Terkait Pernyataan Sukmawati Tentang Perbandingan Ir. Soekarno dan Nabi Muhammad, Ini Tanggapan Putra Mbah Maimoen

0
1515

BincangSyariah.Com – Mungkin ini sudah kesekian kalinya ibu Sukmawati Soekarnoputri, salah seorang putri Ir. Soekarno ini “keliru bicara” soal keislaman lalu menimbulkan respon negatif dari banyak pihak, terutama kaum muslimin di Indonesia. Kali ini, dalam sebuah forum FGD (Focus Group Discussion) di Mabes Polri berjudul “Bangkitkan Nasionalisme, Menangkal Radikalisme, dan Berantas Terorisme”. Sebagai salah satu pembicara, dalam orasinya ia menyampaikan kegelisahannya di Indonesia mulai bermunculan kelompok-kelompok yang menyatakan tidak perlu mengidolakan para pahlawan atau tokoh bangsa tapi cukup idolakan Nabi Muhammad dan para sahabatnya.

Menurut beliau, yang menurut beliau bersumber dari para perekrut teroris. Kemudian, dan ini kata-kata yang akhirnya dianggap menyinggung umat Islam, adalah kalimatnya, “sekarang saya tanya, yang berjuang di abad 20 memerdekakan bangsa Indonesia ini Yang Mulia Nabi Muhammad atau Ir. Soekarno ?”.

Pertanyaan ini mengundang reaksi. MUI Pusat menyatakan lewat Sekjen-nya, Anwar Abbas, menyatakan wajar jika umat muslim tersinggung. « Saya tidak habis pikir jika ada umat Muslim yang tidak tersinggung », ungkapnya. Namun MUI menyatakan umat Islam harus menahan diri dan membiarkan proses hukum berjalan. Diantara yang mencoba melaporkan Sukmawati ke kepolisian dengan tuduhan penistaan agama adalah organisasi Koordinator Bela Islam (Korlabi) dan Forum Pemuda Muslim Bima (FPMB). Pasca pelaporan tersebut, pengacara Sukmawati, Petrus Salestinus, meminta MUI mengundang kliennya. Meskipun direspon dengan jawaban, “tak usah” oleh Anwar Abbas, Petrus berpandangan karena “pernyataannya diyakini dipotong-potong, semestinya diundang untuk klarifikasi bersama dengan Divisi Humas Polri duduk bersama supaya masalahnya clear”, terang Petrus seperti dikutip dari detik.

Gus Ghofur Maimoen: Kemunculan Sukmawati adalah Akibat

Di lain pihak, Dr. Abdul Ghofur Maimoen atau yang akrab disapa Gus Ghofur Maimoen, salah seorang putra mendiang Mbah Maimoen Zubair dalam pengajian akbar di Masjid Agung Demak, di sela-sela ceramah beliau terkait keteladanan-keteladanan Mbah Maimoen, beliau menyinggung fenomena Sukmawati.

Baca Juga :  Membantah Tuduhan PNS Adalah Thaghut

“Satu ketika di tahun 2012 atau 2013, Mbah Moen pernah menginstruksikan saya yang tinggal di Pondok Al-Anwar 3 (STAI Al-Anwar), untuk mengadakan upacara bendera 17 Agustus. Nanti, tegas Mbah Moen, saat bendera merah putih dikibarkan, membaca shalawat. Artinya apa, ini adalah salah satu prinsip-prinsip yang perlu ditegaskan dari beliau adalah jangan mencoba mempertentangkan antara keislaman dan keindonesiaan karena itu adalah sesuatu yang tidak terpisah”, pungkas Gus Ghofur.

“Saat ini, saya memperhatikan beberapa ustadz-ustadz yang mulai muncul di Youtube, mulai ada yang mencoba mempertentangkan hal-hal tadi. Misalnya ada yang bertanya, lebih baik mana negara Islam atau negara Pancasila. Tentu orang Islam yang menjawab negara Islam akan mudah dilabeli orang yang anti negara Pancasila, padahal tidak sesederhana itu. Atau pertanyaan, lebih bagus mana Pancasila atau Al-Qur’an, maka hasilnya kemunculan sosok seperti Sukmawati. Kemunculannya adalah akibat dari pertanyaan ekstrim tadi. Dan Dua-duanya (baik yang ekstrim Islam atau ekstrim nasional anti-agama) tidak ada yang benar”, tegas doktor lulus terbaik jebolan Universitas Al-Azhar di bidang tafsir ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here