Telaah Hadis: Memahami Hadis tentang Ru’ya Shalihah

0
185

BincangSyariah.Com – Di dalam Islam, seseorang yang bermimpi bisa ditafsirkan mimpinya berdasarkan isyarat-isyarat yang ada. Mimpi dalam bahasa arab disebut ru’ya yang berarti diperlihatkan. Makanya dalam beberapa istilah disebut dengan ru’ya fil manam, diperlihatkan ketika berada dalam kondisi tertidur. Mimpi sendiri jika merujuk dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan dengan bunga-bunga tidur. Artinya itu merupakan hiasan dan seni menikmati tidur. Namun terkadang mimpi menjadi tafsir atas akan terjadinya sesuatu.

Mimpi menjadi salah petanda-petanda dari petunjuk dari Allah Swt. Di dalam al-Quran sendiri, kisah Nabi Yusuf As dikenal dengan penafsir mimpi yang bisa menentukan suatu ‘nasib’ di masa mendatang. di dalam sebuah hadis Nabi Muhammad Saw dikatakan,

لا يبقى من بعدي من النبوة إلا المبشرات: قالوا يا رسول الله وما المبشرات ؟ قال الرؤيا الصالحة يراها الرجل لنفسه أو ترى له

Artinya tidak akan ada lagi  setelahku dari tanda-tanda kenabian, kecuali al-Mubasyarat. Para sahabat bertanya, “apa itu al-Mubasyyarat ya Rasulallah”?: Nabi menjawab yaitu mimpi yang baik di mana seseorang melihatnya sendiri atau diperlihatkan kepadanya.

Menurut sebagian para ahli tafsir, mimpi dari kalangan ulama Islam mengkategorikan mimpi sebagai bunga tidur itu ada dua macam. Ada yang bersifat cendrung kepada kebenaran dan ada yang condong kepada kekeliruan.

Menurut Ibnu Sirin, yang dinukil oleh Mahmud Tho’mah Halabi dalam Muntakhab al-Kalam fi Tafsir al-Ahlam mengatakan bahwa mimpi yang cendrung berarti benar adalah apa yang dilihat oleh seseorang bersama dengan adanya kesesuaian karakternya dan kelurusan hawa nafsunya. Artinya ia tidak bermimpi karena dilalui oleh satu kondisi pemikiran tertentu baik atau buruknya pikiran atau khayalan tersebut. Misalnya adanya harapan untuk bertemu seseorag di dalam mimpi.

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Jum’ah Ayat 9: Fokuslah Melaksanakan Salat dan Jangan Terbelenggu Dengan Dunia

Bagi Abdul Ghani al-Nablusi bahwa makna hadis ru’ya shalihah itu diartikan dengan mimpinya para nabi, ulama dan para wali Allah. Dengan kata lain, mimpi orang shalih atau wali Allah merupakan sebuah kebenaran baik pada mimpi atau orang yang mengalaminya. Ru’ya al-Shalihah ini sendiri seperti meyakini kepada hal yang ghaib seperti beriman kepada Allah, hari kiamat dan seterusnya. Hal ini sebagaimana apa yang terjadi pada Nabi ketika menerima wahyu. (Ta’thir al-Anam fi Ta’bir al-Manam, h. 3).

Di dalam sebuah hadis Nabi disebutkan bahwa ada seorang sahabat yang bertanya kepada Nabi tentang tafsir mimpinya. “Ya Rasulallah, saya bermimpi kepala saya terputus dan tergelinding dan saya mengejarnya?” bagaimana itu (dita’wil). Rasulullah Saw menjawab: “jangan kamu bicarakan mimpi mu itu. Karena bisa jadi itu hanya tipu daya syaitan saat kau sedang tertidur (sehingga membuat kamu memikirkannya). Lebih jauh, al-Nabulsi mengartikan hadis ini bahwa mimpi itu bisa jadi karena dorongan pribadi, dorongan jiwa seperti seseorang yang pengen sekali bertemu dengan sahabat, kekasihnya.

Dengan demikian bagi para ulama sebelum tidur dianjurkan untuk berwudhu, dan berdoa serta menggunakan pakaian yang layak agar terhindar dari mimpi-mimpi yang tidak diinginkan. Wallahu A’lam bi al-Showab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here