Tidak akan Mati Hati Seseorang yang Menghidupkan Malam Ied, Hadis atau Bukan?

0
832

BincangSyariah.Com – Umat Islam disunahkan menyambut hari raya Idul Fitri dengan memperbanyak takbir kepada Allah SWT. Kesunahan menghidupkan malam Idul Fitri tersebut menurut Imam Nawawi dalam kitab al-Adzkar ditetapkan dari hadis riwayat Imam Syafi’i dan Ibnu Majah yang diriwayatkan dari sahabat Abu Umamah berikut ini

من أحيا ليلتي العيدين لله محتسبا لم يمت قلبه يوم تموت القلوب.

Artinya;  Barang siapa yang menghidupkan malam idul fitri, maka hatinya tidak akan mati di saat hati-hati yang lainnya telah mati

Menurut Imam Nawawi, riwayat di atas merupakan hadis marfu mauquf. Hadis mauquf adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Sahabat, baik perkataan, tindakan atau ketetapannya, ulama hadis menyebut riwayat seperti ini sebagai atsar bukan hadis. Hadis marfu’ mauquf maksudnya adalah riwayat yang secara lafad dan bentuknya adalah mauquf akan tetapi menurut para muhaqiq substansinya mengandung hukum hadis marfu’.

Dalam kitab Taisir Musthalahul Hadis diterangkan  bahwa hadis mauquf ada yang shahih, hasan dan dhaif. Pada dasarnya riwayat mauquf tidak bisa dijadikan landasan dalam menetapkan syariat, akan tetapi jika sanadnya shahih maka hadis mauquf bisa dijadikan penguat hadis dhaif karena sahabat tidak melaksanakan sesuatu kecuali hal-hal yang dianjurkan. Jika Hadis mauquf yang shahih tersebut berhukum marfu maka dia bisa dijadikan hujjah selama sanadnya shahih seperti halnya hadis marfu’.

Tapi sayangnya, riwayat Abu Umamah ini dhaif. Tapi meski begitu sepertinya kedhaifannya tidak terlalu parah sebab Imam Nawawi tetap memasukkan hadis fadhail amal (hadis yang menjelaskan tentang keutamaan beribadah) tersebut ke dalam kitabnya al-Azkar  pada Bab al-Azkar al-Masyru’ah fi al-‘Idaini. Padahal al-Azkar adalah kitab yang beliau tulis khusus untuk diwariskan sebagai buku panduan beribadah bagi umat islam.

Baca Juga :  Kitab "Bahjat al-Wudluh": Jangan Terlalu Suka Bicara, Bila Tak Mau Celaka

Perlu diketahui bahwa ulama sepakat selama hadis fadhail amal tersebut tidak terlalu parah kedhaifannya, hadis tersebut boleh diamalkan. Demikian sebagaimana yang telah Imam Nawawi jelaskan pada muqadimah kitab al-Azkar. Apalagi jika ada riwayat lain atau nash yang secara substansi juga mendukung anjuran melaksanakan fadail amal tersebut. Seperti  firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 185 berikut,

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya; Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan (puasa) nya dan hendaklah kamu bertakbir atau mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah 185)

Ayat di atas secara substansi mendukung anjuran memperbanyak takbiran sejak malam berakhrnya puasa ramadhan yaitu malam Idul Fitri, yang mana kesunahan bertakbir tersebut bertujuan untuk menghidupkan malam Idul Fitri. Dan masih banyak lagi riwayat yang menganjurkan memperbanyak takbir sampai sebelum shalat Ied dilaksanakan. Wallahu’alam.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here