Tiga Cara Menebus Dosa Ghibah Menurut Imam Nawawi

0
1647

BincangSyariah.Com – Ghibah adalah menyebut-nyebut orang lain dengan sesuatu yang tidak disenanginya. Baik menyebut sisi negatif dari sifatnya, fisiknya, atau pekerjaannya. Imam Nawawi dalam kitabnya, Al-Adzkar hal. 298 mendefinisikan ghibah sebagai berikut,

ذكرك الانسان بما فيه مما يكره سواء كان في بدنه او دينه او دنياه او نفسه او خلقه او خلقه او غير ذلك مما يتعلق به

Dzikrukal insana bima fihi mimma yakrahu sawaun kana fi badanihi au dinihi au dunyahu au nahsihu au kholqihi au khuluqihi au ghairu dzalika.

Ghibah adalah membicarakan orang lain dengan sesuatu yang tidak disenanginya, baik dari segi fisiknya, agamanya, duniawinya, psikisnya, perawakannya, wataknya, dan lain-lain yang berkaitan dengan mereka.

Ghibah termasuk salah satu maksiatnya lisan. Melakukan ghibah termasuk dosa yang berhubungan dengan manusia, haqqul adami. Artinya, sebelum ia minta maaf pada yang bersangkutan, maka dosanya tidak diampuni oleh Allah Swt. Bahkan orang yang suka ghibah diibaratkan dengan orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Hujurat (49) : 12,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ  اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.

Dalam Tafsir Jalalain Juz 2/hal. 424, Imam Jalaluddin As-Suyuthi menjelaskan bahwa orang yang suka berghibah di masa hidupnya diibaratkan dengan memakan bangkai saudaranya. Menurut beliau, ghibah membicarakan orang lain dengan sesuatu yang dibencinya walaupun itu adalah fakta. Bahkan dari saking besarnya dosa ghibah, beliau menafsiri akhir ayat tersebut dengan perintah agar takut pada siksa ghibah dengan cara bertobat.

Baca Juga :  "Tajassus", Mencari-cari Kesalahan Orang Lain

Lalu, bagaiamana cara bertobat dari dosa ghibah? Apakah cukup dengan membaca istighfar? Atau, haruskah berterus terang pada orang yang dibicarakan?

Sebagaimana yang disebutkan di atas, ghibah termasuk maksiat yang berhubungan dengan hak manusia. Jadi, selain berhenti ghibah, menyesal, dan berjanji tidak akan mengulang, ia juga wajib minta maaf pada yang bersangkutan. Lalu bagaimana cara minta maaf? Apakah harus menjelaskan secara detail, atau bagaimana?

Untuk cara meminta maaf, Imam Nawawi menyebutkan ada dua cara. Pertama, jelaskan sejelas-jelasnya pada yang bersangkutan bahwa ia pernah menggunjingnya. Kedua, cukup minta maaf tanpa menjelaskan kesalahannya. Karena ghibah berbeda dengan hutang yang perlu dijelaskan. Namun, dari kedua cara tersebut yang paling disepakati oleh ashabus syafi’ie adalah yang pertama. Karena terkadang manusia bisa memafkan dari ghibah tertentu dan tidak bisa memaafkan yang lainnya.

Lalu, jika yang di-gosipin sudah meninggal dunia, bagaimana cara meminta maaf padanya? Dengan meninggalnya orang yang digunjing, maka tertutup jalan untuk minta maaf padanya. Namun para ulama mengajarkan pada kita untuk memperbanyak istighfar dan doa yang dikhususkan pada orang yang digunjing sebagai ganti dari permohonan maaf. Dengan seperti itu insyaallah dosa ghibah akan diampuni.

Oleh karena itu, jagalah lisan kita dari menyakiti orang lain. Baik secara langsung atau tidak. Allah Ta’ala A’lam.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here