Telaah Hadis: Hadis Keutamaan Diam, Penting Untuk Kita yang Masih Sembarangan Berbicara

1
1004

BincangSyariah.Com – Betulkah ada hadis keutamaan diam? Dalam kitab Bulugh al-Maram, disebutkan hadis tersebut terdapat dalam riwayat al-Baihaqi di dalam Syu’ab al-Iman, dari Anas bin Malik ra.,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: الصمت حكمة وقليل فاعله

Rasulullah Saw. bersabda: diam itu hikmah, sedikit sekali yang melakukannya.

Ibn Hajar al-‘Asqalani mengomentari bahwa hadis ini statusnya lemah. Namun, sabda ini sah disandarkan kepada Luqman al-Hakim, seorang bijak bestari yang namanya direkam sebagai salah satu nama surah dalam Al-Qur’an.

As-Shan’ani dalam karya syarahnya terhadap kitab Bulugh al-Maram, yang berjudul Subul as-Salam, kisah ungkapan “diam itu hikmah” itu terdapat dalam kisah antara Luqman al-Hakim dengan Nabi Dawud As. Diceritakan, suatu ketika Luqman al-Hakim hadir menemui Nabi Dawud As. Luqman lalu melihat Nabi Dawud As. sedang memamerkan baju zirahnya, dimana modelnya sangat bagus sehingga Luqman sendiri belum pernah melihat yang seperti itu. Karena ketakjubannya, Luqman awalnya terdorong untuk bertanya tentang baju Zirah Nabi Dawud As itu, tapi hikmah membuatnya menahan diri melakukannya. Lalu saat Nabi Dawud selesai melihat baju Zirah itu, ia lalu menemui Luqman al-Hakim dengan memakai baju zirah tersebut lalu mengatakan: “baju zirah yang enak sekali untuk berperang.” Lalu Luqman berkata, “diam itu (memang mengandung) hikmah. Sebagai salah satu pendapat, menurut Syaikh Shalih bin al-‘Utsaimin, maksud dari al-Hikmah adalah “mendudukkan sesuatu sesuai pada tempat dan kondisinya.” Sehingga yang dimaksud disini adalah bukan diam tidak pernah berbicara sama sekali.

Lanjut As-Shan’ani, meskiput hadis ini lemah, namun ada banyak sekali riwayat baik dari hadis Nabi Saw. maupun ungkapan-ungkapan para ulama, ahli fikir, dan sastrawan tentang keutamaan diam dibandingkan berbicara. Yang dimaksud diam lebih utama dari berbicara disini adalah berbicara sesuatu yang berlebihan dan tidak ada manfaatnya. Ada satu ungkapan yang disebut-sebut adalah nasihat Luqman al-Hakim kepada anaknya, seperti disebutkan Az-Zamakhsyari dalam Rabi’ al-Abrar,

يا بني إذا افتخر الناس بحسن كلامهم، فافتخر أنت بحسن صمتك

Baca Juga :  Hadis tentang Allah Tidak Pernah Zalim

Wahai Anakku, jika orang-orang berbangga dengan ucapan-ucapan mereka yang menawan, maka berbanggalah engkau dengan menawannya diammu.

Bahkan, Allah sendiri juga berfirman di dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa’: 114 tentang persoalan banyak berbicara ini. Karena pembicaraan yang tidak ada manfaatnya itu tidak ada habisnya, dan Allah menyatakan pembicaraan itu yang tepat hanya berisi salah satu dari tiga hal yaitu: ajakan untuk bersedakah/berbagi, ungkapan yang baik, dan memperbaiki masyarakat

لَّا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Tidak ada kebaikan pada bisikan-bisikan kalian, kecuali yang berisi perintah untuk bersedakah, ucapan yang ma’ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia. Dan siapa yang melakukan hal-hal demikian (semata) karena mencari ridha Allah, maka kelak Kami akan memberikan kepadanya pahala yang besar.

Semoga kita bisa banyak berdiam diri untuk tujuan-tujuan yang baik, dan berbicara hal-hal yang baik untuk kemanusiaan. Amiin.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here