Telaah Hadis: Rasulullah Tidak Memilih Kecuali yang Mudah  

0
1452

BincangSyariah.Com – Semua orang tentu menyenangi segala perkara itu bisa berjalan atau selesai dengan mudah. Tidak ada orang yang menjalani sebuah kesulitan, kecuali ia menyadari bahwa kesulitan yang dia jalani tersebut ujungnya – baik sudah dapat dibuktikan ataupun hanya dalam bentuk harapan – adalah kondisi yang mudah. Al-Ghazali dalam karyanya al-Mustashfa pernah berujar bahwa kecenderungan manusia itu mencari yang nikmat. Dan kemudahan adalah diantara nikmat yang Allah anugerahkan.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah Ra. bahwa Rasulullah tidak memilih kecuali yang mudah yang dipilihnya,

ما خُيِّر رسول الله صلى الله عليه وسلم بين أمرين إلَّا أخذ أيسرهما، ما لم يكن إثمًا، فإن كان إثمًا كان أبعد النَّاس منه، وما انتقم رسول الله صلى الله عليه وسلم لنفسه، إلا أن تُنتَهك حُرْمَة الله فينتقم لله بها

Rasulullah tidaklah dihadapkan pada pilihan terhadap dua perkara, melainkan ia pilih yang paling mudah diantara keduanya. Selama itu bukan sebuah dosa. Namun jika itu adalah sebuah dosa, Rasulullah Saw. adalah orang yang paling jauh dari hal tersebut. Dan Rasulullah tidak pernah murka kepada siapapun secara pribadi, kecuali ada prinsip-prinsip agama yang dilanggar sehingga Nabi murka demi tegaknya persoalan itu (prinsip-prinsip) agama.

Dari hadis ini, kita setidaknya mendapatkan penjelasan mengenai dua persoalan penting. Pertama, Rasulullah Saw. adalah orang yang selalu memilih jalan yang paling mudah pada semua urusan, selama ia tidak bertentangan dengan ajaran agama. Isi sesuai dengan penjelasan para ulama terkait hadis ini. Misalnya, pernyataan Ibn Hajar dalam Fath al-Bari,

إلا أخذ أيسرهما ” أي أسهلهما . وقوله ” ما لم يكن إثما ” أي ما لم يكن الأسهل مقتضيا للإثم فإنه حينئذ يختار الأشد

Baca Juga :  Hadis-hadis Keutamaan Berbakti kepada Orang Tua

“kecuali mengambil yang paling mudah”, maksudnya yang paling gampang (ashal dan aysar sama-sama berarti mudah – penulis). Dan sabda beliau “selama bukan dosa/kesalahan”, maksudnya selama yang paling mudah itu tidak berimplikasi kepada dosa. Ketika itu merupakan sebuah dosa, maka Rasulullah Saw. memilih langkah yang paling maksimal (untuk menghindarinya).

Sisi kedua, jika itu berkaitan dengan dengan dosa, maka Rasulullah Saw. akan memilih jalan yang paling sulit, maksimal, agar terhindari dari dosa tersebut. Sisi terakhir, ketika Rasulullah Saw. bersikap tegas bahkan murka (menggunakan redaksi: intaqama), maka dalam melakukannya Rasulullah Saw tidak beralasan untuk tujuan kepentingan pribadinya, tapi murni demi mewujudkan prinsip-prinsip agama. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here