Telaah Hadis: Apa Maksud Hadis Istri Sujud Kepada Suami ?

3
867

BincangSyariah.Com – Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap pentingnya institusi keluarga.Oleh karena itu, berbagai permasalahan keluarga dari mulai memilih pasangan, pendidikan anak, ketaatan kepada suami secara komprehensif dibahas didalamnya. Beberapa permasalahan ini lengkap dibahas dalam Al-Qur’an dan hadis.

Kerap ditemui dalam beberapa kajian hadis bahwa pemahaman terhadap perempuan sering kali muncul dengan klaim yang menuding bahwa Islam mendiskriminasi dan mengisolasi perempuan. Ada beberapa hadis yang terkesan disampaikan untuk merendahkan perempuan. Hal ini karena pemahamannya hanya sepenggal tanpa membandingkan terhadap hadis lain. Salah satunya adalah hadis istri sujud kepada suami. Sebagian kalangan mengatakan bahwa hadis ini dhaif karena isi hadis yang terkesan merendahkan perempuan. Apa faktor yang menyebabkan kedhaifannya? lantas bagaimana memahami hadis ini?

Sumber dan Riwayat Hadis

Hadis tentang sujud kepada suami terdapat dalam berbagai sumber.  Diantaranya dalam kitab Sunan At-Tirmidzi, Sunan Al-Baihaqi, Sunan Ibn Majah, Shahih Ibn Hibban, Musnad Ahmad, Mushannaf Ibn Abi Syaibah, As-Sunan Al-Kubra dan Al-Mustadrak. Akan tetapi, pada intinya semua riwayat ini menceritakan tentang pengandaian Nabi tentang sujud istri kepada suami. Namun ada riwayat yang berbeda yaitu penambahan redaksi hadis mengenai perintah sujud seorang istri kepada suami dan menjilat nanah dan darah yang ada ditubuhnya.  Maka dari sini akan dipilih 2 redaksi matan hadis,

Redaksi pertama

قَالَ  : لا يَصْلُحُ لِبَشَرٍ أَنْ يَسْجُدَ لِبَشَرٍ ، وَلَوْ صَلُحَ لِبَشَرٍ أَنْ يَسْجُدَ لِبَشَرٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا مِنْ عِظَمِ حَقِّهِ عَلَيْهَا ، وَاَلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ كَانَ مِنْ قَدَمِهِ إلَى مَفْرِقِ رَأْسِهِ قُرْحَةً تَنْبَجِسُ بِالْقَيْحِ وَالصَّدِيدِ ثُمَّ اسْتَقْبَلَتْهُ تَلْحَسُهُ مَا أَدَّتْ حَقَّهُ.

Tidak pantas seorang manusia bersujud kepada manusia yang lain. Andaikan pantas, maka akan aku perintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya , sebab besarnya hak suami atas istrinya. Demi dzat yang menguasai jiwaku, jika sekuhur tubuh seorang suami mengalir najis, baik dari nanah maupun darah, kemudian sang istri menjilatinya, maka hal itu belum dapat memenuhi haknya.”

Baca Juga :  Larangan Membicarakan Urusan Dunia di dalam Masjid

Redaksi kedua

يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ ابْنَتِي قَدْ أَبَتْ أَنْ تَتَزَوَّجَ فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَطِيعِي أَبَاكِ فَقَالَتْ: وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا أَتَزَوَّجُ حَتَّى تُخْبِرَنِي مَا حَقُّ الزَّوْجِ عَلَى زَوْجَتِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  حَقُّ الزَّوْجِ عَلَى زَوْجَتِهِ، أَنْ لَوْ كَانَتْ قَرْحَةٌ فَلَحَسَتْهَا مَا أَدَّتْ حَقَّهُ

Wahai Rasulullah! Anakku ini tidak mau menikah.” Patuhilah bapakmu,” balas Rasul. “Demi dzat yang mengutusmu dengan kebenaran,aku tidak akan menikah hingga anda menjelaskan kepadaku perihal hak suami dan istrinya?” Jawab sang anak. Rasulullah bersabda : “ Diantara hak suami atas istrinya adalah jika ada nanah disekujur tubuhnya, kemudian dia (istri) menjilatnya, maka hak itu belum memenuhi kewajibannya yang menjadi hak suaminya.”

Kualitas Hadis

Dalam riwayat pertama, hadis ini terdapat dalam kitab Musnad Ahmad. Para kritikus hadis menilai para perawi dalam riwayat ini dinilai tsiqoh dan shaduq. Namun ada satu perawi yang dinilai ikhtilath. Hafalan beliau menjelang akhir hayatnya mulai melemah. Dalam ilmu hadis, perawi yang lemah maka periwayatannya dipertimbangkan, jika hadis diriwayatkan sebelum ikhtilath maka diterima dan sebaliknya jika diriwayatkan setelah ikhtilath maka tidak diterima. Namun tidak ditemukan data mengenai periwayatan ini, apakah sebelum atau setelah beliau ikhtilath? Pendapat yang sama dalam komentar Syu’aib Al-Arna’uth terhadap riwayat hadis dalam kitab musnad ahmad.

Dalam riwayat kedua, hadis ini terdapat dalam kitab As-Sunan Al-Kubra, Al-Mustadrak dan Shahih Ibn Hibban. Para kritikus hadis menilai para perawi hadis ini dinilai tsiqoh kecuali Rabiah bin Usman. Menurut Yahya bin Ma’in, beliau dinilai tsiqoh, sedangkan An-Nasai menilai Laisa Bihi Ba’sun. Ada komentar lain dari Abu Hatim , beliau menilai munkar al-hadis lakin yuktabu hadisuhu (hadis munkar atau rawi unkar namun hadisnya masih ditulis). Ulama hadis berbeda pendapat mengenai hadis ini , Al-Hakim menilai hadis ini shahih sedangkan Ad-dzahabi menilainya dhaif.

