Teori Evolusi dalam Pandangan Ibnu Khaldun

0
402

BincangSyariah.Com – Menarik sekali ketika mendengarkan wawancara Najwa Shihab dan  Quraish Shihab soal relasi Islam dan ilmu pengetahuan. Dalam pemaparannya tentang Adam dan manusia purba yang cukup ringan dan menyejukkan, ada hal menarik yang disampaikan oleh seorang ahli tafsir terkemuka ini.

Dalam wawancara tersebut, Quraish Shihab menyebutkan bahwa teori evolusi yang pertama kali dicetuskan oleh Darwin dan yang sekarang dikenal dalam ilmu pengetahuan sebagai aliran Darwinisme telah didahului oleh Ibnu Khaldun dalam magnum-opusnya yang terkenal, al-Muqaddimah.

Yang dikemukakan Quraish Shihab ini sangat menarik karena  secara tidak langsung menyebutkan bahwa Ibnu Khaldun merupakan pencetus pertama kali pandangan mengenai evolusi manusia dari kera sebelum Darwin, dan tentu dalam bingkai teori ini, Ibnu Khaldun mengatakan bahwa manusia bisa jadi sesungguhnya berasal dari kera. Quraish Shihab dalam hal ini menyebutkan, tentunya mengutip dari al-Muqaddimah, bahwa manusia berasal dari min alamil qiradah (dari spesies kera).

Sebagian penahkik Muqaddimah Ibnu Khaldun menulisnya min alamil qudrah (dari kemampuan) dan bukan min alamil qiradah (dari kera). Tampaknya Quraish Shihab dalam hal ini memegang pandangan Ali Abdul Wahid Wafi dalam tahkiknya terhadap Muqaddimah Ibnu Khaldun. Menurut Wafi alam al-qudrah (dari kemampuan) itu penulisan yang keliru dari alam al-qiradah. Jadi menurut Wafi, yang benar ialah alam al-qiradah (spesies kera).

Sebenarnya Quraish Shihab tidak sendirian. Beberapa peneliti pemikiran Ibnu Khaldun ada yang berpandangan bahwa Ibnu Khaldun merupakan pencetus teori evolusi sebelum Darwin. Kesimpulan ini mungkin didasarkan kepada hasil pembacaan beberapa paragraf yang ada dalam kitab al-Muqaddimah, terutama dalam bab Fi Asnafil Mudrikin Minal Ghaib (Bab yang menjelaskan beberapa golongan orang yang mampu menembus dunia metafisis).

Baca Juga :  Fiqh al-Aqalliyyat: Kontekstual Fikih di Abad Modern

Kita coba menilik terjemahan Muqaddimah Ibnu Khaldun dalam bahasa Perancis yang ditawarkan oleh Vincent Monteil dalam karyanya yang berjudul Ibn Khaldoun, Discours sur l’Histoire Universelle – Al-Muqaddima.

Terjemahan ini setidaknya menurut Muhammad Arkoun melengkapi terjemahan bagus lainnya dalam bahasa Inggris yang dilakukan oleh Franz Rosenthal di tahun 1950-an. Kita fokuskan pada beberapa paragraf  saja yang sering dijadikan dasar pemikiran  bahwa Ibnu Khaldun pencetus teori Evolusi sebelum Darwin, evolusi manusia dari kera.

“Coba kita perhatikan alam penciptaan! Kita mulai pembahasan dari dunia mineral yang dengan sangat menakjubkan memiliki hubungan dengan dunia tetumbuhan. Alam tumbuh-tumbuhan pada tahap selanjutnya memiliki hubungan dengan alam hewan. Pada titik ini, puncak dunia mineral memiliki hubungan dengan tingkatan awal dunia tumbuh-tumbuhan, yakni dengan rumput-rumput dan semua tanaman yang tidak berbiji.

Puncak akhir perkembangan tumbuh-tumbuhan – seperti kurma – memiliki hubungan dengan tingkatan pertama hewan yang berada di posisi atasnya, yakni siput dan kerang. Kedua hewan ini hanya memiliki potensi sentuh. Kata “berhubungan” (ittisal) yang terjadi dalam semua ciptaan ini maksudnya ialah bahwa puncak tertinggi masing-masing alam ini memiliki potensi (isti’dad) yang cukup dekat sehingga dapat berevolusi menjadi alam selanjutnya. ”

Melalui terjemahan Vincent ini, kita dapat memahami bahwa menurut Ibnu Khaldun wujud atau onthos itu terdiri dari komponen-komponen yang masing-masingnya memiliki tingkat dan derajatnya dalam susunan kosmos, mulai dari yang terendah sampai ke yang tertinggi. Misalnya, terjemahan di atas menunjukkan bahwa wujud itu terdiri dari mineral, tumbuh-tumbuhan dan hewan. Mineral pada tingkat yang tertinggi memiliki hubungan dengan tumbuh-tumbuhan dengan tingkat yang terendah, atau tingkat awal.

