Telaah Hadis; Nabi Khidir dan Nabi Ilyas Bertemu Tiap Musim Haji di Makkah

2
2815

BincangSyariah.Com – Nabi Khidir dan Nabi Ilyas dipercaya masih hidup hingga saat ini. Keduanya dikatakan akan meninggal nanti pada zamannya Dajjal. Keduanya dikenal sebagai Nabi yang bertugas menjaga lautan. Dikabarkan dalam sebuah hadis bahwa Nabi Khidir setiap setahun sekali berkumpul dengan Nabi Ilyah di Arafah dan di Masjid Khaif di Mina, Makkah.

Waktunya pada saat ramai-ramainya orang yang sedang melaksanakan ibadah haji. Nabi Ilyas merupakan keturunan generasi keempat dari Nabi Harun, beliau diutus oleh Allah Swt kepada Bani Israil. Lalu bagaimana kualiatas hadis tersebut?

Hadis ini diriwayatkan oleh al-Uqaili, Daruquthni, al-Suyuthi dan Ibnu ‘Asakir dengan redaksi berikut ini

عن ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: يلتقي الخضر وإلياس كل عام بالموسم بمنى فيحلق كل واحد منهما رأس صاحبه ويتفارقن عن هؤلاء الكلمات: بسم الله ماشاء الله لايسوق الخير إلا الله يسم الله ماشاء الله لايصرف السوء إلا الله بسم الله ماشاء الله ماكان من نعمة فمن الله بسم الله ماشاء الله لاحول ولاقوة إلآ باللة

Dari Ibnu Abbas ra, bahwasanya Nabi Saw bersabda, “Khidhir dan Ilyas bertemu tiap tahun pada musim haji di Mina, (saat tahallul) mereka saling mencukur kepala satu sama lainnya, kemudian mereka berpisah dengan kalimat, bismillahi masya-allahi la yasuuqul khaira illallaha bismillahi masya-allahi laa yashrifussuua illallahu bismillahi masya-allahi maa kaana min ni’matin faminallahi bismillahi masya-allahi laa haula walaa quwwata illa billahi. Artinya; Dengan menyebut nama Allah, segala sesuatu atas kehendak Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Segala sesuatu atas kehendak Allah, segala nikmat dari Allah. Segala sesuatu atas kehendak Allah, segala kebaikan atas kuasa Allah. Segala sesuatu atas kehendak Allah, tak ada yang mampu menghindarkan keburukan kecuali Allah.”

Baca Juga :  Amalan yang Bisa Menebus Dosa Seminggu

Ibnu Hajar al-‘Asqalani mengatakan bahwa sanad hadis ini bermasalah, menurut Mulla Ali al-Qari dalam kitab Asrar al-Marfu’ah fi al-Akhbar al-Maudhu’ah mungkin yang dimaksudkannya adalah hadis tersebut tidak shahih.

Sedangkan dalam al-Maqashid al-hasanah, Syamsuddin al-Sakhawi menerangkan bahwa hadis tersebut diriwayatkan secara marfu’ oleh Daruquthni dari jalur riwayat Ibnu Khuzaimah dari Ibnu Juraih dari ‘Atha dari Ibnu Abbas dari Ibnu Juraih.

Hadis yang berasal dari Ibnu Juraih terdapat dua jalur periwayatan, salah satunya munkar al-hadis yaitu salah satu perawinya terdapat banyak kelalaiannya dan tidak dapat dipercaya, sedang sanad yang lain lebih parah lagi kedhaifannya dari segi kualiatas si perawi.

Selain itu ditemukan pula dari jalur Abdul Aziz bin Abi Rawad, sanadnya dinilai mu’dhal yaitu dua orang perawi gugur secara berturut-turut sehingga sanad hadis ini terputus dan dinilai sebagai hadis yang dhaif.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here