Tepatkah Menilai Siapa lebih Taat Beribadah antara Jokowi dan Prabowo?

0
632

BincangSyariah.Com – Jelang pilpres 2019 mendatang, banyak sekali manuver yang dilakukan antara kedua calon presiden melalui tim kampanyenya. Saling serang antara dua kubu tidak terelakkan lagi, dari persoalan negara, keluarga bahkan hal-hal pribadi seperti cara beribadah keduanya menjadi sasaran empuk sarana untuk mendulang simpati masyarakat.

Baru-baru ini beredar pernyataan Ustadz Yusuf Mansur melalui whatsapp yang kemudian di-share oleh Tuan Guru Bajang melalui akun instagramnya. Pernyataannya berisi tentang Presiden Jokowi yang gemar berjamaah, puasa dan shalat dhuha menjadi buah bibir masyarakat, ada yang pro maupun kontra. Atau yang teranyar capres Prabowo yang “ditolak” untuk melaksanakan sholat jumat di Masjid Agung Semarang alias Masjid Kauman. Alasannya karena pamflet yang dipasang terkesan menunjukkan bahwa Prabowo dan tim kampanyenya akan melakukan kampanye di Masjid, sedangkan pihak Masjid tidak berkenan jika Masjid dijadikan tempat kampanye.

Bagaimanapun bentuknya, manuver kedua kubu sama-sama ingin mengeksploitasi manakah dari keduanya yang paling taat beribadah. Baik itu untuk menglarifikasi tuduhan atau hanya sebatas “pencitraan”.

Mengeksploitasi sosok pemimpin bukan kali ini saja dilakukan. Rasulullah Saw sebagai suri tauladan umat Islam adalah sosok yang paling banyak terekspos kepribadiannya. Bahkan untuk hal-hal paling intim dalam kehidupan beliau menjadi role model menarik bagi umatnya. Beliau juga merupakan pemimpin yang paling banyak dikaji pemikirannya, dan paling banyak ditiru tingkah lakunya. Pemimpin adalah orang yang memimpin, tidak hanya dalam persoalan birokrasi kenegaraan, tetapi juga sebagai sosok yang akan dilihat bagaimana tingkat spiritualitasnya, bagaimana ia beragama, karena agama menentukan kepribadian, dan kepribadian menentukan bagaimana dia memimpin. Mungkin sangat tepat jika dibuatkan meme untuk kedua calon, “Ibadahnya saja dijaga apalagi negaranya.” Hehe.

Baca Juga :  Treatment Nabi Saw. Supaya Tidak Mudah Marah 

Mengeksploitasi ibadah kedua calon presiden pada dasarnya dapat dilihat dari banyak sisi. Bagi masyarakat ini berguna untuk mengetahui manakah dari kedua calon yang paling bagus ibadahnya, karena tentu saja masyarakat tidak akan mau memilih pemimpin yang enggan menjaga agamanya. Dari sisi timses kedua belah pihak, mengeksploitasi spiritualitas calon presidennya menjadi alat yang cukup canggih untuk menarik simpati masyarakat, namun seringkali timses atau simpatisan overlap dengan menjelek-jelekkan lawannya, atau berlebihan ketika mengeksploitasi calonnya. Dan dari sudut calon presiden sendiri, menjadi tereksploitasi terkait bagaimana cara mereka beribadah tentu saja tidak mengenakkan, apalagi menjadi buah bibir masyarat jika cara beribadah mereka buruk. Namun yang lebih kurang tepat lagi, jika sampai timbul sifat riya dalam hati kedua calon.

Nabi Muhammad Saw sebagai sosok yang paling banyak dieksploitasi kepribadiannya memang tidak apple to apple untuk dibandingkan dengan kedua calon presiden kita.  Namun, sosok beliau perlu untuk ditiru bagaimana Nabi Muhammad tetap tenang dalam memberikan suri tauladannya dan membiarkan ibadah beliau diketahui oleh sahabatnya. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa seorang sahabat bernama al-Mughirah bin Syu’bah pernah menceritakan bagaimana cara Nabi Muhammad saw beribadah:

عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- صَلَّى حَتَّى انْتَفَخَتْ قَدَمَاهُ فَقِيلَ لَهُ أَتَكَلَّفُ هَذَا وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَقَالَ « أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا ».

 Al-Mughirah bin Syu’bah menceritakan bahwa Nabi Muhammad saw menjalankan shalat sampai kedua kakinya bengkak. Kemudian ditanyakan kepada Nabi -alasan beliau melakukannya- mengapa engkau memaksakan diri padahal Allah telah mengampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang. Kemudian Nabi menjawab: “(Dengan shalat sedemikian rupa ) apakah aku sudah menjadi seorang hamba yang bersyukur?”

Dalam hadis tersebut Rasulullah merasa belum bisa bersyukur dengan segala nikmat yang diberikan. Oleh sebab itu beliau beribadah dengan sangat keras demi menunjukkan rasa syukurnya kepada Allah SWT.

Baca Juga :  Hukum Ziarah Kubur saat Ramadan Bagi Perempuan

Hadis tersebut diriwayatkan dan diceritakan oleh banyak sahabat, seperti ‘Aisyah, Mughirah, dan juga Abu Hurairah. Artinya ibadah Nabi dalam hal ini benar-benar dieksploitasi oleh para sahabat karena para sahabat merasa perlu untuk mencontoh beliau, dan menjadikan beliau suri tauladan. Nabi dalam kondisi semacam itu tidak dalam rangka untuk “pencitraan” terhadap dirinya, karena beliau adalah sosok yang ma’shum atau terjaga dari berbuat dosa.

Kebutuhan masyarakat tentang kepribadian dua sosok calon presiden menjadi alasan kuat mengapa mengeksploitasi ibadah kedua belah pihak menjadi penting. Jikalau ada cara yang lebih bijak dalam “mengeksploitasi” hal itu maka gunakanlah cara tersebut. jika tidak maka sebisa mungkin tidak menjelek-jelekkan dan menghujat satu sama lain.

Bagi kedua calon presiden, menjadi tereksploitasi adalah tantangan berat karena mereka harus menjaga diri mereka agar tidak berujung kepada riya yang justru menghapus amal ibadah mereka. Dalam al-Quran surah al-Ma’un ayat 4-6 disebutkan:

فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ -٤- ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ -٥-  ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ -٦

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. orang-orang yang berbuat riya.”

Dan pada akhirnya mari kita jaga bangsa Indonesia agar tetap damai dan dikarunia pemimpin yang ideal bagi agama, bangsa dan negara. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here