Ternyata eh Ternyata Soal Kampanye Khilafah

0
267

BincangSyariah.Com – Sebagian muslim juga, yang kampanye khilafah, yang dia maksud ternyata sekedar punya kekuasaan tertinggi di atas semua umat Islam.

Tapi anehnya mereka tidak menerima kenyataan bahwa di tengah umat Islam sepanjang sejarah, sudah ada begitu banyak khilafah, kesultanan, kerajaan, daulah dan negara yang eksis secara de-facto dan de-jure.

Dengan sekian alasan, semua itu dianggap tidak ada dan semua orang disalah-salahkan, dibatil-batilkan, dituduh tidak sesuai syariah. Terus maunya apa?

Maunya semua umat Islam sedunia mengangkat dia sebagai satu-satunya pemimpin. Yang lain disuruh jadi rakyat biasa yang harus tunduk taat sepenuhnya kepada dia saja. Sejujurnya, ini Lucu sekali. Kok bisa seenaknya main klaim dirinya paling layak jadi pemimpin umat. Siapa yang pilih, siapa yang angkat, siapa yang dukung?

Tidak satu pun, kecuali mahasiswa dan anak-anak kemarin sore yang mana mereka tidak tahu urusan, tidak paham agama, tidak berilmu, tidak mengerti syariah, awam, dan muallaf pula. Wajar kalau barisan yang mengikuti model seperti ini mau saja diajak berkhayal mendirikan khilafah dengan cara memaki, mencaci, menafikan dan tidak mengakui keberadaan puluhan negara Islam yang sudah ada reami dan berdaulat.

Padahal kalau mau punya negara sendiri tapi tidak mau ikutan sistem yang sudah ada di suatu negara, seharusnya bikin negara sendiri yang baru. Kayak Rasulullah SAW ketika tidak mungkin masuk ke sistem Mekkah yang sudah eksis, maka Beliau SAW hijrah ke Madinah untuk bikin sendiri negara yang baru sejak awal. Elegan sekali cara beliau. Mendirikan negara dan pemerintahan baru dari tidak ada. Tetap saja berkoalisi dengan banyak pihak, termasuk Yahudi, Aus dan Khazraj. Yang jelas bukan dengan merebut negara yang sudah ada atau menggulingkan sebuah pemerintahan yang sah.

Baca Juga :  Kajian Hadis: Sungai Eufrat Mengering adalah Tanda Kiamat, Benarkah?

Ketika negara Madinah sudah berdiri, Beliau SAW pun tidak menafikan keberadaan negara lain yang memang sudah eksis. Malah Beliau SAW berkirim surat dan berdiplomasi dengan semua kepala pemerintahan di dunia. Lihat, Elegan, gentle, dan realistis. Begitulah langkah Sang Nabi SAW dalam mendirikan negara. Setelah kuat dan besar, bahkan Beliau SAW bisa “menaklukkan” Mekkah pada akhirnya. Namun sekali lagi, bukan dengan cara mengkhayal sambil memanfaatkan keawaman anak-anak muda. Sambil juga mengajari mereka cara menghasud, membodohi dan mencaci maki semua orang.

Mau jadi penguasa? Mau jadi pemimpin? Silahkan saja. Di zaman modern ini meski tidak punya darah biru, bisa kok jadi pemimpin. Tapi caranya harus gentle, ikuti alurnya lewat pemilihan.

Tidak mau lewat pemilihan? Ya, kalau begitu gulingkan saja sebuah pemerintahan yang sah, kalau bisa. Anggaplah keyakinannya tidak mau pakai demokrasi lantaran dianggap sistem kafir, ya berarti silahkan coba dengan jalan perang fisik. Serbu dan bumi hangus. Mau melakukan itu tapi tidak punya tentara? Ya, pakai teror, lalu subversi dan revolusi.

Masih gak punya kekuatan untuk melakukannya juga? Bisanya cuma aksi massa kumpul-kumpul unjuk kekuatan? Ya kalau cuma segitu doang, kalah dong dengan jamaah piala dunia. Mending mereka saja yang bangun khilafah. Khilafah bola sepak.

Kalau baru bisa demo turun ke jalan bikin macet doang, kayaknya jangan terlalu jumawa dulu lah. Biar nggak banyak dicemooh orang juga. Coba bayangkan, begitu senapan pasukan anti huru-hara meletus, jangan pada nangis. Katanya mau menggulingkan negara. Kok ada asap langsung ciut?

