Telaah terhadap Bitcoin sebagai Harta, dan Kedudukanya terhadap Mata Uang Fiat

3
29

BincangSyariah.Com – Berbicara mengenai Bitcoin, maka seolah kita diajak untuk berbicara mengenai sebuah entitas yang disebut sebagai mal duyun, yaitu semacam harta utang (syaiin maushuf fi al-dzimmah). Ia disebut sebagai harta utang, sebab nilai bahan dari Bitcoin ini adalah sebuah sandi kriptografi yang tidak bisa dipalsukan oleh entitas manapun dan dapat ditukar dengan uang fiat, yaitu mata uang resmi suatu negara.

Menariknya dari Bitcoin adalah ia memiliki sebuah harga. Darimana terbentuknya harga ini? Inilah hal yang sulit diterka oleh sejumlah pihak. (Baca: Apakah Cryptocurrency Dapat Digolongkan Sebagai Harta?)

Bagaimana tidak sulit, bukankah sandi kriptografi itu merupakan sebuah entitas yang tidak memiliki nilai dan harga apapun, di awal mulanya. Ia tidak sepadan dengan logam mulia yang bisa dijadikan perhiasan riel dan unit penyimpan kekayaan.

Lalu bagaimana tiba-tiba Bitcoin ini muncul dan memiliki harga? Dulu, di awal kemunculannya, 1 keping Bitcoin dihargai sebesar 50 rupiah. Secara perlahan dan berangsur-angsur, harga Bitcoin melambung tinggi selama beberapa tahun terakhir pasca ditemukannya oleh seseorang yang anonimous, yaitu Sathosi Nakamoto. Puncak dari harga itu terjadi setara 260 juta rupiah. Kemudian ia turun lagi, hingga kisaran 130 juta rupiah.

Bayangkan, bagaimana harga itu mengalami fluktuasi yang begitu dahsyat, dari mulai 50 rupiah menjadi 260 juta rupiah! Bayangkan pula, ketika harga Bitcoin itu jatuh, sehingga tinggal 130 juta rupiah! Bagi pihak yang sempat menyimpan Bitcoin pada kisaran harga 50 rupiah, kemudian ia jual pada saat Bitcoin mencapai harga 260 juta rupiah, sudah barang tentu ia bisa tiba-tiba menjadi seorang milyarder mendadak. Sebaliknya, bagi pihak yang sempat membeli Bitcoin pada kisaran harga 260 juta rupiah, ia bisa jatuh bangkrut ketika harga Bitcoin itu jatuh separuhnya saja, yaitu pada kisaran 130 juta rupiah.

Fluktuasi harga yang sulit dikendalikan ini semakin menambah penasaran dari para pengamat ekonomi, khususnya ekonomi syariah. Rasa penasaran itu berkisar pada unsur pembentuk harga dari Bitcoin itu sendiri.

Sifat fluktuasi yang begitu curam, menjadikan Bitcoin tidak bisa dikendalikan sehingga tidak aman untuk digunakan sebagai salah satu unit penyimpan kekayaan. Sifatnya yang disebarkan melalui jaringan Blockchain dan bersifat peer to peer serta tidak tersentralisasi, menjadikan Bitcoin ini dianggap sebagai satu ancaman terbaru dari mata uang lokal resmi negara. Itulah sebabnya, hingga detik ini, mayoritas negara-negara di dunia tidak berkenan untuk menggunakan Bitcoin atau mata uang kripto lainnya sebagai salah satu alat tukar resmi yang diakui oleh negara.

Sekilas Melihat Latar Belakang diciptakannya Bitcoin

Bitcoin pada awal kali diciptakan, sebenarnya dilatarbelakangi oleh sebuah motif yaitu efisiensi transfer uang dari satu negara ke negara lain. Jika seseorang secara konvensional hendak melakukan transfer uang ke suatu negara, maka ia dihadapkan pada beberapa proses, yaitu: 1) datang ke bank, 2) kemudian bank melakukan kerjasama dengan bank negara tujuan pentransferan, 3) kemudian pihak penerima mendatangi bank tempat dananya itu diterima, 4) lalu terjadi pencairan dana.

