Karena itulah jiwa mampu menerima gambaran-gambaran berbagai hal dalam waktu yang sama.

Badan manusia hanya bisa menerima gambaran tentang suatu hal dalam satu waktu. Sementara jiwa mampu menangkap gambaran segala sesuatu, baik yang spiritual atau material. Dalam jiwa, ada daya pengenalan akal yang tidak didahulu oleh indera.

Perbedaan antara jiwa dengan badan bisa dibuktikan dengan keberadaan jiwa atau jiwa rasional yang memiliki kecenderungan pada sesuatu yang bukan jasadi.

Jiwa ingin mengetahui realitas ke-Tuhanan, dan lebih menyukai yang lebih mulia ketimbang hal-hal jasmaniah. Sementara tubuh lebih cenderung menyukai hal-hal inderawi dan badaniah.

Tiga Fakultas dalam Jiwa

Jiwa menurut Ibnu Miskawaih memiliki tiga bagian yakni fakultas berpikir (Alquwwah Alnatiqah), fakultas nafsu (Alquwwah Syahwiyah) dan fakultas amarah (Alquwwah Alghadlabiyah).

Fakultas berpikir disebut sebagai fakultas raja dan organ tubuh yang digunakan adalah otak. Fakultas nafsu syahwiyah adalah fakultas bintang dengan menggunakan organ tubuh hati.

Fakultas amarah disebut sebagai fakultas binatang buas dan organ tubuh yang digunakan adalah jantung. Manusia akan menjadi manusia sebenarnya apabila mampu mengembangkan jiwa rasionalnya.

Menurut Miskawaih, perkembangan salah satu dari tiga fakultas tersebut akan merusak bahkan bisa meniadakan yang lainnya. Dia juga menekankan agar manusia senantiasa mengembangkan fakultas berpikir.

Keutamaan Fakultas Berpikir

Fakultas berpikir berhubungan dengan kemampuan manusia untuk mempertimbangkan realitas sesuatu. Fakultas ini mempunyai kekuatan untuk memperoleh ilmu dan berhubungan dengan kebenaran.

Dalam hal ini, Miskawaih terpengaruh oleh pemikiran Aristoteles tentang jiwa rasional yang memiliki fungsi untuk berpikir dan membuat keputusan. Fakultas berpikir inilah yang membedakan manusia dari hewan.

Fakultas berpikir jugalah yang mampu menciptakan budaya dan peradaban manusia serta mampu menerima berita-berita dari langit. Berita-berita dari langit yang dimaksud adalah berkaitan dengan firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an.

Menurut Ibnu Miskawaih, fakultas rasional akan berkembang menuju kesempurnaan apabila seorang manusia senantiasa mengejar pengetahuan dan menjauhkan diri dari hal-hal yang bersifat badaniah.

Menurut Miskawaih, orang dungu akan menjadikan fakultas berpikir sebagai pelayan nafsu syahwiyah dan amarahnya. Sementara itu, orang arif dan bijak menjadikan fakultas berpikir sebagai raja yang akan mengendalikan kekuatan syahwat dan amarah.

Manusia mampu berkomunikasi menggunakan bahasa dengan logika spiritual yakni berbicara dan berperilaku sesuai dengan bimbingan fakultas berpikir yang bisa mendekati kesempurnaannya.

Hal tersebut menandakan bahwa suara jiwa manusia mesti terbebaskan dari kungkungan naluri. Jiwa yang dimaksud adalah jiwa berpikir, sementara naluri adalah kumpulan keinginan bawaan manusia sebagai makhluk.

Keinginan manusia sebagai makhluk bisa berbentuk keinginan menikmati makanan, senggama, dan menginginkan berbagai macam kehormatan yang bersifat duniawi semata.

Keinginan tersebut juga termasuk naluri manusiawi dalam ungkapan rasa marah, berani, ingin berkuasa, dan lain sebagainya. Hal-hal yang berlandaskan nafsu semata.

Ibnu Miskawaih sengaja menekankan upaya fakultas rasional manusia untuk dijadikan panutan dan pengendali nafsu syahwiyah dan amarah. Dia menekankan bahwa dorongan naluri mesti ditaklukkan dan dikendalikan oleh hukum akal dan hukum syari’ah.

Melalui jiwa rasional, manusia akan terangkat derajatnya. Sebab, manusia yang paling mulia adalah manusia yang paling besar kadar jiwa rasional atau jiwa cerdasnya, dan hidupnya akan selalu mengikuti ajakan jiwa rasional tersebut.

