Telaah Hadis: Benarkah Kematian Mendadak adalah Tanda Kiamat ?

0
4043

BincangSyariah.Com – Ada satu riwayat dalam hadis Nabi Saw., yang disebutkan kalau  kematian mendadak adalah diantara tanda kiamat ? Sebelum lebih lanjut membahas riwayat tersebut, kita tahu bahwa kematian adalah sesuatu yang niscaya bagi makhluk hidup, termasuk manusia. Meski niscaya, namun kedatangannya selalu menjadi misteri bagi kehidupan manusia. Allah Swt. berfirman dalam surat al-Jum’ah: 8,

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Katakanlah sesungguhnya kematian yang engkau lari darinya itu, sejatinya akan tetap menemui kalian. Kemudian kalian akan dikembalikan kepada Allah Yang Maha Mengetahui yang Tersembunyi dan Terlihat. Lalu Dia akan mengabarkan apa yang kalian dahulu kerjakan.

Manusia tidak ada satupun yang tahun, berapa lama hakikatnya ia hidup dunia. Meskipun sebagian orang bisa didahului oleh sakit terlebih dahulu, namun itu tidak menjadi tanda mutlak bahwa seseorang yang sakit memiliki kematian lebih cepat dari yang segar bugar. Allah berfirman dalam surah Ali ‘Imran [3]: 185,

كل نفس ذائقة الموت

setiap yang memiliki nyawa (pasti) merasakan kematian.

Orang yang segar bugar bisa saja mengalami kematian mendadak. Terkait kematian mendadak, ada satu riwayat yang mengatakan katanya kematian mendadak adalah diantara tanda kiamat. Riwayat disebut-sebut adalah hadis yang diriwayatkan oleh At-Thabrani dari Anas bin Malik,

 إن من أمارات الساعة أن يظهر موت الفجأة

sesungguhnya diantara tanda-tanda kiamat adalah munculnya kematian yang tiba-tiba.

Jadi secara zahir, makna yang bisa disimpulkan dari hadis ini adalah peristiwa kematian mendadak adalah tanda-tanda (amaaraat) kiamat. Tapi benarkah memang begitu saja maknanya ?

Salah satu metode pemahaman hadis yang perlu ditekankan sebelum siapa saja “mencoba” berdalil dengan menggunakan hadis, perlu mengetahui bahwa bisa saja hadis memiliki pertentangan makna-makna dengan hadis yang lain atau ayat Al-Qur’an. Maka, untuk memahaminya adalah jalan keluarnya dengan melakukan al-Jam’u, al-Naskh (menganulir satu dalil karena masa turunnya paling pertama), dan yang terakhir adalah at-Tarjih (menentukan mana yang paling kuat diantara dalil yang saling bertentangan.

Kembali ke hadis diatas. Penulis tidak menemukan redaksi yang persis diatas dalam karya-karya At-Thabrani. Meskipun, disebut hadis tersebut terdapat dalam riwayat At-Thabrani dalam sejumlah kitab hadisnya, seperti al-Mu’jam as-Shaghir dan al-Mu’jam al-Awsath. Ini seperti yang disebutkan dalam Majma’ az-Zawaid karya ‘Ali bin Abu Bakar al-Haitsami. Oleh al-Haitsami, hadis tersebut pun dinilai sebagai hadis yang lemah karena ada perawi dalam jalur sanadnya bernama al-Haitsam bin Khalid al-Mayshi.

Selain itu, ada hadis lain yang menjelaskan kalau banyaknya kematian adalah diantara tanda kiamat. Hadis tersebut disebutkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ اسْتَعَاذَ مِنْ سَبْعِ مَوْتَاتٍ مَوْتِ الْفَجْأَةِ وَمِنْ لَدْغِ الْحَيَّةِ وَمِنْ السَّبُعِ وَمِنْ الْغَرَقِ وَمِنْ الْحَرْقِ وَمِنْ أَنْ يَخِرَّ عَلَى شَيْءٍ أَوْ يَخِرَّ عَلَيْهِ شَيْءٌ وَمِنْ الْقَتْلِ عِنْدَ فِرَارِ الزَّحْفِ

Dari Abdullah bin ‘Amr, dari Nabi Saw. bahwasanya beliau memohon perlindungan dari tujuh perkara mematikan: kematian mendadak, dipatuk ular, hewan buas, tenggelam, kebakaran, jatuh dari suatu bangunan atau tertimpa sesuatu, dan mati ketika lari dari medan peperangan.

Namun, hadis ini juga dinilai lemah oleh para ulama, karena dalam hadis ini salah seorang perawinya ada Abdullah bin Lahi’ah yang dikenal sebagai rawi yang lemah.

Meskipun hadis tersebut lemah, namun Nabi Saw. sendiri seperti disebutkan dalam Shahih Muslim pernah berdoa memohon perlindungan dari beberapa hal, termasuk kemurkaan yang datang tiba-tiba (termasuk kematian). Doa ini diceritakan oleh Abdullah bin ‘Umar,

كانَ مِن دُعَاءِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ: اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بكَ مِن زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

Diantara doa Rasulullah Saw.: Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat-Mu, kesehatan menjadi hilang, kemurkaan yang datang tiba-tiba, dan semua bentuk kemurkaan-Mu.

Terlepas dari apakah kematian mendadak itu merupakan tanda kiamat atau bukan, kalaupun memang benar merupakan tanda kiamat, maka apakah kematian mendadak itu buruk sama sekali ?

Dalam hadis lain, Rasulullah Saw. bersabda bahwa kematian mendadak itu ketenangan bagi orang beriman dan murka bagi orang kafir,

موت الفَجْأة راحة للمؤمن وأسفة للفاجر

kematian mendadak itu ketenangan bagi orang beriman dan murka bagi orang kafir.

Hadis ini disebutkan dalam riwayat Abu Dawud. Lalu kapankah kematian mendadak itu ketenangan bagi orang yang beriman dan kemurkaan bagi orang kafir ?

Jawabannya adalah bergantung bagi orang itu sendiri. Orang yang beriman, yang menyadari bahwa kematian adalah sesuatu yang niscaya bagi seorang manusia, dan ia meyakini bahwa orang beriman itu harus menata sebaik mungkin kehidupan di dunia agar di akhirat. Maka kematian adalah ketenangan bagi orang beriman. Imam An-Nawawi mengisahkan seperti dikutip oleh Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari bahwa para Nabi dan orang-orang shalih dahulu kematiannya juga mendadak, dalam arti tidak melewati sakit terlebih dahulu.

Sementara bagi orang yang yang jahat, membangkang kepada Allah, maka kematian adalah diantara bentuk kemurkaan Allah baginya. Demikian dijelaskan ‘Ali al-Qari seperti disebutkan dalam ‘Aunu al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud. Banyak dari para ulama menafsirkan kata asfah atau aasifah dalam hadis tersebut dengan makna “tidak mempersiapkan diri”.

Semoga kita semua diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah, Amiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here