Terkait Viral Wanita Bawa Anjing Masuk Masjid, Bagaimana Hukumnya?

4
2823

BincangSyariah.Com – Baru-baru ini viral di media sosial mengenai seorang ibu yang masuk masjid sambil membawa anjing dan memakai alas kaki. Dalam video tersebut, terlihat ibu itu bersitegang dengan seorang laki-laki berjaket oranye, sebagaimana diberitakan Kompas (30/06/2019).

Terlepas dari peristiwa tersebut, ternyata di masa Rasulullah saw., seekor anjing juga pernah mondarmandir masuk masjid Nabawi. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Umar dengan berbagai redaksi. Ulama hadis pun berbeda pendapat merespon fenomena tersebut dari sudut pandang hukum. Paling tidak ada tiga pembahasan menarik yang perlu dikaji di sini.

Redaksi hadis Ibnu Umar itu berbeda-beda dan menjadi pintu masuk perdebatan hukum fikih terkait najis atau tidaknya anjing. Mari kita perinci satu persatu.

عن ابن عمر كُنْتُ أَبِيتُ فِي الْمَسْجِدِ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكُنْتُ فَتًى شَابًّا عَزَبًا، وَكَانَتِ الْكِلَابُ تَبُولُ وَتُقْبِلُ وَتُدْبِرُ فِي الْمَسْجِدِ، فَلَمْ يَكُونُوا يَرُشُّونَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, “Aku bermalam di dalam masjid pada masa Rasulullah saw. Waktu itu aku masih bujangan. Saat itu ada anjing sedang kencing, mondar-mandir di dalam masjid. Mereka (para sahabat Nabi) tidak menyipratkan (air) apa pun bekas anjing tersebut.

Redaksi hadis ini di antaranya terdapat dalam Sunan Abi Daud, Ṣaḥīḥ Ibnu Khuzaimah, Ṣaḥīḥ Ibnu Ḥibbān, al-Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi, Syarḥ al-Sunnah karya al-Baghawi, dan Ṣaḥīḥ al-Bukhārī.  Dalam riwayat lain dari Ibnu Umar, redaksi tabūlū (kencing) itu tidak terdapat dalam kitab-kitab hadis lainnya, seperti Musnad Ahmad bin Hanbal.

Syekh Badrud Din al-‘Aini dalam ‘Umdatul Qari, kitab syarah atas Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, menyampaikan beberapa hal terkait hadis di atas. Terkait hadis di atas, sebagian ulama memahami bahwa al-Bukhari berpendapat bahwa kencing anjing itu suci. Selain itu, redaksi menyipratkan (air) dalam hadis di atas mengindikasikan bahwa bekas injakan atau jilatan anjing itu juga tidak najis. Sebagaimana pendapat yang umum, anjing itu najis dan wajib dibasuh. Sementara itu, redaksi hadis di atas menggunakan al-Rasy (menyipratkan air), dan itu tidak dilakukan oleh para sahabat.

Baca Juga :  Hikmah Pagi: Air Mata yang Dirindukan Langit

Di antara yang berpendapat mengenai kesucian anjing itu adalah Imam Ibnu Bathal. Menurutnya, masjid Nabawi merupakan tempat ahli sufah. Seandainya anjing itu najis sudah pasti para ahli sufah tersebut akan mencegah anjing masuk ke dalam masjid.

Menurut Syekh Muhammad al-‘Azhim Abadi dalam ‘Aunul Ma‘būd, Imam Abu Hanifah dan Muhammad bin al-Hasan tanah atau lantai yang kering terkena sorotan sinar matahari itu dapat menjadi suci dengan sendirinya bila bekas injakan atau jilatan anjing itu hilang. Sementara itu, Imam Syafii dan Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa najis anjing harus dihilangkan dengan cara dibasuh dengan air.

Imam al-Baihaqi dalam al-Khilafat Bainal Imamain al-Syafi’i wa Abu Hanifah meluruskan pendapat sebagian ulama yang menyatakan bahwa al-Bukhari mengganggap suci anjing. Menurut al-Baihaqi, al-Bukhari berpendapat bahwa hadis di atas itu telah dimansukh (dihapus keberlakuan hukumnya) dengan hadis riwayat Abu Hurairah mengenai kewajiban membasuh najis anjing dengan air dan campuran debu. Peristiwa anjing yang masuk masjid di atas terjadi pada masa awal Islam, yang mana pemahaman para sahabat belum mumpuni. Pelurusan pandangan al-Baihaqi terhadap pendapat Imam al-Bukhari ini termasuk hal wajar. Hal ini karena al-Baihaqi merupakan ulama fikih dan hadis bermazab Syafii.

Dalam al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, Syekh Wahbah al-Zuhaili menerangkan mengenai status anjing. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa anjing itu suci, sementara yang najis itu adalah air liurnya. Sementara itu, Mazhab Maliki berpendapat bahwa seluruh hal yang berkaitan dengan anjing itu suci, baik anjing peliharaan ataupun anjing liar sekalipun. Hal ini berbeda dengan pendapat mazhab Syafii dan Hanbali yang menyatakan bahwa anjing itu najis. Umat Muslim di Indonesia pada umumnya berpendapat sesuai dengan pandangan mazhab Syafii dan Hanbali tersebut. Hal inilah yang menimbulkan seorang lelaki berpakaian oranye bersitegang dengan seorang ibu pembawa anjing tersebut.

Baca Juga :  Empat Pilar Kehidupan Dunia Agar Kejahatan Tak Merajalela

Terlepas dari pendapat mazhab Syafii yang dianut banyak umat Muslim di Indonesia tersebut, kita yang tidak hadir langsung dan tidak tahu kronologi serta fakta seorang ibu yang membawa anjing ke dalam masjid itu seharusnya tidak perlu emosi atau bersikap berlebihan merespon peristiwa itu. Terlebih lagi mengait-ngaitkan isu tersebut dengan masalah agama Katolik yang dianut seorang ibu tersebut.

Ini bisa saja ibu tersebut memang tidak paham mengenai etika seseorang memasuki masjid. Terlebih lagi, menurut sebagian ulama Usul Fikih, non-Muslim itu tidak terbebani hukum di dunia. Oleh karena itu, apa yang dilakukan oleh wanita tersebut tidak perlu direspon secara berlebihan, apalagi bila ia melakukannya karena ketidaktahuannya atau ketidaksengajaannya. Apalagi Mazhab Imam Malik menyatakan bahwa anjing itu tidak najis. Wallahualam

4 KOMENTAR

  1. Ini mslh agama bung. Ente blng jngn bereaksi yg berlebihan. Kl dia g tau bgt di ksh tau hrsnya minta maaf ini malah marah + nendang pengurus mesjid.

  2. Apakah ada dalil lain yg menguatkan argumen bahwa anjing itu suci menurut maliki, imam ibnu bathal dan imam Abu hanifah?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here