Baca: Ibnu Miskawaih: Perumus Filsafat Etika Islam

Fakultas Amarah dan Nafsu

Fakultas jiwa amarah atau fakultas binatang buas terungkap dalam ekspresi marah, berani menghadapi bahaya, menghargai diri, ingin berkuasa, dan menginginkan berbagai macam penghormatan dalam hidup.

Fakultas amarah termasuk dalam golongan fakultas jiwa yang sedang, bukan golongan buruk sebagaimana nafsu kebinatangan, bukan pula baik seperti jiwa berpikir. Fakultas amarah berada diantara fakultas binatang (nafsu syahwiyah) dan fakultas berpikir.

Menurut Miskawaih, manusia yang menonjolkan fakultas amarah tergolong binatang buas karena telah menonjolkan apa yang menjadi perilaku khusus binatang buas.

Fakultas amarah tidak perlu dimatikan, tapi harus dibimbing dan dikendalikan. Manusia yang mulia bukan manusia yang tidak bisa marah, tapi manusia yang bisa mengendalikan marahnya.

Fakultas jiwa yang paling rendah tingkatannya adalah fakultas nafsu syahwiyah (kebinatangan). Menurut Ibnu Miskawaih, orang yang senantiasa menuruti kemauan fakultas ini akan mempunyai sifat pengecut, ‘ujub, sombong, penipu, mengolok-olok dan hina-dina.

Ibnu Miskawaih dalam Tahdzib al-Akhlaq menyatakan: “Manusia yang dikuasai nafsu akan turun derajat kemanusiaanya sehingga mendekati derajat binatang yang hanya memiliki cenderung pada kelezatan makanan dan senggama.”

Konsep Ibnu Miskawaih tentang tiga fakulatas ini menurut K. Zurayk51 berasal dari doktrin Plato. Tiga fakultas ini dapat diartikan tiga jiwa, dan dapat pula diberi pengertian tiga fakultas dalam satu jiwa.

Penekanan Terhadap Jiwa

Dalam filsafat Ibnu Miskawaih, pembahasan tentang jiwa lebih ditekankan dengan penjelasan yang tidak mendiskreditkan keberadaan badan karena keberadaan badan tidak diingkari oleh Miskawaih,

Menurut Miskawaih, perlu ada penekanan pada pentingnya jiwa untuk dibebaskan dari kejahatan-kejahatan yang berhubungan dengan badan atau kejahatan nafsu badaniah.

Artinya adalah bahwa jiwa sebagai subtansi immaterial manusia tidak mengalami kematian. Jiwa dalam beberapa waktu terpenjara oleh badan, yaitu terpengaruh oleh nafsu-nafsu badani.

Maka jika sudah disucikan, jiwa akan berada di tempat yang tinggi. Jiwa dalam pandangan Miskawaih berasal dari limpahan akal aktif. Menurut dia, kemunculan segala sesuatu dalam diri manusia adalah dari Tuhan secara emanasi. Dia menjelaskan sebagai berikut:

Sesungguhnya tiap benda mempunyai bentuk tertentu. Dengan demikian, ia tidak bisa menerima bentuk lain selain bentuk yang pertama, kecuali jika benda itu betul-betul telah terpisah dari bentuknya yang pertama.

Contohnya adalah apabila suatu benda telah memiliki sosok bentuk, segitiga misalnya, maka ia tidak akan mungkin menerima bentuk lainnya kecuali sesudah ia berpisah dari bentuknya yang pertama.”

(Ibnu Miskawaih, Tahdzib Al-Akhlaq)

Karya-karya Ibnu Miskawaih

Ibnu Miskawaih telah menyusun kitab Tahdzibul achlaq wa tathhirul a’raaq. Karyanya yang lain adalah Tartib as Sa’adah, sebuah buku yang berisi tentang akhlak dan politik.

Ada juga Al Musthafa (syair pilihan), Jawidan Khirad (kumpulan ungkapan bijak), dan As Syaribah (tentang minuman).

Dalam bidang sejarah, karyanya yang berjudul Tajarib Al-Umam (pengalaman bangsa-bangsa) menjadi acuan sejarah dunia sampai dengan tahun 369 H. Karya-karyanya dalam bidang etika dinilai jauh lebih penting daripada karya-karyanya dalam bidang metafisika.

Bukunya Taharat Al A’raq (Purity of Desposition) lebih dikenal dengan nama Tahdhib AlAkhlaq (Cultivation of Morals) yang berisi penjelasan tentang jalan untuk meraih kestabilan akhlak yang tepat dalam perilaku yang teratur dan sistematis.[]

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here