Texpectation dan Pentingnya Silaturahmi

1
1193

BincangSyariah.Com – Texpectation dimaknai sebagai sikap menaruh harapan/ekspektasi yang berlebih terhadap teks. Istilah texpectation ini seperti bersumber dari Urban Dictionary yang dikutip dari artikel “This is Why We Should Stop Having Texpectations about Modern Dating” didefinisikan sebagai sebuah perasaan seseorang untuk “bertahan” di saat menunggu respon pesan chat dan sejenisnya. Dilihat dari judulnya, artikel itu menegaskan bahwa membangun relationship seperti yang sangat personal yaitu memadu kasih, jangan sampai terlalu merasa bahwa komunikasi via gadget tidak selalu mencerminkan kondisi sesungguhnya.

Berangkat dari asumsi yang berkembang di era dimana komunikasi via media sosial ini menjadi sesuatu yang sangat biasa, texpectation (text + expectation) memiliki hipotesa bahwa semakin cepat seseorang membalas pesan, semakin dianggap perhatian dan sebagainya.

Seperti yang disebutkan pada awal artikel tersebut, teks memang menjadi penghubung yang memudahkan kita untuk berkomunikasi meski tidak bertemu secara langsung. Problemnya, ketika seseorang terlalu menyatu dengan komunikasi lewat teks, peluang untuk salah memahami menjadi makin besar. Komunikasi lewat teks kehilangan satu aspek penting dalam komunikasi yang paling penting dan sentral, yaitu ekspresi wajah. Ini juga menjadi alasan mengapa komunikasi orang-orang di media sosial acapkali mengalami salah paham. Kita mungkin sering melihat orang saling berbalas komentar di sosial media hingga taraf keributan, padahal mereka tidak saling kenal.

Memaknai Kembali Hakikat Silaturahmi

Teknologi komunikasi, termasuk media sosial, memang diniatkan untuk satu ide yaitu memudahkan manusia untuk saling berinteraksi meski tidak bertemu secara langsung. Pemikiran bahwa penyampaian ide di masa lalu harus disampaikan secara langsung atau lewat sarana tertentu seperti surat, namun membutuhkan waktu yang panjang, melahirkan ide membuat solusi teknologi komunikasi. Hasilnya, komunikasi semakin cepat, bahkan real-time, dan memperluas interaksi karena makin mudah mencari relasi di masa sekarang.

Baca Juga :  Jokowi-Prabowo Bertemu, Mari Mendalami Lagi Ajaran Islam tentang Silaturahmi

Berkomunikasi dengan baik adalah bentuk silaturahmi. Secara kebahasaan silaturahmi dalam bahasa Indonesia diserap dari frasa bahasa Arab, shilatu ar-rahm. Makna shilatu ar-rahm awalnya memang menyambung kedekatan kepada kerabat-kerabat dekat. Lalu ia digunakan untuk menyebut kegiatan berinteraksi kepada siapa saja, karena bukankah kita hakikatnya semua manusia di dunia ini sebenarnya bersaudara ?

Allah berfirman dalam sekian banyak ayat Al-Qur’an tentang perintah dan makna silaturahmi. Dalam surah An-Nisa’: 36 dan An-Nahl: 90, Allah memerintahkan kita untuk berperilaku baik (ihsan) kepada orang-orang yang lemah, keluarga, hingga para tetangga,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالاً فَخُوراً

“dan sembahlah Allah, jangan kalian sekutukan Dia dengan apapun. Dan (hendaklah) kalian berlaku baik kepada kedua orangtua, saudara-saudara, anak-anak yatim, orang miskin, tetangga baik, tetangga yang jauh, teman sejawat, orang dalam perjalanan dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (An-Nisa’: 36)

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْأِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berlaku adil, berperilaku baik, memberi kepada kerabat, dan melarang dari berbuat keji, mungkar, dan permusuhan. Allah memberikan pengajaran kepada kalian agar kamu mendapatkan pelajaran.” (An-Nahl: 90)

Sementara, dalam surah An-Nisa’: 1, Allah Swt berfirman kepada kita tentang kenyataan bahwa manusia itu sebenarnya bersaudara maka kita harus saling bersilaturahmi,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

Baca Juga :  Benarkah Umur Kita Bisa Bertambah dengan Silaturahmi?

“wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari jiwa yang satu, lalu menciptakan pasangannya dan memperkembangbiakkan dari pasangan tersebut (keturunan) laki-laki dan perempuan. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

Dari ayat-ayat diatas dan masih banyak lagi ayat, hadis, dan penjelasan ulama dapat dijadikan prinsip fundamental bagaimana seseorang berkomunikasi. Problem yang perlu diingat sebenarnya adalah texpectation dalam komunikasi via sosial media sebenarnya tidak lepas dari ketidaktuntasan komunikasi dan silaturahmi, sehingga menyebabkan tersisa prasangka-prasangka yang tidak semestinya. Padahal Allah menegaskan dalam firman-Nya bahwa berprasangka (yang bisa jadi buruk) itu keburukan. Dan bukankah texpectation adalah diantara bentuk berprasangka yang semestinya ?

Meski diluar pembahasan, kadang komunikasi sosial media, kita kadang sampai pada tingkat adu mulut pada orang yang mungkin tidak kita kenal dekat atau bahkan baru bertemu di ruang komentar tersebut. Untuk menjawab hal ini, kita harus memaknai lebih dalam pesan dalam surah An-Nisa’: 1 bahwa kita semua sebenarnya bersaudara, maka kita dianjurkan untuk menyambung “tali kasih” silaturahmi. Dan, Allah hakikatnya Maha Mengetahui apa yang kita semua kerjakan. Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here