Telaah Hadis 10 Hari Terakhir Nabi Mengakhirkan Buka Puasa sampai Waktu Sahur

0
2026

 

BincangSyariah.Com – Judul tersebut, yaitu 10 hari terakhir Ramadan Nabi mengakhirkan buka puasa sampai waktu sahur, berangkat sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Abi ‘Ashim seperti dikutip oleh Ibn Rajab al-Hanbali dalam karyanya Lathaif al-Ma’arif fiimaaa li Mawaasim al-‘Aam min al-Wazhaaif, dari ‘Aisyah Ra.

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا كان رمضان قام ونام، فإذا دخل العشر شدّ المئزرـ واجتنب النساء، واعتسل بين الآذانين، وجعل العشاء سحورا

Rasulullah Saw. itu ketika berada di bulan suci Ramadan, beliau banyak shalat dan (menyedikitkan tidur), lalu saat masuk sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan, beliau mengencangkan sarungnya, menjauhi istrinya, mandi di antara dua isya’ (maghrib dan isya’), dan menjadikan makan malamnya (al-‘asyaa’) di waktu sahur. (H.R. Ibn Abi ‘Aashim)

Ibn Rajab al-Hanbali menyebut kalau hadis ini sanadnya Muqaarib, sebuah istilah dalam kajian sanad hadis untuk menyebut riwayat yang tidak terlalu kuat, atau tingkatan paling rendah dari hadis yang sahih. Selanjutnya, Ibn Rajab menyebut sekian riwayat yang senada dari hadis tersebut, namun umumnya statusnya lemah. Misalnya hadis riwayat at-Thabrani dari Anas yang memiliki redaksi semakna dengan hadis diatas, menurut Ibn ‘Addi hadisnya adalah munkar. Ia menyatakan, haadza al-hadiits min ankara maa ra’aytu lahuu (hadis ini termasuk yang paling buruk yang pernah saya saya lihat). Begitu juga riwayat Jabir yang diriwayatkan oleh Abu Bakar al-Khatib al-Baghdadi, di dalam sanadnya ada perawi yang tidak dikenal statusnya (majhul-ul-haal),

Dari hadis tersebut, tergambar bahwa di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, Nabi Saw. diceritakan memundurkan makan malamnya (atau bisa jadi juga menggabungkan) sampai waktu sahur. Sejauh penelusuran penulis, tidak ada keterangan lebih lanjut apakah Nabi Saw. berbuka dulu sedikit, lalu makan makanan yang berat di waktu sahur. Wallahu A’lam.

Namun, di dalam riwayat lain yang shahih, misalnya dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim, Nabi Saw. pernah menyatakan pelarangan kepada umatnya untuk berpuasa tidak berhenti-henti (tidak mau berbuka). Ini disebut dengan puasa al-Wishol. Namun, disebutkan Rasulullah sendiri biasa melakukan puasa dengan model al-Wishol tadi. Berikut riwayatnya dari Abu Hurairah Ra.

Baca Juga :  Memahami Tafsir Alquran “Ummatan Washatan”

نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الوصال في الصوم. فقال له رجل من المسلمين: إنّك تواصل يا رسول الله ؟ قال: وأيكم مثلي ؟ إنّي أبيت يطعمني ربي ويسقيني

Rasulullah Saw. melarang untuk melakukan al-Wishol (puasa tidak berbuka). Lalu ada seorang laki-laki dari umat muslim yang bertanya, “Engkau puasa wishol tapi wahai Rasul?” Rasulullah menjawab: “siapa yang bisa menyamaiku? Sesungguhnya di waktu malam, Tuhanku memberi aku makan dan minum.”

Dari hadis ini, secara zahir nyatanya praktik Wishol, meskipun pada riwayat Ibn Abi ‘Ashim statusnya tidak terlalu kuat, namun dalam hadis yang shahih disebutkan Nabi Saw. melakukan hal tersebut meskipun ia melarang sahabatnya untuk mengikutinya.

Walhasil, ulama berbeda pendapat apakah mengakhirkan buka puasa sampai waktu sahur diperbolehkan atau tidak. Ulama berbeda pendapat apa maksud dari sabda Nabi Saw. kalau beliau “diberi makan dan minum oleh Allah.” Ibn Jarir at-Thabari berpendapat, intinya adalah Nabi Saw. bukan berarti tidak pernah berbuka selama 24 jam, tapi hanya sampai sahur saja. Itu dibolehkan, tapi bisa makruh jika orangnya tidak kuat. Termasuk makruh juga, kalau orang meneruskan puasanya di waktu malam dengan alasan ibadah (taqarrub) menurut sebagian ulama. Sebagian memahami bahwa, boleh mempraktikkan wishol dalam arti tidak makan sampai waktu sahur jika niatnya agar ibadah lebih rajin, dan menghindari ketidakfokusan akibat perlu mulai kenyang. Beberapa yang berpendapat demikian adalah Imam Ahmad dan Imam Ishaq bin Rahawaih.

Kesimpulannya adalah, menyatakan bahwa Nabi Saw. mengakhirkan buka puasa sampai sahur tersebut memang ada jejaknya di dalam hadis, meskipun riwayat yang mengatakan Nabi melakukan itu di 10 hari terakhir bulan Ramadan masih . Rasulullah Saw. namun umumnya melarang orang melakukannya jika dampaknya justru tidak bisa ibadah. Kalaupun mau dilakukan, ia tidak boleh dilakukan melebihi batas waktu sahur, sampai tidak boleh meyakini bahwa menunda makan berbuka puasa sampai waktu sahur itu adalah bentuk ibadah yang diperintahkan. Yang boleh adalah, berharap agar ibadah rajin dengan mengurangi makan lebih lama lagi. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here