Telaah Hadis Kecendrungan Nabi pada Perempuan

0
262

BincangSyariah.Com – Hidup, katanya, selalu menyediakan dua sisi. Ada hal yang menyenangkan ada yang menyebalkan. hal pertama, tidak dipungkiri bahwa setiap orang punya kecendrungan padanya. Tiap orang berbeda kesenangannya bahkan untuk seorang Nabi Muhammad Saw.

Bagaimana kita tahu Nabi memiliki apa yang disenanginya? Berikut hadisnya:

أَخْبَرَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ عِيسَى الْقُومَسِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا عَفَّانُ بْنُ مُسْلِمٍ قَالَ: حَدَّثَنَا سَلَامٌ أَبُو الْمُنْذِرِ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «حُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ، وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ»

“Dari Anas bin Malik berkata, bahwa Rasulullah pernah bersabda: “hal yang paling saya senangi dari kehidupan dunia adalah perempuan, parfum. Dan dijadikan tenang hati saya (ketika) salat” (HR. an-Nasa’i).

Selain an-Nasa’i, redaksi hadis di atas di-takhrij juga oleh Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad, imam Dhiya’ ad-Din al-Maqdisi dalam al-Ahadits al-Mukhtarah dan selainnya.

Hadis ini telah dianalisis oleh al-suyuthi bahwa sanadnya hasan. Berbeda dengan penilaian Dhiya’ al-Dīn al-Maqdisi yang menyatakan bahwa hadis ini dhaif. Setelah penulis telaah lagi hadis ini terdapat banyak versi. Di antaranya apa yang di-takhrij oleh Dhiya’ ad-Din yang notabenenya ia dapatkan dari gurunya. Versi gurunya itulah yang ia dhaifkan. Barangkali ada masalah dalam rawi-rawi via guru Dhiya’ ad-Din.

Secara umum hadis dengan redaksi seperti di atas derajatnya hasan. Seperti halnya riwayat Imam Ahmad. Dengan begitu hadis ini absah dalam penyandarnnya kepada Nabi Muhammad.

Dalam hadis, soal pemahaman adalah hal terpenting. Dalam buku al-Turuq al-Shahīhah fi Fahm as-sunnah an-Nabawiyah, almarhum K.H. Ali Mustafa Yaqub menjelaskan pentingnya metode dalam memahami hadis antara kontekstual dan tekstual.

Baca Juga :  Doa Agar Terhindar dari Stroke

Pemahaman tersebut bisa didapat dengan menggunakan syarah hadis yang berkaitan. Dalam konteks hadis di atas, Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami’ al-Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa kesenangan Nabi merupakan hal yang bersifat duniawi. Sedangkan salat (ketenangan) bukan bersifat duniawi melainkan ukhrawi.

Kesenangan pada perempuan adalah hal lumrah. Setiap lelaki dewasa punya hasrat, penasaran akannya. Kesenangan berada di wilayah pilihan. Dalam konteks kehidupan Nabi Muhammad, kenapa beliau memilih perempuan? Jika hadis ini dipahami pada level hasrat, maka kita akan menghakimi nabi sebagai “gila” perempuan. Tapi, hadis ini tak hanya soal perempuan. Ada parfum dan salat.

Dalam versi sejarah, Nabi Muhammad hanya menikahi seorang perawan: Aisyah RA. Selain itu istri-istrinya para janda. Maka kesenangan nabi bukan soal “hasrat” semata, dunia ini begitu luas untuk pemikiran begitu. Istri-istri Nabi Muhammad mempunyai posisi sosial tinggi. Sebut saja Shofia binti Huyay bin Ahtab, putri ketua sebuah klan (kabilah).

Lewat jalur pernikahan, Nabi membangun kekuatan dari antar klan untuk membentengi diri dari serang luar (Persia, Romawi). Di sini hadis di atas dipahami secara kontekstual yaitu konteks politik.

Di sisi lain, pemahaman hadis Nabi bisa dipahami dengan hadis lain. Sebagaimana dikenal al-Hadis yufassiru ba’dhuhu ba’dhan (satu hadis menjelaskan hadis lain) yang juga bisa disebut interkonektifitas hadis.

Kesenangan Nabi dan para sahabat berbeda. Terdapat hadis dalam Shahih Ibnu Hibban, bahwa ada sahabat yang menuturkan “hal yang saya senangi adalah unta.” Dari uraian jelas bahwa kesenangan nabi berkaitan dengan kosmologi kabilah arab Quraisy. Karena saat itu Nabi Muhammad adalah pemimpin dalam soal agama dan dunia bagi orang Arab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here