Tidak Dikerjakan Nabi Bukan Berarti Haram

0
1634

BincangSyariah.Com – Memahami Sunnah sebenarnya harus komprehensif. Tidak jarang pemahaman yang kurang komprehensif membuat kita mudah menyangka bahwa hanya hal-hal tertentu saja yang dikategorikan sunnah, atau bahkan mengira bahwa apa yang tidak dikerjakan Nabi Saw. berarti mutlak keharamannya.

Menurut ulama besar asal Maroko, Syaikh Abdullah Muhammad as-Shiddiq al-Ghumari dalam karyanya, Husn at-Tafahhum wa ad-Dark li Mas’alati at-Tark, tidak semua yang ditinggalkan Nabi Saw. itu bermakna larangan. Ada enam setidaknya makna yang dapat digali dari apa yang ditinggalkan Nabi Saw.,

Pertama, Nabi Saw. meninggalkan suatu pekerjaan boleh jadi karena itu hanya bersifat kebiasaan atau adat satu kelompok masyarakat saja. Artinya, ia tidak bernilai syariat yang semestinya diikuti. Contohnya adalah ketika Nabi Saw. menolak ketika dihidangkan Dhobb (sejenis hewan yang sering dikira Biawak Arab, padahal tidak sama) bakar. Nabi Saw. enggan memakannya. Orang mengira Dhobb itu diharamkan. Namun Nabi menjawab: “Tidak, hanya saja Dhabb ini tidak ada di daerah saya (dimakan), jadi saya merasa enggan memakannya.”

Kedua, Nabi Saw. meninggalkannya karena lupa. Nabi pernah suatu ketika lupa saat shalat. Kemudian beliau ditanya, “apakah ada suatu perubahan dalam shalat?” Rasulullah bersabda: “Saya hanya manusia biasa, layaknya kalian juga lupa. Maka jika saya lupa, ingatkan saya.”

Ketiga, Nabi Saw. meninggalkan karena takut menjadi kewajiban bagi umatnya. Contohnya seperti shalat tarawih. Nabi Saw. sempat rutin melaksanakan, lalu ketika sudah banyak sahabat yang ikut berjamaah, Nabi Saw. menghentikannya.

Keempat, Nabi Saw. meninggalkannya karena memang tidak terpikir sebelumnya. Misalnya, Nabi Saw. berkhutbah dengan cara bersandar di batang pohon kurma, dan belum ada terbersit ide membuat kursi yang digunakan saat berkhutbah. Kemudian, para sahabat mengusulkan agar dibuat mimbar dan Nabi Saw. duduk diatas “dudukan” dari tanah sehingga Nabi Saw. bisa duduk diatasnya, dan dapat memantau orang yang baru hadir atau orang asing saat melaksanakan khutbah. Nabi Saw. pun menyetujuinya.

Baca Juga :  Tidak Selamanya Ibadah Sunnah itu Baik, Ini Penjelasannya

Kelima, Nabi Saw. meninggalkan karena amalan tersebut masuk kedalam kriteria keumuman makna ayat Al-Qur’an atau Hadis. Seperti ketika Nabi Saw. meninggalkan shalat Dhuha yang hukumnya sunnah, Nabi Saw. memang rajin melakukan namun pernah sekali-kali meninggalkan. Dan, shalat Dhuha ini masih masuk keumuman ayat,

 وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

dan lakukanlah kebaikan, agar kalian menjadi orang-orang yang beruntung. (al-Hajj (22): 77)

Keenam, Nabi Saw. meninggalkan suatu kebaikan karena khawatir justru kebaikan tersebut malah menggoncangkan keimanan para sahabatnya yang baru mulai beriman. Contohnya adalah Nabi Saw. pernah bercerita kepada Aisyah bahwa beliau sebenarnya ingin “membangun ulang” Ka’bah sesuai dengan model yang dibangun Nabi Saw. Namun, Nabi Saw. mengurungkan niatnya itu demi menjaga perasaan para sahabatnya di Mekkah yang baru masuk Islam.

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here