Tidak Mengikuti Isbat Ramadhan dari Pemerintah, Bagaimana Hukumnya?

3
294

BincangSyariah.Com – Dalam Islam, selain wajib taat kepada Allah dan Rasul-Nya, juga wajib taat kepada ulil amri, orang atau pemerintah yang bertanggung jawab mengurusi urusan sosial-masyarakat.

Dalam masalah keagamaan yang memiliki hubungan langsung dengan masyarakat banyak, pemerintah berhak ikut campur dan memutuskan. Dan hasil keputusan pemerintah tersebut wajib ditaati bersama. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surah Annisa ayat 59;

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوااللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِيالْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada rasul dan ulil amri kalian.”

Ayat di atas juga diperkuat dengan kaidah fiqih berikut;

حُكْمُ اْلحَاكِمِ اِلْزَامٌ وَيَرْفَعُ اْلخِلاَفَ

“Keputusan pemerintah itu mengikat (wajib dipatuhi) dan menghilangkan perbedaan pendapat (di antara masyarakat).”

Di antara keputusan pemerintah yang mengikat dan wajib dipatuhi seluruh lapisan masyarakat adalah hasil keputusan penentuan awal Ramadhan, atau yang dikenal dengan sebutan istbat Ramadhan. Seluruh lapisan masyarakat dari golongan dan kelompok apa pun, wajib patuh terhadap keputusan pemerintah.

Perbedaan pendapat yang terjadi di dalam masyarakat mengenai isbat Ramadhan harus tunduk di bawah keputusan pemerintah. Permulaan puasa harus melalui keputusan bersama dengan pemerintah bukan berdasarkan pendapat dan keputusan pribadi atau golongan. Dalam hadis riwayat al-Tirmidzi dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Nabi Saw. bersabda;

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ

Berpuasa adalah di mana pada hari kalian semua berpuasa, berbuka (berhari raya Idulfitri) adalah di mana pada hari kalian semua berbuka dan berkurban (berhari raya Iduladha) adalah di mana pada hari kalian semua berkurban.”

Imam al-Tirmidzi memperjelas maksud hadis ini dengan mengutip penafsiran sebagian ulama;

Baca Juga :  Metode Penggalian Hukum Islam Mazhab Maliki

وَفَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ هَذَا الْحَدِيثَ فَقَالَ : إِنَّمَا مَعْنَى هَذَا الصَّوْمُ وَالْفِطْرُ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَعِظَمِ النَّاسِ

Sebagian ulama telah menafsirkan hadis ini, mereka berkata: makna hadis ini adalah berpuasa dan berbuka (berhari raya) berdasarkan keputusan bersama dan kebanyakan orang (tidak sendiri-sendiri atau berkelompok-kelompok).”

Dalam kitab Hasyiyatus Sindi ‘ala ibni Majah, Imam al-Sindi mengatakan bahwa dalam masalah istbat Ramadhan, hari raya Idulfitri dan Iduladha wajib patuh terhadap keputusan pemerintah dan tidak melaksanakan berdasarkan keputusan pribadi atau kelompok. Beliau mengatakan;

وَالظَّاهِر أَنَّ مَعْنَاهُ أَنَّ هَذِهِ الْأُمُور لَيْسَ لِلْآحَادِ فِيهَا دَخْل وَلَيْسَ لَهُمْ التَّفَرُّد فِيهَا بَلْ الْأَمْر فِيهَا إِلَى الْإِمَام وَالْجَمَاعَة وَيَجِب عَلَى الْآحَاد اِتِّبَاعهمْ لِلْإِمَامِ وَالْجَمَاعَة

Dan nampak jelas bahwa makna hadis ini adalah bahwa perkara-perkara ini (menentukan waktu puasa dan hari raya) tidak boleh ada campur tangan individu-individu dan tidak boleh bagi mereka untuk menetapkan keputusan sendiri, akan tetapi keputusannya diserahkan kepada pemimpin dan keputusan bersama, dan wajib bagi individu-individu untuk mengikuti keputusan pemimpin dan keputusan bersama tersebut.”

Selain itu, mengikuti keputusan pemerintah dapat menghindarkan dari pertentangan yang tidak perlu terjadi di tengah masyarakat. Mengawali puasa bersama-sama dan mengakhiri juga bersama-sama akan menimbulkan persatuan dan kebersamaan di antara umat Islam sendiri. Hal itu bisa tercapai bila masyarakat mengikuti keputusan bersama dari pemeritah.

Wallahu a’lam



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

3 KOMENTAR

    • Knp di indonesia tdk bisa kompak. Begitu banyak golongan islam yg merasa dirinya /golongannya yg paling benar dan berani menentang anjuran allah dan rasulullah tentang kewajiban patuh dgn keputusan pemimpin./pemerintah

      • Berbeda itu rahmat, yg penting tdk saling mencaci dan menyalahkan. Masing2 mempunyai metode yg berbeda. Bagi kita yg awam ttg ilmu falak atau astronomi, sebaiknya kita ikuti pemerintah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here