Tidak Semua yang Tidak Ada di Zaman Nabi Berarti Bid’ah, Lihat Cara al-Ghazali Menjelaskannya

3
1413

BincangSyariah.Com – Seperti tertera pada judulnya, saya hanya akan menyimpulkan pandangan al-Ghazali untuk menjelaskan sesuatu yang tidak ada praktiknya di zaman Nabi Saw. Kenapa saya tertarik memberikan judul, tidak semua yang tidak ada di zaman Nabi berarti bid’ah, karena berangkat dari kenyataan yang penulis hadapi sendiri.

Banyak sekali artikel-artikel yang sudah ditulis di web BincangSyariah.Com ini banyak juga yang mengutip Al-Qur’an dan Hadis, namun tidak kurang juga yang mengutip langsung dari kitab-kitab pendapat para ulama. Ada juga doa-doa atau kumpulan redaksi shalawat, sebagian merupakan tajribah (praktik) para ulama yang diamalkan terus-menerus baik bersumber dari ijazah dari gurunya ataupun redaksi yang dibuatnya sendiri karena kemurnian jiwa. Sebagian menyatakan itu ditulis setelah ia bermimpi bertemu Nabi Saw.

Problemnya, semua itu belakangan oleh sebagian muslimin sendiri direspon hanya dengan redaksi, “bagus, tapi sayang tidak ada rujukan dari Al-Qur’an dan Hadisnya.” Kedepan saya mungkin akan meluangkan waktu untuk mencoba menjelaskan persoalan ini, yang secara sederhana dapat dijawab bahwa tidak semua yang tidak dicantumkan Al-Qur’an dan Hadisnya menandakan itu bukan ajaran Islam.

Imam al-Ghazali (w. 505 H/1111 M), ulama besar kelahiran kota Tus (sekarang salah satu kota di Iran) yang namanya masyhur bahkan di dunia sampai saat ini, dalam karyanya Ihya’ ‘Ulumudddin (Kairo: Dar al-Hadits, j. 2 h. 4-5), punya cara menjelaskan yang baik sekali bagaimana menjelaskan apakah yang tidak dikerjakan oleh Nabi itu otomatis berarti tidak sunnah. Penjelasan ini justru saya dapatkan dalam bagian Adab al-Akl (etika-etika makan), dimana salah satu bagiannya adalah etika sebelum makan (qismun qabla al-akl).

Di bagian tersebut, menurut al-Ghazali salah satu etika yang perlu dilakukan sebelum makan adalah, meletakkan makanan diatas as-safarah yang diletakkan di atas tanah. As-Safarah adalah sejenis alas makan yang menjadi tradisi masyarakat Arab. Memang, beliau mengawalinya dengan memberikan komentar,

Baca Juga :  Baju Baru di Hari Raya, Haruskah?

فهو أقرب إلى فعل رسول الله صلى الله عليه وسلم من رفعه على المائدة

maka (meletakkan makanan di atas safarah) itu lebih dekat dengan perilaku Rasulullah Saw. daripada mengangkat (makanan) ke atas meja.

Alasannya, karena Nabi Saw. dalam praktiknya beliau selalu meletakkan makanan di bawah, dalilnya adalah sebuah hadis

كان رسول الله صلى الله عليه وسلّم إذا أتى بطعام وضعه على الأرض

Rasulullah Saw. itu ketika dihidangkan makanan, diletakkannya makanan itu di atas tanah (di bawah). (H.R. Ahmad dan al-Bazzar)

Namun, al-Ghazali dalam lanjutan penjelasannya memberikan batasan penting. Yaitu, pernyataannya bahwa pernyataannya soal makan di atas safarah itu lebih utama tidak berarti larangan untuk makan di atas meja. Pasalnya, jika tidak ada larangan yang jelas soal itu, menurut beliau itu tidak bisa menjadi alasan bahwa makan di atas meja otomatis terlarang hanya karena hadis diatas.

Lalu bagaimana dengan tuduhan bid’ah. Alasannya sederhana, meja makan tidak ada di zaman Nabi. Jawab al-Ghazali, tidak semua yang tidak ada di zaman Nabi berarti bid’ah. Yang dilarang adalah, bid’ah yang bertentangan dengan sunnah dan menghilangkan perintah syariat sementara ‘illat (alasan keharus melakukannya) masih mengharuskan menjalankannya.

Tambahnya, justru inovasi (ibda’) yang dilakukan sesudah masa Nabi bisa menjadi wajib ketika kondisi dan penyebabnya berubah. Misalnya, tujuan adanya meja makan adalah untuk memudahkan proses makan, maka yang seperti ini tidak bisa dikategorikan bertentangan dengan sunnah alias tidak makruh.

3 KOMENTAR

  1. Saya rasa penulis artikelnya yang belum memahami makna ‘bid’ah’ yang sering orang perdebatkan.. definisi orang-orang yang menolak dikatakan segala yang bid’ah itu sesat selalu menarik maknanya kepada perkara-perkara non ibadah atau sesuatu yang menjadi sarana ibadah.. seperti contohnya diatas, soal makan diatas meja, kemudian ditarik kesimpulan bahwa makan diatas meja adalah bid’ah karena Rasulullah tidak makan diatas meja.. nanti contoh lainnya lagi soal mobil, motor, speaker masjid, yang semuanya bukan bentuk sebuah ibadah.

    Maka lebih baik admin dan kontributor web ini mempraktekan apa yang pernah dimuat di web ini soal orang awam gak usah memasuki ranah ulama membahas ilmu agama, malah membuat umat semakin jauh memahami Islam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here