Mengenal Asbabun Nuzul, Latar Diturunkannya Ayat Al-Qur’an

0
3079

BincangSyariah.Com – Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam merupakan kitab yang paling memiliki kekuatan sepanjang sejarah manusia. Kekuatan tersebut terkadang muncul dengan sendirinya karena aspek estetis al-Qur’an atau dimunculkan oleh manusia (ulama atau mufassir) melalui kajian-kajian tafsirnya.

Sebagai samudera pengetahuan, al-Qur’an tentu harus diselami, didalami, dipelajari, dan digali nilai-nilainya. Pengkajian dan penggalian nilai-nilai tersebut meniscayakan piranti-piranti ilmu. Oleh sebab itu, jumhur ulama bersepakat bahwa salah satu syarat untuk mengkaji al-Qur’an adalah menguasai piranti-piranti tersebut atau dalam bahasa teknisnya disebut ‘Ulumul Qur’an.

Di antara pembahasan di dalam ilmu-ilmu Al-Qur’an ‘Ulumul Qur’an adalah ilmu tentang asbabun nuzul. Ali as-Shabuny dalam kitab At-Tibyan fii Ulumil Qur’an mendefinisikan asbabun nuzul apabila terjadi suatu kasus (kejadian), kemudian turun satu atau beberapa ayat yang berhubungan dengan kasus tersebut, maka itulah yang disebut dengan Asbabun Nuzul. Dari segi lain, kadang-kadang ada suatu pertanyaan yang dilontarkan kepada Nabi SAW tentang suatu hukum syara’ atau penjelasan secara terperinci tentang urusan agama. Kemudian turunlah satu atau beberapa ayat yang berhubungan dengan pertanyaan tersebut.

Ayat-ayat al-Quran diklasifikasikan kepada dua kelompok; pertama ayat-ayat yang mempunyai sebab atau latar belakang turun dan kedua ayat-ayat yang diturunkan tidak didahului oleh suatu peristiwa atau pertanyaan. Ayat dalam kategori yang terakhir ini lebih banyak dari bagian pertama. Para mufassir membagi peristiwa asbabun nuzul itu kepada tiga macam, yaitu:

Pertama, Perdebatan (jadal), yaitu perdebatan antara sesama umat Islam atau antara umat Islam dengan orang-orang kafir. Misalnya perdebatan antara sahabat Nabi saw dengan orang yahudi yang menyebabkan turunnya surah Ali Imran (3) ayat 96. Mujahid berkata; suatu ketika umat Islam dan Yahudi saling membanggakan kiblat mereka. Orang Yahudi berkata, Baitul Maqdis lebih utama dari Ka’bah karena ke sanalah tempat berhijrahnya para nabi dan ia terletak pada tanah suci. Umat Islam berkata pula, Ka’bahlah yang paling mulia dan utama. Maka kemudian turun surah Ali Imran (3) ayat 96 tersebut, yaitu:

Baca Juga :  Dialog Dengan Anak Soal Makna Ziarah Makam Orang Saleh

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat (beribadah)  manusia ialah baitullah yang ada di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.

Kedua, Kesalahan, yaitu peristiwa yang merupakan perbuatan salah yang dilakukan oleh sahabat kemudian turun ayat guna meluruskan kesalahan tersebut agar tidak terulang lagi. Misalnya kejadian yang menyebabkan turunnya surah An-Nisa (4) ayat 43, yaitu:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu dekati shalat padahal kamu sedang mabuk.

Pada suatu ketika Abdurrahman bin Auf melakukan jamuan (kenduri). Dia mengundang para sahabat Nabi dan menjamu mereka dengan makanan dan minuman khamr. Mereka pun berpesta dengan makanan dan minuman tersebut kemudian mabuk. Selanjutnya waktu maghrib pun tiba. Mereka lalu shalat dengan diimami oleh seorang dari mereka. Sang imam dalam shalatnya membaca surah dengan bacaan yang salah. Beliau membaca laa nafyi (kata yang bermakna tidak) pada kata Laa a’budu maa ta’budun tidak dipanjangkan, sehingga berubah maknanya. Peristiwa ini kemudian disampaikan kepada Nabi, maka turunlah ayat di atas.

Ketiga, Harapan dan Keinginan, seperti turunnya ayat:

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ

Sungguh Kami sering melihat mukamu menengadah ke langit. Maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada palingkanlah mukamu ke arahnya.

Al-Barra’ mengatakan setelah sampai di kota Madinah, Rasul saw shalat menghadap Baitul Maqdis selama 16 bulan, padahal Ia lebih suka berkiblat ke Ka’bah. Maka setiap kali shalat, Nabi selalu menengadah ke langit mengharap turunnya wahyu yang memerintahkan beliau menghadap ke Ka’bah. Maka justru itu, turunlah ayat di atas.

Baca Juga :  Menunda Pembagian Harta Warisan, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?

Peristiwa yang menyebabkan turunnya suatu ayat pada hakikatnya adalah hadis. Oleh sebab itu, asbabun nuzul termasuk ilmu riwayah bukan dirayah. Ia ada yang shahih dan ada pula yang tidak shahih. Yang boleh dijadikan pedoman dalam menentukan asbabun nuzul adalah perkataan para sahabat yang langsung menyaksikan peristiwa, atau diterimanya berita tentang peristiwa itu dari sahabat lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here