Tentang Ragam Interaksi Masyarakat dengan Al-Qur’an

0
441

BincangSyariah.Com – Alquran sebagai ajaran Islam dimaknai beragam kalangan. Secara umum, kitab suci tersebut dimaknai sebagai sebuah bacaan yang bernilai ibadah. Hal inilah yang menjadikan al-Qur’an senantiasa dibaca dalam keseharian umat Islam tidak saja dilakukan di dalam salat yang merupakan kewajiban maupun selainnya yang merupakan bagian dari menghidupkan sunnah. Nilai pembacaan Al-Qur’an terletak pada perhuruf dan bukan perkata atau kalimatnya atau menjadi bagian penerang di rumah. Dengan demikian, al-Qur’an merupakan bacaan bagi umat Islam yang bernilai ibadah.

Interaksi umat Islam dengan al-Qur’an terutama atas bacaan sangat beragam. Hal tersebut setidaknya menjadikan Al-Qur’an dipelajari dengan sungguh-sungguh oleh beragam generasi manusia baik di masa kanak-kanak maupun generasi tua. Hal tersebut senada dengan maraknya metode cara baca Al-Qur’an yang mudah dalam hitungan jam.

Selain itu, keberadaan Al-Qur’an juga dihafalkan oleh sebagian masyarakat yang pada masa lampau sangat jarang yang ikut menghafal dan sekarang sudah menjadi kebiasaan dengan maraknya rumah tahfidz dan pesantren yang khusus. Dengan demikian, kesadaran akan membaca dan menghafal al-Qur’an mengiringi kesadaran akan nilai ibadah.

Bahkan kontes bacaan dan hafalan al-Qur’an menghiasai layar kaca belakangan ini. Fenomena tersebut tidak hanya dalam konteks MTQ atau STQ melainkan juga dilakukan dalam bentuk kompetisi yang diselenggarakan tiap bulan Ramadan. Salah satu pemahaman mereka adalah bahwa orang yang hafal Al-Qur’an akan memberikan mahkota kepada orang tuanya.

Kesadaran interaksi di atas akan meningkat seiring dengan pendidikan seseorang. Itu semua pada substansinya adalah fenomena Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Tingkatan ini akan semakin meningkat dibanding sebelumnya yang hanya memfokuskan pada sisi bacaan dan hafalan. Walaupun hal tersebut sudah menjadi bagian dari syafaat yang diberikan oleh Rasulullah saw. Dengan demikian, level inilah yang menjadikan mereka para akademisi dapat meningkatkan kepada interaksi yang lebih dalam dengan Alquran.

Baca Juga :  Allah, Dimanakah RidaMu Berada?

Pemahaman terhadap Al-Qur’an dan maknanya terutama mampu mengungkap isi di dalamnya akan menambah potensi petunjuk dalam diri seseorang. Hal tersebut tentunya didukung oleh adanya pemahaman dengan hadis Nabi saw. Jawaban mengapa disertai hadis adalah karena hadis adalah tafsir pertama dari al-Qur’an. Dengan demikian, memahami al-Qur’an harus juga dengan memahami hadis.

Pola pemahaman atas hal di atas terus berkembang dan menjadi kajian yang berkelanjutan dan tiada henti secara akademik. Petunjuk Al-Qur’an tidak saja dikorelasikan dengan hadis melainkan juga dengan keilmuan lain yang multidisiplin sehigga mampu menangkap esensi yang sesungguhnya. Hal ini memunculkan nantinya beragam metode penafsiran. Misalnya seperti yang digagas oleh Abdullah Saeed yang mampu mengkontekstualkan nilai-nilai Alquran dengan dunia sekarang. Dengan demikian, al-Qur’an dengan beragam tafsir dan metodenya telah mampu menunjukkan adanya petunjuk dan kebenaran. Interaksi manusia dengan Al-Qur’an akan selalu berkembang seiring dengan perkembangan ilmu dan persoalan yang dihadapi manusia.

Tulisan ini sudah pernah dipublikasi di islamsantun.org

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here