Sedangkan tingkat tumbuh-tumbuhan yang tertinggi seperti pohon kurma dan sejenisnya memiliki hubungan dengan tingkat hewan yang terendah seperti siput dan sejenisnya. Pandangan seperti ini sebenarnya telah dicetuskan oleh ilmuwan Islam sebelum Ibnu Khaldun. Jadi bukan sesuatu yang original dari Ibnu Khaldun sendiri. Yang original ialah soal evolusinya.

Baca Juga :  Empat Fase Kehidupan Manusia

Dan di akhir paragraf pada terjemahan di atas, kita melihat bahwa masing-masing dunia mineral, tumbuh-tumbuhan dan hewan ini bisa berevolusi menjadi dunia yang di atasnya. Mineral bisa menjadi tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan bisa menjadi  hewan dan hewan bisa menjadi manusia. Kata kunci evolusi dalam terjemahan Vincent ini terletak pada kata isti’dad yang arti literalnya ialah persiapan atau potensi.

Pertanyaannnya kemudian ialah hewan apa yang kemudian bisa berevolusi menjadi manusia? Sebelumnya telah kita lihat bagaimana tahapan tertinggi suatu makhluk memiliki potensi untuk berevolusi menjadi tahapan terendah wujud makhluk yang ada di atasnya. Menurut Ibnu Khaldun, hewan dengan tahapan tertinggi yang memiliki hubungan atau kaitan dengan tahapan terendah manusia ialah kera (al-qiradah). Ini seperti yang dapat kita temukan pada terjemahan berikut ini:

“Alam hewan juga mengalami perkembangan. Hewan memiliki berbagai macam spesies. Dalam puncak proses perkembangannya, hewan dapat berevolusi menjadi manusia yang dikaruniai kemampuan berpikir dan merenung.

Hewan yang berevolusi menjadi manusia ini berasal dari spesies kera (alam al-qiradah) yang memiliki kemampuan yang hampir sama dengan manusia: kecerdasan (kays) dan persepsi (idrak). Namun kemampuan ini tidak mencapai tahap kesempurnaannya seperti yang ada pada kemampuan manusia, yakni tahap berpikir dan merenung (seperti yang dimiliki manusia)”.

Kutipan terakhir ini kiranya perlu kita sajikan dalam versi bahasa Arabnya untuk menunjukkan bahwa Ibnu Khaldun memang pernah mencetuskan pandangan, meskipun bukan dalam bentuk teori, bahwa manusia berasal dari spesies kera. Kalau pandangan ini sekiranya diterima, tentu bisa dikatakan bahwa Ibnu Khaldun telah mendahului Charles Darwin yang muncul lima abad setelahnya.

Meski tentunya Ibnu Khaldun dan Charles Darwin memiliki titik tolak dan pandangan yang berbeda. Kita lihat dalam kutipan bahasa Arab dari kitab al-Muqaddimah di bawah ini:

Baca Juga :  Yang Menjadi Ukuran Derajat Manusia adalah Takwa

واتسع عالم الحيوان وتعددت أنواعه، وانتهى في تدريج التكوين إلى الإنسان صاحب الفكر والروية، ترتفع إليه من عالم القردة الذي اجتمع فيه الكيس والإدراك، ولم ينته إلى الروية والفكر بالفعل.

Ali Abdul Wahid Wafi seperti dalam komentarnya terhadap redaksi di atas mengatakan bahwa semua tahkik yang menyebut alam al-qiradah (spesies kera) ini sebagai salah tulis dari alam al-qudrah (alam kemampuan) adalah keliru. Karena itu, Wafi juga sama dengan Vincent Monteil, berpandangan bahwa bahwa Ibnu Khaldun juga memiliki teori evolusi, terutama evolusi kera menjadi manusia seperti yang dapat kita lihat pada kutipan di atas. Allahu A’lam.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here