Terkait Kekerasan Kelompok Intoleran di Solo, Ini Kata Quraish Shihab tentang Suni-Syiah

1
1146

BincangSyariah.Com – Konflik antara Sunni dan Syiah bukan hal baru dalam sejarah umat Islam. Konflik dua kelompok tersebut tidak hanya tentang akidah dan peribadatan. Konflik yang terjadi justru semakin mengarah ke konflik yang berujung pada tindakan anarkis dan sentimen terhadap kelompok Sunni dan Syiah kian meninggi. Terakhir, konflik semacam ini terjadi di Jawa Tengah.

Ratusan massa membubarkan sebuah acara doa di Solo. Penyerangan tersebut menyebabkan tiga orang terluka pada Sabtu malam, 8 Agustus 2020. Padahal, acara yang digelar malam itu adalah kegiatan midodareni atau doa sebelum pernikahan yang diikuti oleh sekitar 20 orang. Mereka mengklaim sebagai sunni, namun tindakan kekerasannya jauh dari ajaran ulama Sunni yang ramah dan toleran. Bahkan mereka mengumandangkan yel-yel Syiah laknatullah. (Baca: Muslim Syiah Hari Ini Menurut Ulama Sunni Kontemporer)

Penyerangan kelompok intoleran ini terjadi di rumah keluarga Umar Assegaf, di Mertodranan, Pasar Kliwon, Surakarta. Sekitar 100 orang menyerang rumah tersebut. Mereka menduga bahwa acara doa itu adalah ada kegiatan yang berbau Syiah.

Sentimen yang berlebihan terhadap Syiah dan Sunni membuat Quraish Shihab, cendekiawan Muslim asal Indonesia, berusaha keras agar semua mazhab bisa bergandengan tangan dalam menjalani kehidupan yang dinaungi oleh ajaran Islam, terutama Syiah dan Sunni.

Quraish mencoba mempersatukan, membuat rukun antara keduanya dengan mengedepankan aspek-aspek kesamaan yang ada dalam kedua aliran tersebut, bukan malah mempertajam perbedaan dalam bukunya yang berjudul Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah? (2014).

Beliau menyatakan bahwa jangan sampai masing-masing kelompok membuat klaim kebenaran. Sebab jika hal tersebut yang terjadi, maka jurang pemisah yang ada justru akan semakin melebar.

Ada ungkapan dari Quraish Shihab terkait perselisihan antar kedua golongan ini: “Kita bersaudara, tidak perlu saling tegang. Surga itu terlalu luas sehingga tidak perlu memonopoli surga hanya untuk diri sendiri. Jadi, jangan saling menistakan.”

Baca Juga :  Etika Mengucapkan Salam Ketika Hendak Masuk Rumah di Waktu Malam

Keberanian membuat banyak orang menudingnya sebagai pembela Syi’ah, bahkan ia dituding sebagai penganut Syi’ah. Untuk meluruskannya, beliau menyatakan bahwa dirinya tidak menganut paham Syi’ah di beberapa kesempatan. Beliau hanya berusaha untuk menemukan solusi yang tepat dalam menyikapi perbedaan paham dan ideologi antara Sunni dan Syi’ah.

Beliau menambahkan bahwa Indonesia bukanlah negara agama, dan bahwa Indonesia adalah negara yang menganut ideologi Pancasila. Dengan latar belakang tersebut, sudah semestinya kedamaian dan persatuan hanya bisa dicapai melalui cara memahami dan menghargai perbedaan.

Hal ini sejalan dengan apa yang beliau katakan, “tidak bisa ada persatuan jika tidak ada kesepahaman. Tidak bisa ada kesepahaman jika tidak ada upaya untuk memahami diri kita sendiri dan memahami pihak lain.”

Lantas, bisakah Sunni dan Syiah bergandengan tangan?

Pertama, tidak bisa dipungkiri ada beragam perbedaan antara Sunni dan Syi’ah khusus dalam ‘furu’ atau rincian Aqidah maupun Ibadah. Meski begitu, semua perbedaan yang ada masih dapat diatasi jika kedua belah pihak mengedepankan persatuan umat dan substansi ajaran Islam.

Malahan, perbedaan yang ada bisa menjadi rahmat sebab perbedaan tersebut adalah sumber kekayaan intelektual dan bisa menjadi jalan keluar bagi kesulitan yang dihadapi. Perbedaan-perbedaan tersebut akan bahaya jika disertai dengan fanatisme buta yang bukan saja menimbulkan perpecahan, tapi juga mengakibatkan keterbelakangan.

Kedua, sebenarnya dengan keberanian dan amanah keilmuan yang Quraish Shihab miliki, beliau telah berusaha mencari solusi bagi problem akut antara Sunni dan Syi’ah. Bukunya menjadi prasasti intlektual khususnya di Indonesia dalam ranah taqrib antara Sunni dan Syi’ah. Memang tidak mudah resiko yang beliau terima, tak jarang beliau dituduh sebagai pembela Syi’ah bahkan penganutnya.

Baca Juga :  Periwayat Hadis Syiah dalam Sahih al-Bukhari

Sunni dan Syiah bisa bergandengan tangan jika kita juga turut mengikuti jejak Quraish Shihab yakni dengan banyak memberikan kontribusi bagi toleransi di Indonesia. Sebab, sebuah pemikiran hanya akan menjadi wacana belaka jika tidak diaplikasikan dalam suatu gerakan. Dalam sebuah gerakan, peran masyarakat sangat menentukan.

Komunitas-komunitas dengan semangat mengusung nilai-nilai toleransi atau tasamuh mesti terus dibentuk dan dipertahankan agar bisa memberikan contoh kepada umat Islam yang ada di Indonesia, bahkan bukan tidak mungkin efeknya akan mendunia. Semestinya, perbedaan bukan lagi kendala untuk hidup bersama dalam bermasyarakat dan bernegara.

Penguatan ini tidak hanya berlaku bagi kelompok Sunni dan Syiah saja, tapi juga bagi semua kelompok lintas iman maupun agama yang berada di Indonesia, dalam naungan Pancasila. []

1 KOMENTAR

  1. Siapapun yg menyerang kegiatan habib assegaf di solo wajib di perangi… sbab mereka mnunjukan aliran yg bukan rahmatan lil alamin… ngaku muslim tpintdk beradab… kasian kalian org2 hawarij yg hrus di tobatkan…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here