Kajian Hadis: Larangan Tidur Sebelum Isya dan Mengobrol Setelahnya

0
2170

BincangSyariah.Com – Dengan rutinitas kerja sebegitu padat, beberapa kaum urban biasanya meluangkan waktu selepas isya untuk cool down dan bersantai dengan handai tolan maupun keluarga. Makan malam, duduk di kafe, bermain games, atau sekedar bercakap-cakap kesana-kemari tentang berbagai hal.

Karena agama Islam telah mengatur ragam pasal kehidupan secara holistik dari rahim ke liang lahad, kegiatan bakda isya ini ternyata tidak luput juga dari perhatian khatamu an-nabiyyin Rasulullah SAW.

عن أبي برزة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يكره النوم قبل العشاء والحديث بعدها

Dari Abi Barzah, bahwa Nabi SAW tidak suka tidur sebelum shalat isya dan  tidak berbincang-bincang setelahnya. (HR. Bukhari no. 535, Muslim no. 1026)

عن عائشة ، قالت : مانام رسول الله يأتي قبل العشاء، ولاسمر بعدها

Aisyah berkata: Rasulullah SAW tidak tidur sebelum isya dan tidak berbincang-bincang setelahnya. (HR. Ibnu Majah no. 94)

Makruh-nya tidur sebelum isya menurut Imam an-Nawawi tidak mutlak. Jika seorang muslim sanggup dan sudah terbiasa mengakhirkan isya dengan maksud dibarengi shalat malam, sebagaimana yang dilakukan sahabat Umar, tidak mengapa baginya. (Anjuran Membaca Shalawat Sebelum Tidur)

Begitu juga ngobrol setelah isya terdapat pengecualian. Dari Abdullah bin ‘Amr, bahwa Nabi SAW pernah bermusyawarah dengan para sahabat tentang Bani Israil hingga larut malam/ hingga subuh. (HR. Abu Daud 3363)

Kompromi (al-jam’u) dari kedua redaksi ini adalah dengan melihat ‘illat (sebab) hukumnya. Imam an-Nawawi menjelaskan, selama bincang santai itu bermuatan manfaat dan maslahat seperti, ayah yang mendidik/menasihati anaknya, musafir yang mengharap keamanan dan keramahan dari penduduk setempat, rapat RT/RW untuk keharmonisan warga, dan seterusnya, tentunya hal tersebut dibolehkan bahkan dianjurkan.

Baca Juga :  Kitab Bahjat al-Wudluh: Hadis tentang Niat dan Anjuran untuk Memperbagusnya

Sebaliknya, bukan cuma bincang santai tapi mencakup juga kegiatan lain yang tidak ada manfaat di dalamnya dan beresiko melalaikan dia dari bangun subuh, inilah yang termasuk dalam kategori karahah.

Dalam hadis lain Rasulullah SAW pernah bersabda:

من حسن إسلام المرء: تركُه ما لا يعنيه

“Salah satu tanda baiknya keislaman seseorang adalah: meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya”. (HR. Tirmidzi)

Tersandra oleh waktu dengan aktivitas yang sedikit faedahnya di semua dimensi waktu hukumnya makruh. Apalagi, di waktu selepas isya yang beliau SAW aksentuasikan. Wallahua’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here