Tes Swab Negatif Setelah Jenazah Dikubur, Wajibkah Digali Kembali?

0
16

BincangSyariah.Com –  Beberapa bulan lalu, ada tiga makam dibongkar kembali di perkuburan khusus jenazah Covid-19 di Bungus, Kota Padang, Sumatera Barat, oleh pihak keluarga. Pasalnya, jenazah yang awalnya pasien dalam pengawasan (PDP), lantas meninggal dunia. Pihak rumah sakit pun melaksanakan fardu kifayah menggunakan protokol Covid 19. Selang beberapa waktu,  ternyata dinyatakan negatif Covid-19 setelah hasil tes swab keluar. Dengan adanya kasus ini, bagaimana hukum Islam memandang permasalahan ini? Tes swab negatif setelah jenazah dikubur, wajibkah digali kembali?

Dalam pandangan fiqih Islam dijelaskan  bila si mayit  tersebut tak sempat dimandikan, hanya ditayammumkan saja—sebab darurat dan sesuai protokol kesehatan— padahal setelah  ditanam ternyata bukan karena Covid 19—, maka hukumya adalah jenazah tersebut harus dibongkar lagi. Dan  dimandikan sebagaimana mayat biasa. Dengan catatan,  selama jasadnya belum berubah dan masih layak untuk dimandikan. Pendapat ini Hal ini diqiyaskan pada saat tidak menemukan air ketika memandikan jenazah.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Hasiyatul Qaliyubi a’la Kanzil Raghibin Syarhu Minhajul at-Thalibin, Juz I, halaman 412:

(وَنَبْشُهُ بَعْدَ دَفْنِهِ لِلنَّقْلِ وَغَيْرِهِ حَرَامٌ إلَّا لِضَرُورَةٍ بِأَنْ دُفِنَ بِلَا غُسْلٍ)

وَهُوَ وَاجِبُ الْغُسْلِ فَيَجِبُ نَبْشُهُ تَدَارُكًا لِغُسْلِهِ الْوَاجِبِ مَا لَمْ يَتَغَيَّرْ.

.قَالَ فِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ: وَلِلصَّلَاةِ عَلَيْهِ قَالَ: فَإِنْ تَغَيَّرَ وَخُشِيَ فَسَادُهُ لَمْ يَجُزْ نَبْشُهُ لِمَا فِيهِ مِنْ انْتِهَاكِ  حُرْمَتِه                                  ِ

Artinya; Dan menggali (kuburan) mayit setelah dikebumikan untuk memindahkan atau selainnya hukumnya adalah haram. Kecuali dalam keadaan darurat misalkan jenazah tersebut dikubur tanpa dimandikan. Padahal jenazah tersebut masuk kategori yang wajib dimandikan maka dalam hal ini wajib menggalinya untuk menyempurnakan kewajiban mandinya dengan syarat selama mayitnya belum berubah. Berkata Imam Nawawi di Majmu’ Syarh Muhazzab dalam mengomentari “untuk menyolatkannya” beliau kata: jika mayit sudah berubah dan dikhawatirkan menyebabkan kerusakan terhadap si mayit maka tidak diperbolehkan untuk menggalinya karena untuk menjaga harga diri si mayit.

Pendapat ini juga sesuai dengan  pendapat seorang ulama bermazhab Syafii, Salim bin Sumair Al-Hadlrami, dalam kitab Syafinatu Najah, halaman 53.Ia berkata;

 ينبش الميت لأربع خصال: للغسل إذا لم يتغير ولتوجيهه إلى القبلة وللمال اذا دفن معه وللمرأة اذا دفن جنينها معها وأمكنت حياته

Artinya; orang yang sudah meninggal   dan telah dikuburkan jenazahnya, diperbolehkan untuk menggali kuburnya dengan empat argumen: pertama, untuk memandikan mayit tersebut, jikalau kondisi jenazah belum mengalami perubahan. Kedua, untuk menghadapkan si mayit menghadap arah kiblat. Ketiga,  disebabkan ada harta berharga yang turut serta terkubur bersamanya. Dan terakhir, apabila si mayat seorang perempuan dalam keadaan hamil, dan ia meninggal, sedangkan  dalam perutnya terdapat janin yang masih bernyawa  dimungkinkan untuk hidup.

Dan pendapat  Al-Hadrami ini pula yang  dijadikan sebagian kalangan untuk melegitimasi tentang bolehnya membongkar kubur orang yang sudah meninggal dunia.

Nah, apabila dikhawatirkan akan terjadi  kerusakan terhadap tubuh jenazah yang sudah ditanam itu,  maka  hukumnya tak boleh digali kembali. Tujuannya untuk menjaga kehormatan dari mayat tersebut.

Ini juga sesuai dengan hadis Nabi Muhammad ;

كَسْرُ عَظْمِ الْمَيِّتِ كَكَسْرِهِ حَيًّا

Artinya; Mematahkan tulang mayit seperti mematahkannya ketika hidup (H.R Ahmad)

Namun, ada juga yang tak mewajibkan kembali menggali jenazah tersebut, meskipun jenazah tak dimandikan, hanya dimandikan. Dan ditanam sesuai prosedur covid. Pendapat ini, sesuai dengan kaedah usul fiqh;

اْلأَصْلُ بَقَاءُ مَا كَانَ عَلَى مَا كَانَ

Artinya; Hukum asal segela sesuatu adalah tetap dalam keadaan semula.

Pendapat ini dikuatkan dengan firman Allah dalam Surah Albaqarah;

وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَاَحْسِنُوْا ۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

Artinya; Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuatbaiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Q.S Albaqarah; 195).

Potongan ayat “Wala talqu bi aidikum ilat tahlukah“menjadi keringanan (rukhsah) dalam keadaan darurat. Toh, saat ini kita dalam keadaan darurat. Ini pula yang menjadi dasar Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam menetapkan Fatwa no 14 tahun 2020 terkait Covid 19.

(Baca: Bolehkah Langsung Menguburkan Jenazah Covid-19 Tanpa Memandikannya?)

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here