Walaupun 2 riwayat ini lemah, akan tetapi banyak riwayat yang semakna dengan matannya terkhusus hadis tentang pengandaian istri sujud dengan suami. Hal ini bisa membantu riwayat pertama yang lemah naik derajatnya menjadi hadis hasan li ghairihi. Akan tetapi, hadis mengenai menjilat nanah dan darah suami tetap dikatakan lemah karena tidak ada riwayat yang menguatkan.

Baca Juga :  Sahihkah Hadis Dukhon Terjadi Tanggal 15 Ramadhan ?
Pemahaman Matan/Konten Hadis

Sebelumnya telah dijelaskan mengenai kualitas hadis ini. Langkah selanjutnya yaitu memahami matan hadis atau biasanya disebut sebagai fiqhul hadis. Menurut Prof. KH. Ali Mustafa Ya’qub Allahu Yarham, pemahaman hadis tidak mesti dipahami secara tekstual adakalanya beberapa hadis  dipahami dengan menggunakan beberapa metode. Diantaranya menggunakan pendekatan asbabul wurud.

Hadis tentang pengandaian sujud istri kepada suami ini dianggap sebagai hadis misoginis dan sering diklaim sebagai bentuk merendahkan perempuan, benarkah pemahamannya seperti itu?

Kesalahpemahaman dalam suatu hadis itu bukan berangkat dari ketidakmampuan memahami. Kesalahpahaman hadir dari dari pemahaman sepenggal terhadap hadis itu  dan tidak membandingkan dengan hadis lain dalam teks yang sama tetapi dalam konteks berbeda.

Hadis sujud ini memiliki asbabul wurud yang berbeda-beda. Hal ini yang menjadikan pemahaman terhadap hadis kehilangan konteks. Hadis sujud ini adalah penggalan hadis panjang yang mendahuluinya. Imam Ahmad meriwayatkan lengkap hadist ini dalam musnadnya.

Suatu hari, unta yang digunakan salah satu keluarga kaum Anshar untuk melayani kebutuhan mengangkut air dan menyiram tanaman tiba tiba menjadi liar.  Akhirnya aktivitas mereka menjadi terganggu. Lalu mereka menghadap Rasulallah untuk mengadu. Mendengar itu, Rasulullah langsung menuju salah satu pagar kebun dimana unta liar berada.

Melihat hal itu, sahabat Anshar melarang Rasulullah untuk mendekat dikhawatirkan akan ditendang. Ternyata semua baik-baik saja. Setelah Rasul mendekat dan melihat unta itu, Unta itu tertunduk dan Rasulullah memegang ubun-ubun, dan tiba-tiba unta itu bersujud  kepada Rasulullah, akhirnya unta itu bisa kembali melayani penduduk Anshar. Melihat unta sujud, para sahabat Anshar berguman, unta yang tidak berakal saja sujud sama Rasul, kenapa kita yang berakal tidak. Akhirnya sahabat Anshar mohon izin sujud kepada Rasul. Lalu hadirlah sabda mengenai pengandaian sujud istri pada suami.

Baca Juga :  Tafsir Surat Yasin [36] 13: Kisah Ashabul Qaryah

Melihat hal ini dapat disimpulkan bahwa hadis ini bisa dipahami sebagai bentuk peringatan Rasul  bahwa sujud dan menghamba tidak boleh, kecuali hanya kepada Allah. Sebagaimana praktek masyarakat terhadap penguasanya ketika itu. Bahkan Nabi yang jasanya jaun lebih besar dari suami, bahkan dari seluruh manusia, tidak minta dan tidak memberi izin umatnya bersujud. Makna yang dituju dalam hadis ini adalah seorang istri senantiasa taat terhadap suami. Kewajiban suami ketika itu sangat besar untuk memenuhi hak istri, maka istri berkewajiban membalas dengan kewajiban itu dan begitu pula sebaliknya. Kemudian Rasulullah metamsilkan dengan sujud pada suami dalam hadis ini. Memenuhi kewajiban suami ini sebagai bentuk kerja sama keduanya. Hadis ini menunjukkan nasehat kepada suami istri agar saling menjaga rumah tangga agar hidup bahagia.

Wallahu A’lam Bisshawab.

3 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Di kalangan masyarakat Indonesia, biasanya para istri memanggil suaminya dengan panggilan ‘Mas, Kakak, Abang’ atau lainnya. Namun juga ada sebagian istri yang memanggil suaminya dengan nama aslinya. Misalnya, suaminya bernama Ahmad, istrinya memanggil Ahmad, bukan ‘Mas’ atau lainnya. Bagaimana hukum istri memanggil suaminya dengan nama aslinya, apakah dilarang dalam Islam? (Baca: Telaah Hadis: Apa Maksud Hadis Istri Sujud Kepada Suami?) […]

  2. […] BincangSyariah.Com – Di kalangan masyarakat Indonesia, biasanya para istri memanggil suaminya dengan panggilan ‘Mas, Kakak, Abang’ atau lainnya. Namun juga ada sebagian istri yang memanggil suaminya dengan nama aslinya. Misalnya, suaminya bernama Ahmad, istrinya memanggil Ahmad, bukan ‘Mas’ atau lainnya. Bagaimana hukum istri memanggil suaminya dengan nama aslinya, apakah dilarang dalam Islam? (Baca: Telaah Hadis: Apa Maksud Hadis Istri Sujud Kepada Suami?) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here