Tiga Amalan yang Membuat Kita Dicintai Allah

0
2637

BincangSyariah.Com – Setiap orang shaleh pasti menginginkan keridaan Allah. Ia selalu memohon keridaan Allah atas setiap langkah-langkahnya. Dan ia berusaha agar selalu mendapatkan mahabbah dari Allah dengan cara senantiasa mengamalkan amalan yang dicintai Allah.

Nabi bersabda:

عن ابن مسعود قال سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم أى العمل أحب إلى الله قال الصلاة على وقتها قلت ثم أى قال بر الوالدين قلت ثم أى قال الجهاد فى سبيل الله. رواه الشيخان.

Dari Ibnu Mas’ud ia berkata, aku bertanya kepada Rasulullah, “amalan  apa yang paling dicintai Allah?” Rasulullah bersabda”shalat pada waktunya”. “Lalu apa?” Beliau bersabda “berbuat baik kepada kedua orang tua”, “Lalu apa?” Beliau bersabda “berperang di jalan Allah. (HR. Bukhari Muslim).

Setidaknya ada tiga amalan yang paling dicintai Allah.

Pertama, shalat di awal waktu. Seperti yang telah diketahui bersama bahwasanya shalat ada waktunya. Sebagaimana firman Allah dalam surat An-nisa ayat 103.

Menurut Ibnu Hajar yang dimaksud shalat tepat waktu adalah shalat di permukaan waktu.(Dikutip dari media At-Taubah Institute tentang awal kewajiban shalat tepat waktu).

Jadi, boleh saja shalat dikerjakan di awal waktu, pertengan atau akhir waktu. Namun menurut Imam Ibnu Hajar yang dimaksud sahalat pada waktunya dalam hadis di atas maksudnya adalah dilaksanakan di awal waktu.

Kedua, berbuat baik kepada kedua orang tua. Cara yang paling baik dalam berbuat baik kepada kedua orang tua adalah dengan berbakti kepada keduanya. Tindakan seorang anak harus berlandaskan keridoan kedua orang tua  dengan begitu maka Allah pun rido kepadanya.

وعن عبد الله بن عمر بن العاص رضي الله عنهما:عن النبى صلى الله عليه وسلم قال: رضا الله فى رضاالوالدين وسخط الله فى سخط الوالدين (أخرج الترمذى وصحه ابن حبان والحاكم)

Baca Juga :  Bolehkah Berzikir dengan Mengulang-ulang Nama-nama Allah dalam Al-Asma’ Al-Husna?

Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra. : Dari Nabi bersabda: keridoan Allah berada di keridoan kedua orang tua. Dan murka Allah tergantung murkanya kedua orang tua.( HR. At-Tirmidzi dan disahkan oleh Ibnu Hibban dan Hakim).

Sebagai manusia biasa tentunya kedua orang tua tidak lepas dari salah dan dosa. Tidak semua perintah orang tua wajib dilaksanakan. Jika perintah itu tidak sesuai dengan ajaran agama maka seorang anak harus menolak dengan lemah lembut, bukan dengan berkata kasar dan menghardik. Begitu pula jika kedua atau salah-satunya didapati melakukan perbuatan yang kurang baik maka cegahlah dengan baik disertai pemahaman dengan tanpa ada niatan mengguruinya. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Isra’ ayat 23-24.

Ketiga, berjihad di jalan Allah. Maksudnya adalah berperang melawan orang-orang kafir (kafir harbi) dalam menegakkan agama Islam dan melindungi umat Islam dari kejahatan orang kafir. Sebagaimana yang dilakukan baginda Nabi beserta para sahabat.

Dalam hal ini perang sudah tidak ada lagi khususnya di Indonesia dan beberapa negara lainnya. Untuk mewujudkan nomor tiga ini adalah dengan kembali kepda yang nomor dua yaitu berbakti kepada orang tua.

Nabi bersabda:

أتى رجل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وقال: أننى أشتهى الجهاد ولا أقدر عليه قال هل بقي من والديك أحد قال أمى قال قاتل لله فى برها فإذا فعلت فأنت حاج ومعتمر ومجاهد.( رواه أبو يعلى والطبرانى)

Seorang laki-laki datang kepda Nabi dan dia berkata “sesungguhnya aku ingin berperang akan tetapi aku tidak mampu berperang” Nabi bersabda “ apakah salah satu kedua orang tuamu masih ada?” laki-laki itu menjawab “ibuku” lalu Nabi bersabda “ berperang lah karena Allah dengan berbakti kepadanya (ibu), jika engkau melakukannya maka engkau seperti berhaji, berumrah dan berperang. (HR. Abu Ya’la dan At-Thabrani).

Baca Juga :  Hukum Konsumsi Doping bagi Atlet

Jika orang telah melakukan tiga hal di atas maka ia layak mendapatkan cinta dari Allah. Karena Allah cinta kepada tiga hal tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here