Terapi Ulama untuk Menghindar dari Berlebihan dalam Berbicara

0
1357

BincangSyariah.Com – Imam Al-Ghazali menyebutkan setidaknya empat belas bahaya yang bisa lahir apabila seseorang tak menjaga lisannya. Di antara bahaya yang beliau sebutkan itu ialah melebih-lebihkan dalam pembicaraan.

Maksud dari berlebihan dalam berbicara adalah menyampaikan hal-hal yang tidak diperlukan, bahkan mendalam-dalamkannya hingga melebihi kadar yang dibutuhkan. Baik dengan cara membesar-besarkan ketika mengatakan kejadian yang kecil, maupun dengan mengulang-ulangnya supaya terkesan lebih meyakinkan.

Dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, berlebih-lebihan dalam berbicara ini secara tegas disebut sebagai perilaku tercela. Misalnya, suatu hal sudah bisa tersampaikan apa yang dimaksud dengan satu kalimat, tetapi malah disampaikan dengan dua kalimat, tanpa alasan yang mendesak, maka itu termasuk berlebih-lebihan dalam berbicara.

Terkait berlebih-lebihan dalam berbicara, Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah An-Nisa’ [4]: 144;

لَّا خَیۡرَ فِی كَثِیرࣲ مِّن نَّجۡوَىٰهُمۡ إِلَّا مَنۡ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوۡ مَعۡرُوفٍ أَوۡ إِصۡلَـٰحِۭ بَیۡنَ ٱلنَّاسِۚ وَمَن یَفۡعَلۡ ذَ ٰ⁠لِكَ ٱبۡتِغَاۤءَ مَرۡضَاتِ ٱللَّهِ فَسَوۡفَ نُؤۡتِیهِ أَجۡرًا عَظِیمࣰا

“Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barangsiapa berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar.”

Rasulullah Saw. bersabda;

طُوْبَى لِمَنْ أَمْسَكَ الفَضْلَ مِنْ لِسَانِهِ وَأَنْفَقَ الفَضْلَ مِنْ مَالِهِ

“Beruntunglah orang yang mampu menjaga lisannya dari ucapan berlebihan dan menafkahkan kelebihan hartanya.”

Tetapi realitas yang terjadi justru sebaliknya, yaitu banyak yang lebih memilih menjadi orang yang tidak beruntung. Sebagian dari kita malah terlalu menjaga harta, tetapi membebaskan lisannya untuk berkata secara berlebihan.

Imam Hasan Al-Bashri, salah satu tokoh yang sangat sering disebut dalam cerita tasawuf, juga pernah memberikan uraian tentang berlebih-lebihan dalam berbicara. Di antara yang disampaikan beliau ialah;

Baca Juga :  Resep Nabi Agar Kau Disayangi

من كثر كلامه كثر كذبه، ومن كثر ماله كثرت ذنوبه، ومن ساء خلقه عذب نفسه

“Barang siapa banyak bicaranya, maka banyak bohongnya. Barang siapa banyak hartanya maka banyak dosanya. Barang siapa buruk perangainya maka sama dengan ia menyiksa dirinya sendiri.”

Status tercela ketika melebihkan pembicaraan ini tidak hanya terkhusus bagi orang yang kurang ilmunya saja. Berlebihan dalam berbicara juga dapat menjadi cobaan bagi seorang ahli ilmu.

Senada dengan uraian tersebut, Imam Al-Ghazali, dalam kitab Ihya’ Ulumiddin mengutip pernyataan yang disampaikan oleh Yazid bin Abi Habib;

من فتنة العالم أن يكون الكلام أحب إليه من الإستماع فإن وجد من يكفيه فإن في الاستماع سلامة وفي الكلام تزيين وزيادة ونقصان

“Di antara cobaan orang berilmu adalah lebih menyukai berbicara daripada mendengar apabila dijumpai orang yang cukup kompetensinya. Karena sesungguhnya dalam mendengar terdapat keselamatan, sedangkan dalam berbicara terdapat upaya memperindah, menambah, dan mengurangi.”

Pernyataan Yazid bin Abi Habib di atas secara tidak langsung mengingatkan bahwa berlebihan dalam pembicaraan–bagi siapa saja–bukanlah perilaku terpuji. Jikalau bagi ahli ilmu saja disebut cobaan, apalagi bagi orang yang tidak masuk dalam kategori ahli ilmu.

Lantas, bagaimana cara menghindar dari perilaku berlebihan dalam berbicara? Diantaranya adalah dengan menyampaikan sebagaimana yang terjadi, tanpa menambah dan tanpa mengurai.

Terdapat dua terapi yang diajukan oleh Imam Al-Ghazali supaya dapat terhindar dari perilaku berlebihan dalam berbicara, yaitu dengan ilmu dan dengan amal.

Jika dengan ilmu, bisa dilakukan dengan mengingat maut. Karena dengan mengingat kematian, seseorang akan ingat bahwa tidak ada yang patut dicari di dunia ini, selain Ridha Allah Swt. Sedangkan dengan amal, bisa dilakukan dengan cara uzlah, dalam artian menjauhkan diri dari perbincangan yang tak ada faidahnya.

Baca Juga :  Fenomena Anak Durhaka, Tanda Akhir Zaman

Semoga kita bisa terhindar dari perilaku berlebih-lebihan dalam berbicara. Wallahu a’lam bis shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here