Benarkah Mengkhususkan Waktu Tertentu untuk Ibadah Tidak Boleh?

4
1121

BincangSyariah.Com – Kita sudah sering mendengar sebagian orang yang mengatakan bahwa menentukan waktu tertentu untuk beribadah tidak boleh. Misalnya, menentukan malam Jumat untuk membaca surah Yasin, dan lain sebagainya. Bahkan sebagian orang menuduh bahwa menentukan waktu tertentu untuk beribadah adalah bid’ah. Benarkah mengkhususkan waktu tertentu untuk beribadah tidak boleh?

Mengkhususkan waktu tertentu untuk beribadah, misalnya membaca surah Yasin di malam Jumat, melaksanakan shalat Tasbih di malam Kamis, dan lain sebagainya, hukumnya adalah boleh. Bahkan hal itu termasuk bagian dari sunnah. Karena Nabi Saw sendiri mengkhususkan banyak sekali perbuatan ibadah tertentu untuk dikerjakan di waktu dan hari tertentu.

Misalnya, Nabi Saw mengkhususkan hari Sabtu untuk datang ke masjid Kuba’. Beliau secara rutin mendatangi masjid Kuba’ hanya di hari Sabtu. Ini sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim berikut;

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ كُلَّ سَبْتٍ مَاشِيًا وَرَاكِبًا

Rasulullah  Saw senantiasa mengunjungi masjid Kuba’ pada setiap hari Sabtu, baik dengan berkendaraan ataupun berjalan kaki.

Hadis ini dijadikan dalil oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani mengenai kebolehan mengkhususkan waktu dan hari tertentu untuk melakukan ibadah. Beliau berkata dalam kitab Syarh Shahih Bukhari berikut;

وفي هذا الحديث على اختلاف طرقه دلالة على جواز تخصيص بعض الأيام ببعض الأعمال الصالحه والمداومه على ذلك وفيه أن النهي عن شد الرحال لغير المساجد الثلاثه ليس على التحريم

Hadis ini, dengan jalur-jalurnya yang berbeda, mengandung dalil bolehnya menentukan sebagian hari dengan sebagian amal saleh dan melakukannya secara rutin. Hadis ini juga mengandung dalil, bahwa larangan berziarah ke selain masjid yang tiga, bukan larangan yang diharamkan.

Baca Juga :  Setelah Bayar Zakat Masihkah Wajib Membayar Pajak?

Begitu juga Sayidah Fatimah, beliau mengkhususkan hari Jumat untuk menziarahi kuburan Sayidina Hamzah. Ini sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam Al-Hakim dari Husain bin Ali, dia berkata;

أن فاطمة بنت النبي صلى الله عليه و سلم كانت تزور قبر عمها حمزة كل جمعة فتصلي و تبكي عنده

Fathimah putri Nabi Saw selalu berziarah ke makam pamannya, Hamzah, setiap hari Jumat, lalu menunaikan shalat dan menangis di sampingnya.

4 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Di Indonesia, banyak petilasan yang dipercayai sebagai tempat zikir dan shalat oleh ulama dan kiai tertentu. Biasanya tempat ini dikunjungi oleh masyarakat karena dipercayai mengandung kebaikan dan keberkahan. Dalam Islam, bagaimana hukum mengkhususkan tempat tertentu untuk shalat dan zikir, sebagaimana dicontohkan oleh para ulama dan kiai tersebut? (Baca: Hukum Mengkhususkan Waktu Tertentu untuk Ibadah, Benarkah Bidah?) […]

  2. kalau yg dicontohkan rasulullah, sepakat. itu sudah benar 100%.
    rasulullah mengkhususkan suatu waktu, bagian dari rngkaian ibadah karena perintah/wahyu allah.

    yg masalah, jika yg mengkhususkan waktu itu bukan rasulullah, siapa yg perintahkan?
    apakah juga terima wahyu dari allah??

    hukum ibadah, HARAM kecuali ada perintah/wahyu dari allah & dicontohkan rasulullah

  3. Fathimah putri Nabi Saw selalu berziarah ke makam pamannya, Hamzah, setiap hari Jumat, lalu menunaikan shalat dan menangis di sampingnya.
    Semua contoh ada di zaman rasulullah masih hidup.
    atas jika atas sepengetahuan rasulullah & tidak dilarang, berarti boleh dilakukan.

    yg jadi beda pendapat, contoh/praktek2x yang dilakukan manusia menyimpang dari yang diperintahkan/dicontohkan rasulullah SETELAH RASULULLAH WAFAT.
    berarti tidak sepengetahuan rasulullah,
    rasulullah memberi contoh ibadah termasuk mengkhususkan waktu tertentu atas dasar wahyu allah.
    lantas, mereka (yg menyimpang) mengkhususkan waktu mereka untuk beribadah atas perintah/wahyu siapa??

    kasus bid’ah ttg ibadah = kasus masalah ibadah setelah rasulullah wafat, bukan saat beliau masih ada.

  4. Fathimah putri Nabi Saw selalu berziarah ke makam pamannya, Hamzah, setiap hari Jumat, lalu menunaikan shalat dan menangis di sampingnya.
    Semua contoh ada di zaman rasulullah masih hidup.
    atas jika atas sepengetahuan rasulullah & tidak dilarang, berarti boleh dilakukan.
    kasus bid’ah ttg ibadah = kasus masalah ibadah setelah rasulullah wafat, bukan saat beliau masih ada.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here