Tiga Akhlak terhadap Sesama Menurut Ibnu Taimiyah

0
66

BincangSyariah.Com – Akhlak yang mulia adalah asas yang dipegang dalam agama Islam dalam rangka membina umat dan memperbaiki masyarakat. Tinggi dan mulianya sebuah masyarakat tergantung pada kedudukan anggotanya tergantung pada sejauh mana orang berpegang kepada akhlak yang mulia. Kita harus menerapkan akhlak terhadap sesama.

Begitu juga dengan jatuh dan rusaknya sebuah masyarakat akan dinilai apabila orang-orangnya meninggalkan akhlak yang mulia. Nabi Muhammad Saw. telah mengejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari beliau dan menunjukkan kepada umatnya bagaimana agar melaksanakan akhlak yang terpuji.

Rasulullah Saw. adalah suri tauladan bagi umatnya dalam segala aspek kehidupan. Kemuliaan akhlak beliau sebagai seorang pemimpin, panglima perang, seorang bapak, suami, anak dan lainnya adalah contoh yang sempurna.

Dalam buku Sejarah Sosial Pendidikan Islam (2005), akhlak terhadap sesama menurut Ibnu Taimiyah di antaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, mencegah diri untuk tidak mengganggu saudaranya, baik itu berkaitan dengan harta, jiwa ataupun kehormatan. Barang siapa yang mengganggu saudaranya dengan gangguan apa pun tidak dikatakan sebagai orang yang berakhlak mulia.

Kedua, bersikap baik dan pemurah. Sikap ini tidak hanya berkaitan dengan harta saja tapi bisa juga dengan kedudukan, jiwa dan segala sesuatu yang bermanfaat bagi saudaranya. Oleh karena itu, Islam sangat melarang sifat bakhil atau kikir dan menganjurkan untuk menolong saudaranya.

Riwayat Abu Hurairah bahwa Nabi Muhamamd Saw telah bersabda, “Pada setiap hari setiap sendi manusia harus ditunaikan sedekahnya ketika matahari terbit. Seterusnya baginda bersabda, ‘Berlaku adil di antara dua orang manusia adalah sedekah, membantu seseorang naik ke atas binatang tunggangannya atau mengangkatkan barang-barangnya ke atas belakang binatang tunggangannya juga adalah sedekah.’ Rasulullah Saw bersabda lagi, ‘Perkataan yang baik adalah sedekah, setiap langkah menuju shalat adalah sedekah dan membuang sesuatu yang berbahaya di jalan adalah sedekah.’” (H.R. Bukhari, Kitab Perdamaian: 2508)

Baca Juga :  Agar Perempuan Haid Dapat Keutamaan Lailatul Qadar

Apabila ada yang berbuat buruk kepada sesama atau berbuat zalim pada sesama, maka maafkanlah. Sikap tersebut sebagaimana firman Allah Swt. sebagai berikut:

Qur’an Surat Ali ‘Imran Ayat 133

 ۞ وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Wa sāri’ū ilā magfiratim mir rabbikum wa jannatin ‘arḍuhas-samāwātu wal-arḍu u’iddat lil-muttaqīn

Artinya: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,”

Qur’an Surat Ali ‘Imran Ayat 134

 ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

Allażīna yunfiqụna fis-sarrā`i waḍ-ḍarrā`i wal-kāẓimīnal-gaiẓa wal-‘āfīna ‘anin-nās, wallāhu yuḥibbul-muḥsinīn

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Ketiga, berwajah cerah.

Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw, “Janganlah meremehkan perbuatan yang baik sekecil apapun, walau hanya bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.” (HR. Muslim, Kitabul Birr)

Wajah yang berseri-seri atau cerah akan mendatangkan kebahagian terhadap orang yang bertemu dengan kita, menimbulkan rasa kasih-sayang sesama saudara, dan melapangkan dada. Jauh berbeda dengan orang yang selalu cemberut wajahnya, orang-orang akan meninggalkannya karena tidak merasa nyaman duduk bersamanya.

Akhlak atau moral adalah warna-warni kehidupan manusia dari masa ke masa. Nabi Muhammad Saw. mempunyai tugas dan misi utama untuk menegakkan nilai-nilai moral. Upaya untuk menegakkan moral menjadi sangat penting dalam rangka mencapai keharmonisan hidup.

Tiga akhlak terhadap sesama menurut Ibnu Taimiyah mempunyai peran yang sangat penting dalam Islam, juga bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Bisa dibilang, akhlak adalah fondasi utama dalam pembentukan pribadi manusia seutuhnya.

Baca Juga :  Kitab Bahjat al-Wudluh: Hadis tentang Niat dan Anjuran untuk Memperbagusnya

Selain itu, akhlak juga bisa menjadi alat kontrol psikis dan sosial bagi individu dan masyarakat. Tanpa akhlak, manusia akan berada dengan kumpulan hewan dan binatang yang tidak memiliki tata nilai dalam menjalani kehidupannya.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here