Misalnya dalam kasus ekspor-impor, untuk melakukan semua proses itu ada mekanisme penyusunan Letter of Credit (L.C), dan lain sebagainya. Tak urung, semua proses ini membutuhkan adanya banyak tenaga yang turut campur dalam pentransferan. Hubungan lintas negara, juga mensyaratkan adanya tarif bea dan cukai, pajak penghasilan dan sebagainya. Semua ini merupakan unsur pembentuk bagi membengkaknya dana dari yang seharusnya dikeluarkan oleh pihak pentransfer dan penerima transfer.

Dengan adanya Bitcoin dan mata uang kripto, biaya-biaya tenaga di atas menjadi terpangkas. Tidak ada bea transfer, tidak ada bea pajak, cukai, dan berbagai bea regulasi lainnya yang lahir dari adanya hukum sebab akibat dunia bisnis.

Bagaimana bisa itu terjadi? Sebab, transfer mata uang cukup diwakili lewat antar jaringan, yang dikenal sebagai peer to peer.

Pencatatan data transfer, diwakili oleh sebuah portofolio pencatatan yang kemudian dikenal sebagai rantai blok (Blockchain).

Alhasil, dengan adanya pencatatan ini, jumlah keping Bitcoin di dunia selalu terpantau dan terawasi peredarannya dan semua pihak penggunanya tahu lewat Blockchain tersebut. Berapa sisa Bitcoin yang belum digali, berapa yang beredar, semua pihak penggunanya bisa mengetahui akan hal itu. Di sinilah letak keunikan dari Bitcoin dan mata uang kripto.

Teori terbentuknya Harga pada Bitcoin

Meski setelah menyimak sekilas sejarah lahirnya Bitcoin, kita masih belum bisa memastikan, di mana letak nilai krusial dari Bitcoin sehingga 1 kepingnya menjadi pantas untuk diberi harga 130 juta rupiah untuk saat ini.

Jika mencermati bahwa Bitcoin merupakan yang lahir dari satu jaringan khusus tertentu, maka dapat dipastikan bahwa Bitcoin ini pada dasarnya adalah sebuah platform independen. Bitcoin tidak bisa disamakan dengan harta berupa token.

Karena pada token, yang dibutuhkan hanyalah sebuah fasilitas tempat penyaluran utilitas token. Semacam Kartu E-Tol, maka ia adalah token, yang hanya bisa digunakan ketika seseorang akan melintasi jalan tol.

Alhasil, akad pemilik kartu saat melakukan pengisian kartu E-Tol, adalah seolah-olah sedang menghutangi pihak penerbit kartu, lalu meminta agar pihak penerbit membayarkan tagihan tol yang dilewatinya dengan memangkas uang yang sudah diserahkan konsumen padanya, saat ia menempel kartu e-Tol tersebut ke pintu tol. Nah, token semacam ini secara tegas dapat  disebut sebagai murni harta utang (mal duyun).

Akan tetapi, pada koin Bitcoin, utilitas ini sama sekali tidak dimiliki oleh penerbitnya. Penerbit hanya mengacu pada goal utama dari diciptakannya Bitcoin, yaitu mempermudah transaksi dari jaringan ke jaringan tanpa harus melalui perantara bank. Itulah sebabnya, koin pembayaran ini sudah barang tentu merupakan yang harus berdiri sendiri, dalam lingkungan terbatas dalam rupa platform.

Tanpa berdiri sendiri, maka Bitcoin tidak bisa dinyatakan sebagai harga. Tanpa lingkungan terbatas, maka Bitcoin menjadi tidak laku. Jadi, platform ini dalam dunia riel adalah ibarat menempati derajatnya negara. Sementara server-server penambang yang tersebar, adalah menempati derajatnya mesin pencetak uang.

Masalahnya kemudian adalah bagaimana kemudian Bitcoin ini bisa ditukar dengan mata uang fiat? Simak pada tulisan selanjutnya.

3 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Tulisan ini berangkat dari beberapa pembaca yang merespon artikel penulis yang pernah dimuat sebelumnya di situs yang Anda ikuti sekarang. Pertama, berkaitan dengan fatwa Dar Al-Ifta al-Azhar Mesir, yang menyatakan bahwa Bitcoin dan mata uang crypto lainnya sebagai yang haram diperdagangkan dan ditambang. Kedua, merespon pembaca yang menyangkal bahwa Bitcoin sebagai yang tidak layak bila disebut sebagai yang paling diburu pengusaha. (Baca: Telaah terhadap Bitcoin sebagai Harta, dan Kedudukanya terhadap Mata Uang Fiat) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here