Terkait Film Jejak Khilafah di Nusantara Buatan HTI, Ini Penjelasan Sejarawan  

2
2447

BincangSyariah.Com – Penayangan film Jejak Khilafah di Nusantara menuai kontroversi. Pasalnya, klaim sejarah Nicko Pandawa, sejarawan yang merupakan salah satu tim yang membuat film tersebut dibantah beberapa ahli sejarah.

Nicko menyatakan bahwa Khilafah Islamiyah yang dulu pernah berpusat di Turki memiliki hubungan yang sangat erat dengan Nusantara. Keeratan tersebut bahkan telah muncul sejak masa Khalifah Utsman. (Baca: Salim A. Fillah Klarifikasi Pencatutan Nama Terkait Film “Jejak Khilafah” HTI)

Khalifah Utsman diklaim mengirim utusan ke China melewati Nusantara. Buktinya, ada temuan di daerah Loeksumawe, Aceh Utara. Temuan tersebut diklaim sebagai pemakaman keturunan bani Abbasiyah.

Pencatutan nama Peter Carey dalam buku Jejak Khilafah di Nusantara menimbulkan klarifikasi. Melalui siaran pers, dari bukti penelitian sejarah korespondensi Prof. Peter Carey dan Dr. Ismail Hakki Kadi, menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara Utsmaniyah dan Jawa.

Christopher Reinhart, asisten peneliti Prof. Peter Carey meneruskan bahwa atas permintaan Prof. Carey, menyebutkan dua poin terkait klaim sejarah tersebut sebagai berikut:

Pertama, tidak ada bukti pada dokumen-dokumen di Arsip Turki Utsmani yang menunjukkan bahwa ‘negara’ Islam pertama di Jawa, Kesultanan Demak (1475–1558), utamanya raja pertamanya, Raden Patah (bertakhta, 1475–1518), memiliki kontak dengan Turki Utsmani. Kesultanan yang ada di Pulau Jawa tidak dianggap sebagai vassal atau naungan Turki Utsmani, termasuk juga bukan wakil sultan-sultan Utsmani di Jawa.

Kedua, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara Turki Utsmani dan Kesultanan Yogyakarta yang didirikan pada tahun 1749, dalam hal hierarki sebagaimana dimaksud di dalam poin nomor dua, termasuk tidak ada bukti dokumen sejarah yang menunjukkan bahwa panji ‘Tunggul Wulung’ adalah ‘bukti’ bahwa Yogyakarta adalah wakil dari Turki Utsmani di Jawa, berdasarkan penelitian kearsipan Dr. Kadi yang telah lama meneliti dokumen-dokumen Turki Utsmani di Arsip Utsmani di Istanbul.

Baca Juga :  Saat di Alam Kubur, Apakah Anak Kecil Ditanya Munkar-Nakir Juga?

Dr. Kadi menyebutkan, jika ada satu saja dari ‘legenda-legenda’ di atas yang memiliki dukungan bukti sejarah, ia pasti telah memasukkannya ke dalam hasil penelitiannya yang terbaru, yang beliau sunting bersama dengan Prof. A. C. S. Peacock dari Universitas St. Andrew’s di Skotlandia, berjudul Ottoman-Southeast Asian Relations; Sources from the Ottoman Archives (Leiden: Brill, 2019), berjumlah dua jilid yang bisa diakses di Brill.

Siaran pers tersebut dibuat untuk meluruskan informasi yang diklaim di dalam film Jejak Khilafah di Nusantara berdasarkan sejarah di mana nama Prof. Peter Carey dicatut di dalamnya, padahal sama sekali tidak memiliki bukti dokumenter kesejarahan yang valid.

Bagi Peter Carey, tendensi semacam itu yang ditunjukkan oleh generasi sekarang nampak seperti bentuk minderwardigheid atau ketidakpercayadirian yang menganggap bahwa orang-orang Indonesia di masa lampau tidak mampu bertahan dari kolonialisme tanpa bantuan asing.

Padahal, jelas-jelas bukti sejarah yang asli menunjukkan bahwa orang-orang Indonesia sendiri dan perjuangannya adalah faktor yang membuat Indonesia mampu bertahan melewati penjajahan negara-negara Eropa dan Jepang sampai akhirnya mendeklarasikan kemerdekaan yang penuh pada 17 Agustus 1945.[]

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here