Nah kalau belum mampu melakukan itu semua, baiknya jangan mimpi jadi penguasa di negara yang sudah eksis. Jangan rebut negara orang. Bikin saja sendiri dimana saja,  sebuah negara yang baru yang belum pernah ada negara disitu. Insyaallah kalau berhasil, bisa dihadiri deklarasi atau proklamasinya. Tapi maksudnya kalau memang diundang.

Baca Juga :  Azab Neraka Bagi Perempuan yang Enggan Menyusui Anaknya

Dan kalau mau bikin sendiri sebuah negara yang baru, berarti ada 3 atau 4 langkah setidaknya,

pertama, cari lahan wilayah baru yang belum jadi wilayah milik suatu negara. Terserah dimana, apa dekat Alaska sana atau kutub utara juga boleh. Tapi jujur saja, susah mau cari dimana wilayah kosong tak bertuan di zaman sekarang ini. Kalau Planet Mars, kira-kira sudah ada yang bikin pagar wilayah apa belum ya? Paling banter mengajak sekelompok orang di suatu negara untuk memisahkan diri dan memerdekakan diri jadi sebuah negara baru. Jadi ini nama resminya adalah sebuah pemberontakan. Resikonya sudah pasti berhadapan dengan tentara nasional yang akan menggempur habis-habisan.

Kedua, anggaplah sudah berhasil mendapatkan wilayah tak bertuan dengan gratis. Tapi apa sudah bisa jadi negara begitu saja? Sabar dulu. Mana rakyatnya? Tentu rakyatnya harus ada kan? Masa negara cuma berupa lahan kosong melompong tanpa rakyat? Maka harus kumpulkan orang-orang dalam jumlah besar untuk jadi rakyatnya. Migrasi besar-besaran macam Israel memigrasikan komunitas Yahudi dari seluruh dunia ke tanah hasil merampas dari bangsa Palestina.

Resikonya mudah ditebak, yaitu biayanya teramat mahal. Mindahin orang satu negara mau naik apa ya? Terserah saja, dipikirkan sendiri.

Tapi nanti dulu, jangan-jangan wilayah yang dianggap kosong itu ternyata juga sudah ada penghuninya. Macam Christoper Columbus mendarat di Benua Amerika, dia kira kosong ternyata sudah ada Apache, Cherokee, dan suku-suku asli. Bangsa atau rakyat yang sudah ada duluan disitu pasti akan melakukan perlawanan. Macam orang Inggris di Australia dengan suku Aborigin. Atau macam Israel yang ujug-ujug mendirikan negara seenaknya di tengah negara orang Palestina. Pantas saja yang punya negara ngamuk dan main timpuk pakai batu.

Baca Juga :  Ketua Umum FOZ Sebut Tegaknya Syariat Zakat Mudahkan Industri Halal

Pokoknya semua itu masih jadi masalah dan tetap tidak aman. Karena dari awal selalu dapat perlawanan rakyat setempat.

Ketiga, anggaplah kalau urusan wilayah dan rakyat anggap saja sudah beres, barulah anda bisa mengangkat diri menjadi penguasa atau pemerintahnya. Selesai? masih belum rupanya. Bukankah cita-citanya bukan sekedar punya negara dan jadi penguasa, tapi mau jadi khalifah dalam arti jadi penguasa tertinggi di tengah umat Islam.

Maka langkah keempat adalah bikin perang dunia melawan umat Islam sedunia. Tujuannya tentu untuk menaklukkan semua negara Islam yang sudah ada duluan. Perang dilalukan oleh sebuah negara yang baru nongol kemarin sore di wilayah antah berantah dengan jumlah penduduk sejuta dua juta.

Salah satunya melawan negara Indonesia yang penduduknya 250 jutaan. Misalnya memang, terus masih juga harus melawan Malaysia, India, Pakistan, Iraq, Suriah, Lebanon, Turki, Mesir, Libya, Tunisia, Aljazair, Maroko, dan semua negara Islam. Artinya melawan 1,6 milyar muslim sedunia.

Anggaplah semua negara Islam bisa dikalahkan lewat perang dunia ketiga, apakah sudah tercapai cita-citanya?

Ya belum lah.

Sebab dia harus berhadapan dengan berbagai pemberontakan di dalam wilayah kekuasaannya. Sebagaimana dia memulai semua ini dengan sebuah pemberontakan, maka setelah jadi penguasa harus siap untuk menghadapi pemberontakan sendiri.

Kok ribet banget ya hidup ini jadinya?

Tulisan ini diunggah ulang dari akun Facebook Ustz. Ahmad Sarwat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here