Teladan Kesetiaan Nabi Muhammad kepada Siti Khadijah

0
1466

BincangSyariah.Com – Tema seputar poligami akhir-akhir ini sedang ramai. Belum lama kita pernah digegerkan dengan selebaran di media sosial tentang kelas poligami yang digelar di beberapa kota besar secara Nasional. Kelas berbiaya mahal semacam ini cukup menjadi kontroversi dan menandakan bahwa poligami sedang diupayakan menjadi praktik mainstream di Indonesia.

Argumentasi kesunnahan acapkali dijadikan acuan bagi sebagian Muslim terobsesi dengan praktik ini. Pertanyaannya benarkan Nabi menganjurkan poligami?

Jawabannya tentu tergantung, karena para ulama berbeda pendapat masalah ini. Ada yang secara tegas melarang dengan dalih kontekstualisasi dan relevansinya, tetapi ada pula yang membolehkan karena memang tertuang dalam ayat al-Quran. Yang jelas, poligami dalam ajaran Islam tidak wajib.

Terlepas dari perdebatan soal hukum poligami, penulis ingin bercerita tentang kesetiaan dan kecintaan Rasulullah saw. kepada Khadijah ra., istri pertamanya yang karenanya, Rasul tidak melakukan poligami.

Dalam kitab Sahih Bukhari dan Muslim dikisahkan bahwa pada suatu hari saudara perempuan Khadijah ra. bernama Halah berkunjung ke Madinah. Nabi Muhammad saw, mendengar suaranya yang mirip dengan istri pertamanya itu, beliau memanggilnya sebelum tampak sosoknya.

Kesetiaan Nabi saw, kepada Khadijah ra. bahkan acapkali menyebabkan api cemburu membakar hati satu-satunya istri gadis baginda Nabi, Aisyah ra. Bahkan Aisyah bercerita bahwa Nabi saw. tidak pernah keluar rumah tanpa mengenang Khadijah dengan kenangan yang indah.

Pernah pada saat Rasulullah bercerita tentang Khadijah, Aisyah berkata kepada Rasul:

مَا تَذْكُرُ مِنْ عَجُوزٍ مِنْ عَجَائِزِ قُرَيْشٍ، حَمْرَاءِ الشِّدْقَيْنِ، هَلَكَتْ فِي الدَّهْرِ، قَدْ أَبْدَلَكَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهَا

Apa yang engkau ingat dari seorang wanita tua dari kelompok wanita tua suku Quraisy yang kedua bibirnya putih dan telah meninggal dunia. Allah Swt telah menggantinya untukmu dengan yang lebih baik.

Mendengar perkataan Aisyah itu, Nabi Muhammad saw yang jarang marah itu, tampak mukanya menahan amarah, seraya tetap berkata dengan baik kepada Aisyah:

Baca Juga :  Saat Menjenguk Orang Sakit, Apa Saja yang Semestinya Dilakukan?

مَا أَبْدَلَنِي اللهُ عز وجل خَيْرًا مِنْهَا، قَدْ آمَنَتْ بِي إِذْ كَفَرَ بِي النَّاسُ، وَصَدَّقَتْنِي إِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ، وَوَاسَتْنِي بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِي النَّاسُ، وَرَزَقَنِي اللهُ عز وجل وَلَدَهَا إِذْ حَرَمَنِي أَوْلَادَ النِّسَاءِ

Allah Swt tidak menggantinya, tidak ada yang lebih baik darinya. Dia (Khadijah ra.) percaya padaku ketika semua orang menolakku, dia membenarkanku ketika semua orang menilaiku bohong, dia mendukungku dengan hartanya ketika semua orang memusuhiku, dan Allah menganugerahkan untukku anak-anak darinya, tidak dengan istri yang lain.

Dari riwayat gambaran percakapan di atas, kita bisa mengetahui betapa Rasulullah saw. adalah sosok suami yang setia dan sangat mencintai istrinya. Dalam perjalanan kisah rumah tangga Nabi, praktik poligami beliau tidak lebih dari 8 tahun, dengan keadaan hanya Aisyah saja yang masih lajang, sedang yang lainnya adalah janda.

Kesetiaan Rasul Muhammad saw bersama Khadijah selama 28 tahun tanpa memadunya, semestinya lebih layak dijadikan teladan berumah tangga oleh umatnya sekarang ketimbang praktik poligami beliau. Perlu diingat bahwa meskipun Rasul melakukan praktik poligami, kemaksuman dan alasan substansial Nabi harus dijadikan acuan.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here