Tentang Pertanyaan yang Jawabannya Itu-Itu Saja

0
146

BincangSyariah.Com – Seseorang bertanya; “mengapa ya teman-teman saya di pesantren yang dulunya rajin ngaji, pinter, bahkan jenius, tetapi selanjutnya kok kurang beruntung dalam penghidupan ekonominya bahkan kurang diminati dan gak laku keilmuannya di masyarakat? Semantara itu, mereka yang bermalas-malasan, bodoh, tukang melawan guru, bahkan ada juga yang masih suka ngompol, tetapi kelanjutannya kok malah penghidupan ekonominya bagus dan berlimpah-ruah. Bahkan ia sering ngomong agama dengan ‘sok pinter’ bahasa Arab, itu malah mudah disambut oleh masyarakat, bahkan sangat sukses secara sosialnya?”

Saya jawab; Kuwi kershani Pengeran (Itu Kehendak Allah ta’ala).

Lain waktu, dia nanya lagi. Ya, jawabannya pun sama. Lain waktu lagi, dia nanya lagi. Ya, jawabannya pun sama. Karena, jawabannya selalu sama. Dia gak puas, dan nanya, “Kenapa jawabannya itu-itu saja?”

Saya jawab; “Kuwi kershani Pengeran, syukur lan sabar wae”. Ini kehendak Allah ta’ala, bersyukur dan bersabar saja. Titik.

Sengaja memang tidak meneruskan pembahasan begini, juga tidak memperdalamnya. Khawatir masuk ke hati dan merusak fikiran. Sebab, ini ranah dan domainnya Allah ta’ala.

Dalam Kitab Tauhid, Hasyiyatu Ad-Dasuqiy ‘Ala Mukhtashar al-Ma’ani, Sebuah syair dari Ibnu Rawandhi (827-911M);

كَمْ عَاقِلٍ عَاقِلٍ أَعْيَتْ مَذَاهِبُهُ # وَجَاهِلٍ جَاهِلٍ تَلْقَاهُ مَرْزُوقًا

Banyak sekali cerdik-pandai dan berilmu, tetapi miskin secara ekonomi kehidupannya *** Banyak sekali orang bodoh dan gak ngerti apa-apa, tetapi selalu saja berlimpah rizkinya.

هَذَا الَّذِي تَرَكَ الْأَوْهَامَ حَائِرَةً # وَصَيَّرَ الْعَالِمَ النِّحْرِيرَ زِنْدِيقًا

Justru inilah yang sering menimbulkan gundah-gulana, sebab bingung memikirkannya *** Bahkan, orang yang amat sangat pintar sekali pun mungkin bisa menjadi zindiq, ingkar kepada Taqdir Allah karenannya.

Kemudian, dalam Kitab balaghah, Jauharah al-Maknun dengan gaya yang hampir mirip, ditambahkan;

Baca Juga :  Qadarullah atau Qudratullah, Samakah Artinya ?

كَمْ مِنْ قَوِيٍّ قَوِيٍّ فِي تَصَرُّفِهِ # مُهَذَّبُ الرَّأْيِ عَنْهُ الرِّزْقُ يَنْحَرِفُ

Banyak sekali orang yang bekerja keras dan memiliki Ide yang cemerlang *** akan tetapi rezekinya malahan biasa saja, bahkan sering tidak beruntung.

وَكَمْ ضَعِيفٍ ضَعِيفٍ فِي تَقَلُّبِهِ # كَأَنَّهُ مِنْ خَلِيجِ الْبَحْرِ يَغْتَرِفُ

Banyak sekali orang yang malas bekerja, dan terlalu santai *** (Akan tetapi rizkinya justru mudah menghampirinya) seakan-akan laksana ia sedang di tepi laut dan mudah mengambil airnya.

هَذَا دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الْإِلَهَ لَهُ # فِي الْخَلْقِ سِرٌّ خَفِيٌّ لَيْسَ يَنْكَشِفُ

Ini adalah bukti bahwa Allah ta’ala *** memiliki rahasia yang tak terungkap, bagi mahluknya.

Maka, yakinlah pada firman-Nya;

إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرًۢا بَصِيرًا

Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapapun yang Dia kehendaki dan menyempitkannya, (untuk suatu hikmah yang agung). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Q.S. Al-Israa’: 30)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here