Hukum Tempat Shalat Imam Lebih Tinggi dari Tempat  Makmum

0
1396

BincangSyariah.Com – Di banyak masjid, umumnya tempat shalat imam sama rata dengan tempat shalat makmum sehingga posisi imam tidak lebih tinggi dari makmum. Namun di masjid tertentu, dijumpai tempat shalat imam lebih tinggi daripada tempat shalat makmum. Dalam Islam, bagaimana hukum tempat shalat imam lebih tinggi daripada tempat shalat makmum ini?

Pada dasarnya, posisi tempat shalat imam dan tempat shalat makmum harus setara. Artinya, posisi tempat shalat imam tidak boleh lebih tinggi daripada tempat shalat makmum, atau sebaliknya. Jika posisi tempat shalat imam lebih tinggi daripada tempat shalat makmum, maka hukumnya makruh. Begitu juga sebaliknya, makruh posisi tempat shalat makmum lebih tinggi daripada tempat shalat imam.

Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Zainudin Al-Malibari dalam kitab Fathul Mu’in berikut;

ﻭﻳﻜﺮﻩ ﺍﺭﺗﻔﺎﻉ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻵﺧﺮ ﺑﻼ ﺣﺎﺟﺔ ﻭﻟﻮ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ

Dan makruh jika posisi salah satu dari imam dan makmum lebih tinggi dari yang lain dengan tanpa ada keperluan, meski itu di dalam masjid.

Kemakruhan ini berlaku jika tidak ada kebutuhan. Jika ada kebutuhan, misalnya agar suara imam didengar oleh makmum atau imam hendak mengajari makmum tata cara shalat yang benar, maka posisi tempat shalat imam lebih tinggi daripada tempat shalat makmum tidak makruh. Bahkan hal itu disunnahkan, sebagimana telah dicontohkan oleh Nabi Saw.

Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari dari sahabat Sahl bin Sa’d, dia berkisah;

وَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ عَلَيْهِ فَكَبَّرَ وَكَبَّرَ النَّاسُ وَرَاءَهُ، وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ، ثُمَّ رَفَعَ فَنَزَلَ الْقَهْقَرَى حَتَّى سَجَدَ فِي أَصْلِ الْمِنْبَرِ، ثُمَّ عَادَ، حَتَّى فَرَغَ مِنْ آخِرِ صَلَاتِهِ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي صَنَعْتُ هَذَا لِتَأْتَمُّوا بِي، وَلِتَعَلَّمُوا صَلَاتِي

Baca Juga :  Anjuran Mengeraskan Suara dalam Semua Takbir Intiqal Bagi Imam Salat

Saya pernah melihat Rasulullah Saw mengimami di atas mimbar. Beliau takbiratul ihram dan jamaah pun ikut takbir di belakang beliau, sementara beliau di atas mimbar. Kemudian, ketika beliau i’tidal, beliau mundur ke belakang untuk turun, sehingga beliau sujud di tanah. Lalu beliau kembali lagi ke atas mimbar, hingga beliau menyelesaikan shalatnya. Kemudian beliau menghadap kepada para sahabat, dan bersabda; ‘Wahai para sahabat, aku lakukan ini agar kalian bisa mengikutiku dan mempelajari shalatku.’

Hadis ini merupakan ilustrasi kebolehan imam melakukan shalat di tempat yang lebih tinggi dari makmum dengan tujuan mengajari makmum melakukan shalat yang benar. Jika tidak ada tujuan dan maksud tertentu sebagaimana disebutkan, maka imam makruh melakukan shalat di tempat yang lebih daripada makmum.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here